Kinerja Retribusi Pasar di Kabupaten Serang
Penerimaan retribusi pasar di Kabupaten Serang selama beberapa tahun terakhir tidak mencapai target yang ditetapkan. Hal ini menjadi perhatian serius dari Komisi III DPRD Kabupaten Serang, yang akan melakukan kajian lebih lanjut agar dapat meningkatkan optimalisasi penerimaan.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Serang, Supiyanto, menyampaikan bahwa capaian penerimaan retribusi saat ini hanya sekitar 90 persen. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakoptimalan tersebut, terutama pada sektor retribusi pasar yang capaiannya berada di bawah 50 persen.
“Yang menjadi fokus kami adalah retribusi pasar yang capaiannya di bawah 50 persen, terutama di mitra komisi III yaitu Diskoumperindag,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya sedang mengkaji apakah target yang ditetapkan selama ini terlalu tinggi atau ada faktor lain yang memengaruhi. Dengan kondisi sarana dan prasarana pasar yang ada saat ini, pihaknya berencana untuk meninjau kembali mekanisme retribusi agar bisa lebih optimal.
“Apakah target harus diturunkan atau bagaimana? Target sebelumnya sekitar Rp2 miliar per tahun,” tambahnya.
Permasalahan retribusi pasar telah menjadi isu serius karena selama tiga tahun terakhir capaiannya selalu di bawah 50 persen. Bahkan pada 2025, capaian retribusi hanya mencapai 40 persen atau sebesar Rp800 juta dari target Rp2 miliar.
“Tahun ini targetnya masih tetap Rp2 miliar, makanya kami akan melakukan kajian ulang nanti,” katanya.
Supiyanto mengungkapkan bahwa ia optimistis pendapatan retribusi pasar tahun ini dapat mencapai target. Ia berharap Bapenda, lembaga pengelola pendapatan daerah, dapat bekerja dengan baik bersama kepala, sekretaris, dan bidang-bidang yang ada di dalamnya.
“Kami berharap apa yang dilakukan Bapenda di tahun lalu, khususnya 2025, dapat dilanjutkan tahun ini. Hanya saja perlu diperbaiki kekurangannya,” ujarnya.
Salah satu upaya yang dilakukan Bapenda adalah penambahan mobil moling, yang sebelumnya hanya satu, kini ditambah dua unit. Meskipun anggaran untuk mobil ini berasal dari tahun 2015, penyelesaiannya baru selesai di Desember atau launching tahun ini.
“Tujuannya adalah meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat,” ujarnya.
Jika Bapenda masih kekurangan SDM, Supiyanto meminta agar hal tersebut dikomunikasikan dengan BKPSDM. Menurutnya, Bapenda merupakan ujung tombak pendapatan daerah, sehingga keberadaannya sangat penting.
“Jika pendapatan optimal, maka kegiatan lain juga akan berjalan lancar,” tuturnya.
Selain itu, kondisi saat ini juga mengalami pemotongan dana transfer daerah (TKD), yang dialami oleh hampir semua kabupaten dan kota. Namun, Supiyanto mengapresiasi kinerja Bapenda di tahun 2025, yang berhasil mencapai surplus sebesar 100,91 persen dari target Rp1.097 triliun, dengan realisasi mencapai Rp1,1 triliun.
“Harapan saya, capaian ini tidak turun di 2026. Minimal harus dipertahankan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa tren kinerja Bapenda selama lima tahun terakhir, sejak masa pandemi 2020 hingga 2025, selalu meningkat. Pada 2024, capaian retribusi mencapai 86 persen, namun di 2025 meningkat drastis menjadi 100,91 persen.
Persepsi Pedagang dan Upaya Meningkatkan Pelayanan
Kepala UPT Pasar Diskoumperindag Kabupaten Serang, Mahyar Sonjaya, mengatakan bahwa jumlah masyarakat yang berkunjung ke pasar semakin berkurang karena banyak kebutuhan mereka dipenuhi melalui belanja online. Terutama untuk kebutuhan sekunder seperti pakaian, para pedagang mengeluhkan penurunan kunjungan.
“Pedagang merasa kesulitan karena jumlah pengunjung pasar menurun. Itu salah satu penyebab penurunan pendapatan,” ujarnya.
Mahyar menjelaskan bahwa target retribusi tahun ini sebesar Rp1,45 miliar, yang lebih rendah dibandingkan target tahun sebelumnya sebesar Rp2,1 miliar. Angka ini disesuaikan dengan kondisi yang ada.
“Target tahun ini sudah turun sesuai estimasi yang diminta,” katanya.
Ditanyakan tentang upaya lain untuk mengembalikan animo masyarakat ke pasar tradisional, Mahyar menjelaskan bahwa retribusi didasarkan pada pelayanan. Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya meningkatkan pelayanan dengan memperbaiki sarana yang ada.
“Mudah-mudahan sesuai harapan bisa tercapai. Memang berat bagi pedagang, karena sekarang masyarakat jarang ke pasar tradisional,” ujarnya.
Total ada 14 pasar di Kabupaten Serang, namun hanya 12 pasar yang ditarik retribusi. Pasar Tunjung sudah aktif, tetapi belum ditarik retribusi karena belum ramai. Semua pasar membutuhkan perhatian khusus, kecuali Pasar Baros yang tidak ditarik retribusi karena masih dalam kondisi baik dan sarana yang memadai. Pasar-pasar lainnya sering mendapat keluhan, terutama saat musim hujan.











