My WordPress Blog

Gelombang ketidakstabilan tata kelola proyek energi Sumbar, masyarakat terancam konflik

Tantangan Tata Kelola Proyek Energi di Sumatera Barat

Tata kelola proyek energi di Sumatera Barat (Sumbar) dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk sentralisasi pengambilan keputusan, minimnya partisipasi masyarakat, dan potensi konflik lokal. Hal ini menjadi perhatian serius bagi aktivis, akademisi, serta masyarakat yang terdampak oleh pembangunan proyek energi.

Dalam peluncuran buku Jeruji di Tanah Sendiri: Perlawanan Nagari dalam Kepungan Energi dan Kekuasaan, yang merupakan karya kolaboratif dari peserta KALABAHU 2025, isu-isu ini disampaikan secara lebih luas. Buku ini menampilkan kisah-kisah perjuangan masyarakat dalam mempertahankan tanah ulayat dan lingkungan mereka.

Proses Pembangunan yang Sentralistik

Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam, menjelaskan bahwa proses penetapan proyek energi sering kali dilakukan tanpa melibatkan masyarakat yang terdampak secara langsung. Ia menyoroti bahwa sejumlah proyek, seperti pembangunan pembangkit listrik panas bumi, ditetapkan melalui kebijakan pemerintah pusat tanpa adanya partisipasi yang memadai.

Menurut Tommy, hal ini menyebabkan masyarakat merasa dipaksa menerima proyek yang berpotensi memengaruhi ruang hidup mereka. “Banyak proyek yang diklaim sebagai energi bersih, tetapi prosesnya tidak partisipatif. Masyarakat seringkali hanya menjadi objek kebijakan, bukan pihak yang dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Konflik yang Terus Berlanjut

Akademisi Universitas Andalas, Dr. Apriwan, menilai bahwa persoalan utama pembangunan proyek energi juga berkaitan dengan tata kelola multilevel antara pemerintah pusat dan daerah. Ia memberikan contoh keberadaan PLTU Teluk Sirih di Bungus, yang dinilai tidak memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat sekitar.

“Masyarakat di Bungus tidak mendapatkan apa-apa dari keberadaan PLTU tersebut. Berapa megawatt yang mereka nikmati? Sementara mandat global menyatakan proses ini harus adil, kenyataannya justru terjadi sentralisasi dan seringkali melibatkan campur tangan militer,” ujarnya.

Sementara itu, akademisi lain dari Unand, Dewi Anggraini, menyoroti lemahnya peran negara dalam melindungi masyarakat dalam konflik agraria yang berkaitan dengan proyek energi. Menurutnya, dalam beberapa kasus, negara justru terlihat absen atau bahkan cenderung berpihak pada kepentingan investasi.

“Sebagian elit lokal justru terlibat mendukung proyek ekstraktif yang merugikan warganya sendiri. Hal ini menunjukkan relasi kekuasaan dalam pembangunan menempatkan masyarakat pada posisi yang paling rentan,” kata Dewi.

Pengalaman Masyarakat yang Terdampak

Kesaksian dari masyarakat juga menguatkan kondisi tersebut. Ayu Dasril (Dayu), perwakilan warga yang terdampak proyek pembangkit listrik panas bumi, menceritakan pengalamannya menghadapi tekanan sejak proyek itu disosialisasikan. Ia mengatakan, proses sosialisasi yang awalnya disampaikan sebagai program pembangunan berubah menjadi tekanan terhadap warga yang mempertanyakan dampak proyek.

“Masyarakat yang mencoba menyampaikan kritik atau mempertanyakan proyek seringkali menghadapi intimidasi, bahkan kriminalisasi. Aparat keamanan juga kerap dikerahkan ketika terjadi konflik antara masyarakat dan pihak proyek,” ujarnya.

Menurut Dayu, kondisi itu membuat banyak warga merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan keberatan. “Ketika masyarakat bertanya atau menyampaikan penolakan, responsnya bukan dialog, tetapi tekanan. Banyak warga yang akhirnya merasa tidak memiliki ruang untuk menyuarakan keberatan mereka,” katanya.

Proses Pembelajaran Langsung

Buku Jeruji di Tanah Sendiri dibuat dari proses pembelajaran langsung melalui metode live-in. Dalam metode ini, peserta KALABAHU tinggal bersama masyarakat di wilayah yang tengah menghadapi konflik ruang hidup.

Lima lokasi yang menjadi tempat pembelajaran tersebut yakni Nagari Kapa, Tapan, Pandai Sikek, Talang, dan Bungus. Di wilayah itu, para peserta menyaksikan secara langsung dinamika konflik agraria, tekanan proyek energi, serta berbagai bentuk perjuangan masyarakat dalam mempertahankan tanah ulayat dan lingkungan mereka.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *