My WordPress Blog

Gerakan Sipil Butuh Pembaruan dan Regenerasi

Ruang Interaksi dan Regenerasi Gerakan Sosial

Seorang dosen pernah menyampaikan postulat yang menarik saat kuliah, “Bagaimana diskusi dan aktivisme mahasiswa bisa berkembang kalau ruang interaksinya saja terbatas?” Ia mengomentari kebijakan kampus pada masa itu, seperti pengurangan ruang senat mahasiswa, area kantin yang sempit, serta selasar yang dijadikan area komersil. Pemberlakuan jam malam juga membatasi interaksi antar mahasiswa lintas angkatan dan fakultas. Akibatnya, pertukaran ide, regenerasi gagasan, dan estafet kepemimpinan mahasiswa tidak berjalan lancar.

Bertahun-tahun setelahnya, apa yang dikhawatirkan sang dosen benar-benar terjadi: organisasi mahasiswa sepi peminat, beberapa vakum atau bubar, aktivisme di tingkat kampus dan nasional pun redup. Mereka bergerak sendiri-sendiri tanpa kesadaran bahwa mereka bagian dari sistem yang sama, yang mungkin memiliki kesamaan identitas, nilai, dan perjuangan. Yang harusnya bisa semakin kuat jika mereka bergerak bersama.

Peristiwa di kampus ini mencerminkan situasi gerakan masyarakat sipil kita hari ini. Ketiadaan ruang aman dan nyaman untuk berkonsolidasi, mandeknya regenerasi, serta ekosistem yang belum mendukung kerja-kerja kolaborasi. Banyak orang muda bergerak sendiri-sendiri dengan keterbatasan dampak dan daya jangkau. Bahaya lainnya adalah apatis terhadap isu-isu penting.

Peran organisasi masyarakat sipil sangat krusial dalam demokrasi kita. Mereka hadir sebagai representasi suara masyarakat, mendorong perubahan sosial, dan menjadi pengawas serta penyeimbang laku kekuasaan. Di berbagai negara, organisasi masyarakat sipil konsisten memperjuangkan kelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Mereka juga mendorong pemerintahan yang lebih akuntabel, demokrasi yang lebih bermakna, hak asasi manusia, serta mengangkat keresahan kelompok minoritas dan rentan.

Mengingat pentingnya gerakan dan organisasi masyarakat sipil, merawat dan memastikan keberlangsungannya menjadi tugas bersama. Riset Harian Kompas menunjukkan bahwa orang muda usia 17-30 tahun sebenarnya memiliki kepedulian dan keinginan untuk terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Namun, mereka sering kesulitan menemukan ruang atau wadah yang aman dan nyaman untuk berpartisipasi secara bermakna. Stagnasi gerakan sipil hari ini butuh inovasi dan regenerasi.

Lebih dari sekadar usia, regenerasi gerakan juga bicara soal pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang sesuai kebutuhan zaman. Organisasi sipil yang masih menggunakan perspektif usang tidak akan mampu menjawab keresahan orang muda. Kita perlu wadah yang lebih kreatif, inklusif, dan sanggup menciptakan kolaborasi bermakna.

Saya beruntung dapat menghadiri FESTIVIS (Festival Aktivis Muda dalam Gerakan Sosial Indonesia) belum lama ini. Di sana, beragam isu dan tantangan gerakan sipil dibahas lewat cara yang mudah dimengerti, kreatif, serta inklusif. Lewat format teater forum, isu-isu hangat seperti aktivisme performatif, birokratisasi yang menyulitkan gerakan, konflik agraria, kekerasan berbasis gender, dan orang muda kritis yang menjadi tahanan politik, jadi mudah dipahami audiens.

Isu tahanan politik terasa dekat dan relevan. Tempo mencatat hingga Januari 2026 masih ada 652 tahanan politik terkait aksi demonstrasi Agustus 2025. Minggu lalu, Laras Faizati divonis bersalah karena bersuara kritis. Alfarisi bin Rikosen, seorang pemuda di Jawa Timur, meninggal dalam tahanan. Pertanyaan dosen saya kembali terdengar, “Bagaimana diskusi, demokrasi, dan aktivisme bisa berkembang jika ruang geraknya dibatasi demikian rupa?”

Lewat FESTIVIS, lima elemen inti dalam konsep Bunga Partisipasi dijelaskan. Pertama: kebebasan untuk memilih. Kedua: akses informasi yang utuh. Ketiga: diberi kuasa mengambil keputusan. Keempat: bisa menyampaikan suara mereka. Kelima: memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas.

Selain itu, FESTIVIS juga menawarkan ruang aman dan nyaman bagi orang muda. Mulai dari transfer knowledge yang memadai, dukungan keuangan, hingga kebijakan yang relevan terkait orang muda. Kreativitas dan cara baru yang ditawarkan mungkin belum sempurna, tapi ini bisa menjadi langkah awal dan pakem baru yang perlu kita usahakan bersama.

Sudah saatnya kita tidak lagi meminggirkan orang muda. Merekalah yang akan menjalani dunia yang diciptakan dan ditentukan hari-hari ini. Setiap keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang diambil hari ini, orang mudalah yang akan mengalami dan merasakan dampaknya paling lama. Sudah waktunya kita memberikan panggung dan lampu sorot ke mereka: untuk menentukan nasib mereka sendiri, menciptakan dunia mereka sendiri, dan mengusahakan masa depan mereka sendiri.

Pada akhirnya, regenerasi gerakan sipil sebagai jantung demokrasi dan episentrum perubahan, wajib kita usahakan bersama. Regenerasi yang bukan cuma soal usia, tapi juga soal pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang sanggup menjawab tantangan zaman. Lewat cara-cara yang kreatif, inklusif, dan kolaboratif sebagaimana yang sudah dicontohkan FESTIVIS. Hanya dengan demikianlah, orang muda bisa terus berpartisipasi dengan lebih bermakna. Sehingga semua suara bisa terdengar, semua pihak bisa terlibat, dan dunia yang lebih baik, bisa tercapai.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *