Kritik Pedas dari Sejarawan terhadap Alumni LPDP
Sejarawan ternama, Prof. Anhar Gonggong, memberikan kritik tajam terhadap alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas (Tyas) dan suaminya, Arya Iwantoro. Kritik ini muncul setelah Tyas menyatakan bahwa anak-anaknya tidak perlu menjadi warga negara Indonesia (WNI). Menurut Anhar, pernyataan tersebut dianggap sebagai penghinaan terhadap bangsa dan negara.
Anhar menilai bahwa pernyataan Tyas menunjukkan ketiadaan loyalitas dan rasa tanggung jawab terhadap tanah air. Baginya, sosok seperti Tyas, yang dianggap “pintar tapi bodoh”, tidak layak disebut sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Alasan Kritik Prof. Anhar Gonggong
1. Dinilai Menghina Negara
Dalam video yang diunggah di akun YouTube-nya, Anhar menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Tyas. Ia merasa tersinggung karena menganggap bahwa pernyataan itu seolah-olah membandingkan negara Indonesia dengan Inggris secara tidak proporsional.
“Negara ini tidak memberikan masa depan, jadi saya sendiri saja yang warga negara,” ujarnya dalam video tersebut.
Anhar juga menyoroti fakta bahwa Tyas mendapatkan kesempatan belajar di Inggris dengan biaya negara. Hal ini menurutnya menunjukkan ketidakseimbangan pikiran dari Tyas, yang dianggap sebagai orang pintar tapi bodoh.
2. Tidak Bertanggung Jawab
Anhar menambahkan bahwa perilaku Tyas menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Ia menegaskan bahwa kesempatan Tyas untuk tinggal di Inggris adalah hasil dari bantuan pemerintah Republik Indonesia.
“Artinya apa? Saya meminta pemerintah mencabut status kewarganegaraan Tyas. Orang seperti ini kita tidak butuhkan,” katanya.
Menurut Anhar, sikap Tyas dianggap memalukan karena menghancurkan citra bangsa Indonesia di mata dunia.
3. Tidak Loyal
Sebagai sejarawan yang dikenal kritis, Anhar menekankan pentingnya loyalitas bagi para penerima beasiswa negara. Ia meminta agar pemerintah mencabut kewarganegaraan Tyas dan suaminya.
“Kami tidak butuh orang ini kok sepintar apapun kami tidak butuh. Kami butuh orang-orang pintar yang mau berbuat baik bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Anhar menilai bahwa Tyas tidak memiliki rasa cinta terhadap Indonesia, meskipun ia telah diberi kesempatan belajar di luar negeri dengan biaya negara.
Profil Singkat Prof. Anhar Gonggong
Prof. Anhar Gonggong lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 14 Agustus 1943. Ia tumbuh di tengah pergolakan sejarah bangsa, dengan ayahnya menjadi korban pembantaian Westerling. Pengalaman ini membentuk kepribadiannya yang sangat peduli terhadap sejarah dan perjuangan bangsa.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Anhar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada, kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Leiden, Belanda. Pendidikan formal ini membekali Anhar dengan pengetahuan sejarah yang mendalam serta kemampuan menganalisis sumber-sumber sejarah secara kritis.
Setelah pulang dari Belanda, Anhar aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta. Ia juga menjabat sebagai peneliti di Pusat Penelitian Sejarah dan Antropologi.
Sejarawan Kritis dan Berani
Sebagai seorang sejarawan, Anhar dikenal sebagai sosok kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya. Ia tidak segan-segan mengoreksi kesalahan sejarah yang telah beredar luas di masyarakat. Salah satu contohnya adalah ketika ia meluruskan kesalahan mengenai perancang lambang negara Indonesia.
Anhar juga sering memberikan pandangan kritis terhadap berbagai isu kontemporer yang berkaitan dengan sejarah. Ia kerap menjadi narasumber dalam berbagai diskusi dan seminar tentang sejarah. Melalui tulisan dan ceramahnya, Anhar berupaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mempelajari sejarah.
Selain sebagai akademisi, Anhar pernah menjabat sebagai birokrat. Pengalamannya sebagai birokrat memberikannya perspektif yang lebih luas tentang permasalahan bangsa. Ia kerap menyuarakan pentingnya peran sejarah dalam membangun bangsa.
Pandangan tentang Pancasila
Anhar Gonggong memiliki pandangan yang mendalam tentang Pancasila. Ia menegaskan bahwa Pancasila bukanlah ideologi tunggal milik Soekarno, melainkan hasil dari pemikiran kolektif berbagai tokoh bangsa, terutama dari kalangan Islam.
Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Ia juga kerap menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang berintegritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Anhar Gonggong telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia sejarah Indonesia. Karya-karyanya menjadi rujukan bagi para peneliti dan mahasiswa sejarah. Selain itu, pemikiran-pemikiran kritisnya juga menginspirasi banyak orang untuk terus menggali dan mempelajari sejarah bangsa.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











