Tabiat Anwar Satibi, Ayah Bocah 12 Tahun yang Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi
Kasus kematian bocah 12 tahun di Sukabumi yang diduga akibat penganiayaan oleh ibu tiri kembali menarik perhatian publik. Tabiat Anwar Satibi, ayah kandung korban, kini menjadi fokus utama penyelidikan. Beberapa informasi mengenai perilaku dan kebiasaan Anwar mulai terungkap dari berbagai sumber, termasuk tetangga, mantan istri, dan istri saat ini yang kini menjadi tersangka.
1. Tidak Pernah Sosialisasi dengan Warga Sekitar
Ketua RW setempat, Rahman (43), memberikan kesaksian tentang perilaku Anwar Satibi dan istrinya selama tinggal di wilayah tersebut. Keluarga ini tinggal di rumah milik orang tua TS, namun hampir tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar.
Rahman menyebut bahwa selama dua tahun tinggal di wilayahnya, Anwar sama sekali tidak pernah melaporkan data kependudukan kepada pengurus RT maupun RW. Fakta ini baru diakui Anwar saat menjalani pemeriksaan oleh kepolisian.
Menurut Rahman, warga sering mendengar suara pertengkaran hebat dari dalam rumah tersebut. Namun, posisi keluarga yang sangat tertutup membuat tetangga merasa takut dan ragu untuk melapor atau ikut campur dalam urusan internal mereka.
2. Sering Terlibat KDRT
Lisnawati, mantan istri Anwar Satibi, melaporkan sang mantan suami ke Polres Sukabumi atas tuduhan menelantarkan anaknya. Ia juga membongkar tabiat buruk Anwar selama mereka masih menikah.
Lisnawati menyebut bahwa Anwar adalah sosok yang sangat temperamental dan kerap melakukan kekerasan fisik atau KDRT terhadap dirinya, bahkan saat ia sedang mengandung NS. Ia juga mengungkap bahwa Anwar sering pulang ke rumah dengan tanda fisik yang mencurigakan di bagian leher, yang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan wanita lain.
3. Temperamen yang Tinggi
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, TR, ibu tiri korban, mencatut sang suami yang juga ayah korban, Anwar Satibi di kasus ini. Dalam pengakuannya di depan penyidik, TR menyebut bahwa Anwar ikut andil dalam kematian NS.
Anwar dikatakan sempat tidak mau membawa anaknya ke rumah sakit. Bahkan saat hendak dibawa ke rumah sakit, korban NS sempat dilempar ayahnya ke dalam mobil. Pengacara TR, Moch Buchori, mengatakan bahwa kondisi NS sebelum dibawa ke rumah sakit sudah lemas. Ia menyebut bahwa kliennya memaksa Anwar untuk membawa NS ke rumah sakit.
Buchori juga menduga adanya keterlibatan dari Anwar Satibi pada luka yang dialami oleh korban. “Ada kemungkinan dari ayahnya ada ikut serta, karena mengingat di dalam rumah itu ada ayahnya, ada TR,” kata dia.
Bantahan Anwar Satibi
Ditemui terpisah, Anwar Satibi membantah telah menelantarkan anaknya. Ia menilai langkah mantan istrinya yang melaporkan dirinya di tengah suasana duka sebagai tindakan yang tidak masuk akal.
“Ya kalau menurut saya, mantan istri saya ini sepertinya otaknya enggak sehat ya. Dalam duka seperti ini, kalau dia datang dengan pengacaranya untuk menguak kasus (kematian) ini demi mencari keadilan, saya setuju,” ujar Anwar saat ditemui di kediaman ayah angkatnya.
Namun, Anwar menolak tuduhan bahwa dirinya telah menelantarkan NS semasa hidup. Menurut dia, ia memasukkan anaknya ke pondok pesantren adalah bukti tanggung jawabnya akan pendidikan sang anak.
“Kalau dia menuduh saya menelantarkan anak, enggak mungkin saya masukkan pondok, enggak mungkin saya sekolahkan,” ujar Anwar.
Anwar menjelaskan bahwa awalnya NS diantarkan sendiri oleh ibu kandung dan keluarganya ke yayasan tempat Anwar bekerja di wilayah Solokan Pari. Setelah menikah dengan TR, lanjut Anwar, anaknya dipindahkan sekolah dari Purwasedar ke Cilubang oleh istrinya tersebut.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











