My WordPress Blog

Di Balik Serangan ke Iran, Israel Miliki Pabrik Senjata Nuklir Rahasia di Dimona

Kekhawatiran Nuklir di Timur Tengah

Tegangnya situasi di kawasan Timur Tengah semakin memburuk setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Tujuan utama dari serangan ini adalah untuk melumpuhkan program nuklir Teheran yang dianggap mengancam keamanan wilayah tersebut. Namun, di tengah perhatian dunia pada Iran, muncul pertanyaan tentang status nuklir Israel sendiri yang selama ini sangat tertutup.

Fasilitas Nuklir Rahasia di Dimona

Salah satu tempat yang menjadi fokus perhatian adalah fasilitas nuklir rahasia di Dimona, yang diyakini sebagai pusat pengembangan senjata nuklir Israel. Lokasi ini telah lama menjadi sorotan, tetapi aksesnya sangat terbatas bagi inspeksi internasional. Bahkan, International Atomic Energy Agency (IAEA) belum pernah diberi izin untuk melakukan inspeksi resmi di sana. Selain itu, tidak ada kesepakatan pemantauan resmi antara Israel dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejarah mencatat bahwa pada 1960-an, beberapa ilmuwan Amerika Serikat pernah mengunjungi Dimona dan menyimpulkan bahwa program tersebut bersifat damai. Namun, sejak saat itu, tidak ada lagi bukti publik mengenai kunjungan inspektur Amerika ke lokasi tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, citra satelit menunjukkan adanya aktivitas pembangunan baru di kawasan Dimona, yang diduga sedang menjalani modernisasi besar-besaran.

Laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebutkan bahwa Israel tampaknya sedang meningkatkan situs reaktor di lokasi tersebut untuk memproduksi plutonium. Pada sebuah acara publik yang jarang terjadi di lokasi tersebut pada 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah menggunakan kawasan Dimona sebagai latar belakang saat memberikan peringatan kepada musuh-musuh negaranya.

Jumlah Senjata Nuklir Israel

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Senjata dan Nonproliferasi, Israel diperkirakan memiliki sedikitnya 90 hulu ledak nuklir. Jumlah bahan fisil yang mereka miliki bahkan cukup untuk memproduksi ratusan hulu ledak tambahan. Meski menjadi salah satu dari sembilan negara yang memiliki senjata pemusnah massal, Israel tercatat memiliki persenjataan terkecil kedua setelah Korea Utara.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa Israel memiliki kemampuan untuk meluncurkan hulu ledak tersebut melalui jet tempur, kapal selam, hingga rudal balistik darat. Berbeda dengan Iran yang menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) PBB, Israel adalah satu dari lima negara yang menolak menjadi penandatangan perjanjian tersebut.

Sejarah Pembangunan Senjata Nuklir Israel

Para pemimpin Israel bertekad membangun persenjataan nuklir untuk menjamin kelangsungan hidup negara itu segera setelah didirikan pada tahun 1948. Komisi Energi Atom Israel didirikan pada 1952, dengan ketua pertamanya Ernst David Bergmann. Bergmann mengatakan, bom nuklir akan memastikan Israel tidak akan pernah lagi digiring seperti domba ke tempat penyembelihan.

Israel mulai membangun lokasi pengembangan senjata nuklir pada 1958, di dekat kota Dimona di Israel selatan, menurut para peneliti. Laporan intelijen AS yang baru-baru ini dideklasifikasi dari Desember 1960 menyatakan bahwa proyek Dimona mencakup pabrik pengolahan ulang untuk produksi plutonium. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa proyek itu terkait dengan senjata nuklir.

Pada 1973, AS “yakin Israel memiliki senjata nuklir, berdasarkan keterangan Federasi Ilmuwan. Israel tidak termasuk di antara tiga lusin negara yang dianggap dilindungi oleh apa yang disebut payung nuklir AS. Perlindungan itu tidak hanya berfungsi sebagai pencegahan AS terhadap musuh, tetapi juga bertujuan untuk mendorong negara-negara tersebut agar tidak mengembangkan senjata nuklir mereka sendiri.

Apakah Senjata Nuklir Israel Pernah Digunakan?

Perpustakaan Virtual Yahudi yang dianggap sebagai salah satu ensiklopedia Yahudi terlengkap di dunia, telah mengutip laporan bahwa Israel mempersiapkan bom nuklirnya selama perang Arab-Israel tahun 1967 dan 1973, tetapi senjata tersebut tidak digunakan. Selama 50 tahun terakhir, terdapat beberapa laporan yang menyebutkan bahwa Israel telah menguji senjata nuklirnya di lokasi bawah tanah, termasuk di gurun Negev di Israel selatan.

Peristiwa yang paling menonjol terjadi pada September 1979, ketika sebuah satelit AS melaporkan kilatan ganda di dekat pertemuan Samudra Atlantik Selatan dan Samudra Hindia. Beberapa ilmuwan percaya, kilatan ganda tersebut kemungkinan besar merupakan hasil uji coba nuklir oleh Israel atau Afrika Selatan, atau mungkin oleh keduanya. Israel membantah keterlibatannya dalam insiden yang dikenal sebagai insiden Vela, sesuai nama satelit tersebut.

Buku harian Gedung Putih mantan Presiden Jimmy Carter, yang diterbitkan pada tahun 2010, menyebutkan bahwa keyakinan yang berkembang pada saat itu bahwa Israel telah menguji ledakan nuklir di dekat ujung selatan Afrika Selatan. Namun, hal itu tidak pernah terbukti, dan dokumen-dokumen yang relevan untuk insiden Vela masih dirahasiakan.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *