My WordPress Blog

Ketua IDAI yang Dipecat Menkes Budi Gunadi Sadikin

Profil Singkat dr. Piprim Basarah Yanuarso

dr. Piprim Basarah Yanuarso, atau yang akrab disapa Dr. Piprim, adalah seorang dokter spesialis anak konsultan kardiologi anak yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia kedokteran anak di Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI). Namun, baru-baru ini ia menjadi sorotan setelah mengaku dipecat oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Piprim lahir pada 15 Januari 1967 dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat dalam bidang kardiologi anak. Ia menempuh pendidikan subspesialis kardiologi anak selama satu tahun di Institusi Jantung Negara, Malaysia, dan lulus dengan gelar SpA(K) pada tahun 2007. Selain itu, ia juga meraih gelar doktor (Dr.) dalam bidang Ilmu Kedokteran dari Universitas Indonesia pada Mei 2025.

Selama karier medisnya, Piprim berpraktik selama 20 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional. Ia dikenal sebagai dokter yang sangat berkompeten dalam diagnosis serta penanganan gangguan jantung pada anak-anak.

Perjalanan Karier dan Kepengurusan IDAI

Selain aktif sebagai praktisi medis, Piprim juga terlibat dalam dunia akademik. Ia menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan telah berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu kesehatan anak di Indonesia.

Dalam perjalanan kepemimpinan IDAI, Piprim memegang peran penting dalam menjaga independensi kolegium ilmu kesehatan anak. Ia menolak mutasi yang dianggap tidak sesuai dengan asas meritokrasi, termasuk ketika ia dimutasi ke RSUP Fatmawati. Ia menolak mutasi tersebut karena dinilai dilakukan secara mendadak tanpa komunikasi yang jelas dan mekanisme yang semestinya.

Persoalan dengan Mutasi dan Pemecatan

Setelah menolak mutasi, akun pelayanannya untuk pasien BPJS di RSCM dibekukan. Hal ini menyebabkan pasien BPJS tidak lagi bisa menerima layanan dari dr. Piprim di RSCM. Ia kemudian menyampaikan pernyataan terbuka melalui media sosial, mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut.

“Mulai hari ini saya tidak lagi bisa melayani putra-putri Bapak Ibu sekalian di RSCM dengan BPJS. Kalau tetap ingin saya yang menangani, harus melalui jalur swasta di RSCM Kencana dengan biaya sendiri,” ujarnya dalam unggahan di Instagram.

Ia menjelaskan bahwa layanan di RSCM Kencana sebagai unit swasta mengharuskan pasien membayar biaya mandiri yang diperkirakan mencapai Rp 4 juta untuk pemeriksaan awal.

Penjelasan dari Pihak RSCM

Menanggapi hal tersebut, manajemen RSCM menyatakan bahwa mutasi adalah hal yang wajar dalam pengelolaan ASN di lingkungan Kementerian Kesehatan. Kebijakan tersebut disebut telah melalui kajian dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan organisasi, mengembangkan potensi pegawai, serta meningkatkan kinerja tenaga medis.

“Mutasi dr. Piprim merupakan bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, termasuk memperkuat layanan jantung anak di RS Fatmawati. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya terpusat di RSCM, tetapi memiliki alternatif layanan serupa di rumah sakit pemerintah lainnya,” tulis pihak RSCM.

Perkembangan Terbaru: Pemecatan oleh Menkes

Terkini, dr. Piprim menyatakan dirinya telah dipecat oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Pernyataan tersebut disampaikan melalui rekaman audio yang beredar. Ia menyebut pemecatan tersebut terjadi setelah dirinya menolak mutasi yang dinilai tidak sesuai dengan asas meritokrasi.

Selain itu, ia juga menyinggung sikapnya yang mempertahankan independensi kolegium ilmu kesehatan anak. Dalam pernyataannya, Piprim juga menyampaikan permohonan maaf kepada pasien, mahasiswa, serta tenaga medis yang selama ini berada di bawah bimbingannya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *