My WordPress Blog

Diskusi komunikolog dengan Jusuf Kalla: Kritik MBG dan Isu Geopolitik

Pertemuan Komunikolog dengan Jusuf Kalla

Pertemuan antara sejumlah komunikolog Indonesia dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, berlangsung di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta. Acara yang digelar pada hari Sabtu (15/3) pukul 16.30 WIB ini menjadi ajang dialog mengenai isu-isu komunikasi publik serta dinamika geopolitik global.

Dialog yang berlangsung tertutup hingga waktu berbuka puasa tersebut dihadiri oleh para akademisi dan praktisi komunikasi, seperti Emrus Sihombing, Prof. Gun Gun Heryanto, Effendi Gazali, Suko Widodo, Prof. Lely Arrianie, Hasrullah, Prof. Marlinda, Prof. Soraya, serta dua komika, Mo Sidik dan Adriano Qalbi.

Koordinator Komunikolog Indonesia, Suko Widodo, menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan bentuk silaturahmi sekaligus diskusi yang sering dilakukan bersama Jusuf Kalla. Ia menegaskan bahwa para komunikolog ingin agar pemerintahan berjalan sukses. Namun, mereka melihat adanya penurunan kualitas komunikasi pemerintah yang dirasakan masyarakat.

“Kami ingin pemerintahan ini berhasil. Tetapi hampir semua kami sependapat bahwa terjadi penurunan kualitas komunikasi pemerintah yang dapat dipahami rakyat. Ini perlu diperbaiki bersama agar pemerintahan dan bangsa kita berhasil,” ujarnya.

Bahas Posisi Indonesia Dalam Kerja Sama Internasional

Dalam pertemuan tersebut, isu nasional juga turut dibahas, termasuk posisi Indonesia dalam kerja sama internasional serta program strategis pemerintah. Pengamat komunikasi politik, Prof. Gun Gun Heryanto, menyampaikan bahwa mereka ingin mendengar langsung pandangan Jusuf Kalla terkait dinamika geopolitik, terutama konflik internasional dan upaya perdamaian.

Menurutnya, terdapat perdebatan di masyarakat terkait keterlibatan Indonesia dalam kerja sama BOP. Ia menilai perlu ada batas waktu yang jelas untuk melihat efektivitasnya.

“Presiden sudah menyampaikan bahwa jika BOP tidak sejalan dengan visi Indonesia, maka Indonesia bisa keluar. Kami menyarankan adanya deadline. Misalnya dua minggu ke depan tidak ada langkah konkret menuju perdamaian Palestina, maka Indonesia sebaiknya mempertimbangkan keluar,” ujarnya.

Komunikolog Indonesia berencana melanjutkan diskusi dengan sejumlah tokoh bangsa lainnya, termasuk akademisi Prof. Hotman Siahaan serta budayawan Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

“Diskusinya santai, terbuka. Bahkan ada praktisi komunikasi dari kalangan seniman seperti stand-up comedian. Harapannya makin banyak pihak yang ikut berdialog,” kata Gun Gun Heryanto.

Beri Masukan Kritis

Para komunikolog menegaskan akan terus memberikan masukan kritis demi mendukung keberhasilan pemerintahan di tengah tantangan nasional dan global yang semakin kompleks.

Prof. Lely Arrianie menyoroti maraknya kekerasan terhadap aktivis, termasuk kasus penyiraman air keras yang menurutnya harus diusut hingga ke aktor intelektualnya.

“Jangan hanya berhenti pada narasi atau retorika. Kasus teror seperti kepala babi busuk saja sampai sekarang belum jelas pengusutannya,” katanya.

Emrus Sihombing juga menyoroti dugaan penyimpangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta pemerintah segera membuka data secara transparan, termasuk terkait dugaan praktik “ternak yayasan” dalam pelaksanaan program tersebut.

“BGN sendiri sudah menyebut ada penyimpangan dalam bentuk ternak yayasan. Maka sebaiknya segera disampaikan yayasan mana saja yang terlibat agar masyarakat tidak berspekulasi,” kata Emrus.

Isu Ekonomi Global

Dalam diskusi tersebut, isu ekonomi global juga menjadi perhatian. Hasrullah menilai konflik yang melibatkan Israel dan Iran berpotensi berdampak pada kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia.

Peneliti komunikasi, Effendi Gazali menambahkan bahwa para komunikolog mendukung penuh keberhasilan pemerintah, namun tetap akan bersikap kritis. Ia juga menyinggung pesan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar para pembantu presiden tidak memberikan laporan asal bapak senang (ABS).

“Kami menyambut baik ajakan Presiden agar tidak ada laporan ABS. Jadi ketika berbicara kepada presiden jangan menjadi ‘kucing basah’,” ujarnya.


Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *