Proses Pembongkaran Makam dan Autopsi Jenazah Gita Fitri Ramadhani
Pada Selasa (3/3/2026), warga Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, melakukan aksi memegang bendera kuning sebagai bentuk tuntutan keadilan atas kematian Gita Fitri Ramadhani (25) yang ditemukan meninggal di kebun Desa Talang Sawah. Aksi ini dilakukan dalam rangka proses pembongkaran makam dan pelaksanaan autopsi terhadap jenazah korban.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ratusan warga hadir untuk menyaksikan proses tersebut. Mereka menyampaikan tuntutan agar penanganan kasus kematian Gita dilakukan secara transparan dan tuntas. Teriakan warga terdengar lantang dengan kalimat seperti, “Kami butuh keadilan, banyak rekayasa, jika tidak ada titik terang kami akan melakukan yang lebih dari ini.”
Tuntutan Warga dan Penanganan Kasus
Kepala Desa Batu Bandung, Iwan Trabas, menjelaskan bahwa tuntutan warga hanya meminta keadilan agar tidak ada lagi fitnah baik dari keluarga maupun pihak luar. Salah satu asumsi liar yang muncul adalah bahwa korban merupakan wanita hamil di luar nikah, lonte, dan mucikari. Namun, hal tersebut sudah terjawab melalui pemeriksaan awal yang menunjukkan tidak ada unsur kehamilan.
Untuk langkah menindak lanjuti fitnah yang timbul, diserahkan kepada pihak keluarga dan penasehat hukum. Iwan mengatakan, “Masalah ini sudah kita serahkan kepada pihak hukum pihak keluarga, kita berdoa semoga dengan adanya autopsi ini dapat terpuaskan serta tidak ada lagi fitnah dan kita tunggu hasil autopsi ini.”
Proses Autopsi yang Berlangsung Lancar
Dokter Marlis Tarmizi menjelaskan bahwa proses autopsi terhadap jenazah Gita Fitri Ramadhani dilakukan dalam bentuk ekshumasi, yaitu menggali kuburan dan melakukan pembedahan jenazah. Proses ini berlangsung selama sekitar empat jam dan disaksikan oleh keluarga korban serta penasihat hukum korban.
Dari proses autopsi tersebut, dokter mengambil sampel berupa organ jantung dan cairan sisa makanan yang berada di lambung. Sampel yang diambil akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter Marlis mengungkapkan bahwa kondisi jasad korban saat pengambilan sampel sudah mengalami pembusukan lanjutan, sehingga membuat penilaian menjadi lebih sulit.
Pembongkaran Kuburan dan Proses Autopsi
Sebelumnya, Polres Kepahiang membongkar kuburan Gita Fitri Ramadhani pada Selasa (3/3/2026). Korban sebelumnya ditemukan tewas di kebun pepaya Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, pada Rabu dini hari (4/2/2026). Pembongkaran kuburan bertujuan untuk keperluan autopsi lanjutan dalam pengusutan kasus kematiannya.
Proses pembongkaran jenazah turut dibantu oleh warga setempat sebelum kemudian dilakukan autopsi oleh tim kepolisian. Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan warga Desa Batu Bandung hadir dan menyampaikan solidaritas kepada keluarga korban. Warga membawa bendera kuning sebagai simbol duka sekaligus bentuk desakan agar penanganan kasus kematian Gita Fitri dilakukan secara transparan dan tuntas.
Diduga Tersengat Listrik
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal pihak rumah sakit, korban diduga meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik. Kasat Reskrim Polres Kepahiang, Iptu Bintang Yudha Gama, menjelaskan bahwa penyidik telah menetapkan satu orang tersangka berinisial MK dalam kasus tersebut. Tersangka dijerat Pasal 474 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
Meski hasil visum dinilai telah memberikan gambaran penyebab kematian, pihak kepolisian tetap memutuskan untuk melakukan autopsi sebagai bentuk itikad baik dan untuk memberikan kepastian hukum kepada keluarga korban.
Kejanggalan dalam Kematian Gita Fitri
Sementara itu, Kepala Desa Batu Bandung, Iwan Trabas, mengungkapkan kejanggalan tewasnya Gita Fitri Ramadhani pada Rabu dini hari (4/2/2026). Kejanggalan bermula dari waktu dan lokasi korban ditemukan di belakang area kebun wilayah Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang.
“Kejadiannya itu tengah malam dan lokasinya di belakang kebun Desa Talang Sawah,” kata Iwan yang juga masih kerabat korban. Sementara korban terakhir diketahui berangkat mengantar nenek ke Rejang Lebong. Beberapa perhiasan emasnya masih ada dengan adik itu, tapi handphonenya hilang.
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya menyebutkan bahwa penyebab korban meninggal diduga karena tersengat listrik. Kendati demikian, jenazah telah disemayamkan serta dimakamkan di pemakaman Desa Batu Bandung.
Atas beberapa kejanggalan tersebut, keluarga korban telah melaporkan peristiwa yang dialami korban ke Polres Kepahiang. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap kematian korban.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











