Gubernur Khofifah Masuk Tiga Besar Kepala Daerah Paling Disorot Media
Dalam laporan tahunan yang berjudul “Rapor Setahun Pemerintah Daerah Provinsi 2026”, Deep Intelligence Research (DIR) menempatkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di posisi ketiga kategori publikasi tertinggi. Di bawahnya, Dedi Mulyadi dan Pramono Anung menjadi dua gubernur lain yang paling menyedot perhatian media.
Fokus pemberitaan terhadap Khofifah banyak berkaitan dengan isu ekonomi syariah, perlindungan sosial, serta program strategis daerah. Selama periode 20 Februari 2025 hingga 19 Februari 2026, Khofifah mencatatkan total pemberitaan sebanyak 82,7 ribu dari media online, 8,3 ribu dari media cetak, dan 1,5 ribu dari media elektronik.
Sementara itu, Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, memimpin dalam kategori publikasi dan engagement media sosial. Ia mencatatkan total pemberitaan sebanyak 194,4 ribu dari media online, 16,1 ribu dari media cetak, dan 4,6 ribu dari media elektronik. Narasi kebijakan kerakyatan, isu sosial, serta konsolidasi wilayah menjadi penopang utama stabilitas eksposurnya.
Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, juga masuk dalam tiga besar dengan jumlah pemberitaan sebanyak 153 ribu dari media online, 8,9 ribu dari media cetak, dan 8,3 ribu dari media elektronik. Meskipun tidak menduduki posisi pertama, ia tetap menjadi perhatian publik dengan fokus pada isu-isu kebijakan dan sosial.
Berita tentang Kepala Daerah Mencapai Angka Ratusan Juta
Total pemberitaan kepala daerah tingkat provinsi selama periode tersebut mencapai 1.887.196 berita di berbagai media, termasuk siber, cetak, dan elektronik. Dari jumlah tersebut, tercatat total engagement sebesar 5.624.353.582 dengan audiens sebanyak 33.798.508.877.
Di media sosial, terdapat 4.573.206 percakapan, meliputi:
– 112.442 percakapan di X
– 204.337 di Facebook
– 854.473 di Instagram
– 2.063.710 di TikTok
– 27.468 di Threads
– 1.309.974 di YouTube
DIR menganalisis data dari 11 ribu media online, 200 media cetak, dan 40 media elektronik. Sementara untuk media sosial, DIR melakukan crawling terhadap semua platform yang digunakan oleh masyarakat di Indonesia.
Tiga Kluster Isu Dominan dalam Pemberitaan
Dalam temuan utama, DIR mengidentifikasi tiga kluster isu dominan yang menjadi fokus pemberitaan:
-
Program Strategis Nasional di Bidang Pendidikan
Terutama implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi perhatian luas di hampir seluruh provinsi. -
Ketangkasan Menghadapi Krisis
Contohnya saat Banjir Besar di Sumatera dan Aceh pada November 2025, yang menjadi titik uji kepemimpinan daerah. -
Isu Integritas dan Hukum
Termasuk hubungan dengan KPK dan DPRD, serta dugaan korupsi seperti yang terjadi di Jambi dan Riau, yang menekan rating performa media hingga menyentuh angka 4/10 bagi gubernur tertentu.
Perbedaan Sentimen Media Massa dan Media Sosial
Analisis menunjukkan bahwa media massa cenderung memberikan sentimen positif tinggi hingga 79 persen. Sebaliknya, media sosial menjadi arena apresiasi sekaligus kritik tajam. Platform seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan Facebook mencatat atensi tinggi, sementara X menjadi platform paling kritis dengan engagement paling rendah dibanding platform lainnya.
Konten Humanis Menjadi Magnet Utama
Konten humanis dan pendekatan kepada warga akar rumput menjadi magnet utama di TikTok, Instagram, dan YouTube. Konsistensi dalam mengisi konten, termasuk mensosialisasikan kebijakan yang memicu perdebatan publik, justru memperkuat posisi para gubernur sebagai pusat perhatian.
Contohnya, Pramono Anung mencatat total engagement sebesar 959.157.202 dengan audiens 5.764.849.476, sementara Muzakir Manaf dari Aceh meraih 337.185.381 engagement dan audiens 1.693.330.015, terutama terdorong isu kearifan lokal dan respons terhadap bencana.
Rekomendasi dari Deep Intelligence Research
Merujuk penelitian Mike Walsh (2019), DIR menekankan pentingnya kepemimpinan berbasis data dan algoritma. Gubernur ke depan tidak bisa hanya bekerja secara administratif. Mereka harus memberikan kebijakan solutif atas permasalahan yang terjadi dan mampu membaca emosi publik di media sosial serta mampu mengomunikasikan kebijakan secara massif, transparan, dan akuntabel.
Selain itu, harmonisasi dengan legislatif menjadi kunci menjaga stabilitas pemerintahan. Rapor ini memperlihatkan satu kesimpulan: legitimasi publik di era digital tak lagi hanya ditentukan oleh kebijakan substantif, melainkan juga oleh kemampuan membaca percakapan dan mengelola narasi.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











