My WordPress Blog

SBY Waspadai Ancaman Perang Dunia III dan Bahaya Melemahnya APBN Akibat Konflik Timur Tengah

Peringatan SBY: Konflik Timur Tengah Bisa Memicu Perang Dunia III

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan peringatan serius mengenai potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara di podcast perdana “SBY Standpoint” bersama anggota Komisi I DPR RI, Rizki Natakusumah, ia menyoroti bagaimana konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran bisa berpotensi memicu Perang Dunia III.

SBY menyatakan bahwa ketegangan saat ini tidak lagi hanya sekadar konflik bilateral, melainkan telah menjadi perang regional yang melibatkan banyak pihak. Ia menyoroti adanya partisipasi pasukan proxy seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Houthi di Yaman. Hal ini menunjukkan bahwa konflik semakin kompleks dan sulit dikendalikan.

Ancaman Perang Dunia III dan Keterlibatan NATO

SBY secara khusus menyoroti serangan terhadap pos militer Inggris di Siprus. Ia memperingatkan tentang potensi aktifnya Pasal 5 NATO (Article 5 of NATO), di mana serangan terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi. Jika anggota NATO ikut terlibat dalam konflik tersebut, maka risiko perang skala besar akan meningkat drastis.

Ia juga menanyakan bagaimana dengan keterlibatan Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara dalam situasi ini. Menurut SBY, ancaman ini sangat berbahaya dan bisa membawa dampak global yang tidak terduga.

“Saya sering mengatakan, Perang Dunia III bisa terjadi meskipun sebenarnya bisa dicegah,” tegas SBY.

Selain itu, SBY mengkritik narasi “pergantian rezim” (regime change) di Iran yang digaungkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Berdasarkan sejarah intervensi militer di Irak, Afghanistan, dan negara-negara Arab Spring, ia menegaskan bahwa menggulingkan pemerintahan dari luar tidak akan pernah membawa kedamaian, justru akan menimbulkan penderitaan bagi rakyat sipil.

Dampak Ekonomi yang Mengerikan Bagi Indonesia

Lebih lanjut, SBY memperingatkan pemerintah Indonesia untuk siap menghadapi skenario terburuk jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Ancaman terbesar ada pada pasokan energi global. Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20 persen pasokan energi dunia (minyak dan gas), bisa tersumbat akibat perang.

Jika hal ini terjadi, harga minyak mentah dunia akan meroket tajam. Ini akan menjadi pukulan telak bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai negara net importer (pengimpor neto) minyak.

“Kita ini bukan lagi negara pengekspor minyak. Kita pengimpor. Produksi kita hanya sekitar 600.000 barel per hari, padahal kebutuhan kita jauh di atas itu. Kalau harga BBM dan gas dunia naik, siap tidak kita?” tanya SBY.

SBY menjelaskan dua pilihan sulit yang akan dihadapi pemerintah: menaikkan harga BBM dan Gas di dalam negeri yang akan memicu inflasi dan menyusahkan rakyat, atau menahannya dengan subsidi yang sangat besar. APBN kita ruang fiskalnya tidak lebar. Kalau harus menomboki subsidi karena harga minyak tembus 100 hingga 150 dolar per barel, defisit kita yang ratusan triliun bisa makin membengkak.

Seruan Diplomasi untuk Pemimpin Dunia

Di akhir perbincangannya, SBY menyayangkan tatanan dunia saat ini yang seolah membiarkan “hukum rimba” berlaku, di mana negara kuat bisa berbuat semaunya tanpa mengindahkan hukum perang dan hukum kemanusiaan internasional. Lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat konflik berlarut-larut seperti yang terjadi di Gaza, Palestina.

Ia mendesak agar para pemimpin dunia tidak tinggal diam dan kembali mengedepankan jalur diplomasi dan negosiasi. “Lebih bagus mencegah perang daripada memulai perang. Perang harus selalu menjadi jalan terakhir (the last resort), bukan pilihan pertama,” pungkas SBY.


Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *