Kehilangan Putri yang Tidak Diterima oleh Pihak Berwajib
Siti Sahadi Sahari (28) dinyatakan hilang oleh keluarganya setelah empat hari tidak memberi kabar. Ayahnya, Hamzah Sahari (71), melaporkan kehilangan putrinya ke polisi di Makassar, tepatnya di Polsek Panakkukang. Namun, laporan tersebut ditolak karena Siti sudah dewasa dan tidak termasuk dalam kategori orang hilang yang memenuhi syarat untuk dilaporkan.
Hamzah mengaku sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Ia berharap bisa segera menemukan keberadaan anak perempuan kesayangannya yang kini tidak tahu rimbanya. Saat ini, ia masih berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sambil terus mencari informasi mengenai keberadaan Siti.
Latar Belakang Siti Sahadi Sahari
Siti Sahadi Sahari adalah seorang wanita muda yang bekerja sebagai manajer di salah satu restoran F&B di Kota Makassar. Sebelum menjadi manajer, ia bergabung dengan cabang restoran yang sama di Gorontalo pada April 2025. Setelah melewati proses seleksi, hanya empat orang yang dinyatakan lulus, termasuk Siti. Enam orang lainnya kembali ke Gorontalo, sedangkan Siti dan tiga rekan lainnya dikirim ke Makassar untuk mengikuti pelatihan selama tiga bulan.
Setelah pelatihan selesai, Siti kemudian dipercaya menjadi manajer di gerai restoran F&B yang berada di Jl AP Pettarani, Kecamatan Panakkukang, Makassar, pada Agustus 2025. Awalnya, komunikasi antara Siti dan keluarganya di Gorontalo berjalan lancar. Namun, mulai bulan September 2025, hubungan komunikasi terputus. Nomor telepon Siti tidak aktif, dan keluarga tidak lagi bisa menghubunginya.
Isu Pernikahan yang Tidak Terwujud
Sebelum kehilangan kontak, Siti sempat bercerita kepada orang tuanya bahwa ada seorang pria yang ingin melamarnya. Pria tersebut disebut bekerja di salah satu rumah sakit di Makassar. Namun, Siti menyampaikan kepada ibunya bahwa ia belum siap untuk menikah karena baru saja bekerja dan orang tuanya juga masih sibuk.
Khawatir akan keadaan putrinya, Hamzah dan keluarganya mulai mencari informasi dari berbagai pihak, termasuk rekan kerja Siti di Makassar. Akhirnya, Hamzah terbang dari Gorontalo ke Makassar pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2026, dan tiba di kota tersebut.
Ia bertemu dengan kenalannya bernama H Idham, warga Jl Perintis Kemerdekaan Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Idham membawa Hamzah untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sambil mencari keberadaan anaknya.
Kekhawatiran atas Penyembunyian Informasi
Di hari pertama di Makassar, Hamzah dan Idham langsung menuju tempat kerja Siti di Jl Pettarani Makassar. Di sana, mereka menunggu setengah jam sebelum bertemu dengan manajer pengganti posisi Siti. Dari informasi yang didapat, Siti ternyata sudah keluar dan membawa kabur uang perusahaan.
Hamzah merasa curiga dengan informasi tersebut. Ia bertanya-tanya, mengapa pihak restoran tidak melaporkan Siti ke polisi jika memang ada masalah. “Jika anak saya membawa kabur uang perusahaan, kenapa tidak melaporkan anak saya,” keluhnya.
Hamzah yakin bahwa Siti bukanlah orang yang melakukan pencurian. Menurutnya, Siti dikenal baik sejak kecil hingga dewasa. “Saya yakin anak saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kalau memang ada masalah, seharusnya ada kejelasan. Sampai sekarang tidak ada penjelasan apa-apa, malah anak saya hilang kontak,” tegasnya.
Proses Pelaporan yang Tidak Memuaskan
Pada hari yang sama, tanggal 9 Maret 2026, Hamzah dan Idham menuju ke Polsek Panakkukang, Makassar, untuk melaporkan kehilangan anaknya. Namun, laporan mereka tidak diterima dengan alasan bahwa Siti sudah dewasa dan bukan termasuk orang dengan gangguan mental atau anak di bawah umur.
“Kami diarahkan untuk mencari informasi dulu, termasuk ketemu bhabinkamtibmas. Kami juga disuruh membuat selebaran foto dan ditulis orang hilang lalu di tempel atau di sebar luaskan,” ucap Hamzah.
Mengikuti saran polisi, Hamzah kemudian menemui bhabinkamtibmas dan menceritakan maksud dan tujuannya. Namun, bhabinkamtibmas yang ditemui hanya bisa membantu share ke media sosial karena bukan warganya.
Harapan dan Upaya Lanjutan
Hingga saat ini, Hamzah masih berada di Makassar dan terus mencari keberadaan Siti Sahadi Sahari. Ia hanya berharap ada pihak yang dapat membantu menemukan putrinya. “Saya cuma ingin tahu anak saya di mana. Kalau dia baik-baik saja, saya ingin dengar langsung. Saya sudah tua, hanya ingin memastikan anak saya selamat,” harapnya.
Apabila ada yang melihat keberadaan anaknya, silahkan hubungi nomor Hamzah 085166831755. Kasi Humas Polrestabes Makassar Kompol Wahiduddin pun mengatakan bahwa tidak semestinya laporan masyarakat ditolak. Ia akan mengecek langsung ke Polsek Panakkukang terkait kabar laporan Hamzah yang tidak diterima.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











