My WordPress Blog

Istri Jenderal yang Berjuang Hidup dengan Kehormatan di Usia 100 Tahun

Kehidupan Eyang Meri, Istri Tokoh Polisi Legendaris

Eyang Meri, yang dikenal sebagai tokoh teladan integritas dan kejujuran, wafat pada usia 100 tahun pada hari Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia adalah istri dari almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, seorang tokoh polisi legendaris di Indonesia yang dikenal dengan sikap anti-korupsi dan kejujurannya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan duka mendalam atas kematian Eyang Meri, menyebutnya sebagai simbol keteladanan bagi Polri dan Bhayangkari. Jenazah Eyang Meri akan dimakamkan di TPU Tonjong, Bogor, Rabu (4/2/2026).

Pengalaman Hidup Eyang Meri

Eyang Meri dikenal sebagai wanita yang selalu menjaga nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia selalu mendampingi suaminya, Jenderal Hoegeng, yang dikenal sebagai sosok polisi yang berintegritas tinggi. Salah satu kisah menarik tentang Eyang Meri adalah saat ia dilarang oleh suaminya untuk berjualan bunga. Saat itu, Hoegeng masih menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia dan khawatir jika istrinya membuka toko bunga, maka banyak relasinya akan membelinya. Hal ini bisa membuat keluarganya disuap melalui toko bunga tersebut.

Eyang Meri juga pernah menerima hadiah berupa emas seberat 10 gram dari seorang perempuan bernama Ruslan. Emas itu diberikan sebagai bentuk terima kasih karena mobil Ruslan berhasil ditemukan setelah Hoegeng membantu menyelidiki hilangnya mobil tersebut. Namun, Hoegeng melarang istrinya menerima hadiah tersebut dan meminta untuk mengembalikannya.

Nilai Kejujuran yang Diwariskan

Salah satu hal yang tak terlupakan dalam hidup Eyang Meri adalah nilai kejujuran yang ditanamkan oleh Hoegeng. Ketika keluarganya hidup pas-pasan karena Hoegeng dipensiunkan dini pada masa kepemimpinan Soeharto, Eyang Meri tetap menjaga semangat dan kejujuran. Bahkan, saat Hoegeng dipensiunkan, ia langsung menemui ibunya dan melakukan sungkem. Ibunya berkata, “kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.” Kalimat ini menjadi motivasi besar bagi Eyang Meri dan keluarga.

Profil Eyang Meri

Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta. Ia adalah anak dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia pertama kali bertemu dengan Hoegeng yang baru lulus Akademi Kepolisian (Akpol) di Yogyakarta. Presiden Soekarno pernah meminta Hoegeng dan Meri, yang merupakan penyiar radio militer, untuk membawakan sandiwara radio bertajuk “Saijah dan Adinda”, adaptasi dari novel “Max Havelaar” karya Multatuli.

Meriyati menikah dengan Jenderal Hoegeng pada tahun 1946 dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.

Kesehatan Eyang Meri

Sebelum meninggal dunia, Eyang Meri sudah dua kali menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati. Sang anak, Aditya Soetanto Hoegeng, menceritakan bahwa ibunya tidak memiliki penyakit tertentu, hanya kesehatannya semakin melemah. Sebelum meninggal, Eyang Meri juga pernah mengalami cedera paha pada tahun 2020 silam, sehingga ia tidak lagi mampu berdiri dan hanya dapat terbaring di tempat tidur selama kurang lebih 6 tahun.

Penghormatan Terakhir dari Kapolri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kematian Eyang Meri. Bagi institusi Polri, Eyang Meri bukan sekadar istri dari seorang mantan Kapolri, melainkan simbol integritas yang mendampingi perjalanan hidup Jenderal Hoegeng. “Polri sangat kehilangan sosok Eyang Meri. Beliau bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi kami,” ujar Jenderal Listyo Sigit.

Rumah Duka

Jenazah Eyang Meri tiba di rumah duka, Perumahan Pesona Khayangan Estate, Kota Depok, Jawa Barat pada Selasa (3/2/2026), pukul 16.11 WIB. Pantauan di lokasi, jenazah mendiang diantarkan menggunakan mobil jenazah dari RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur menuju rumah duka. Sesampainya di rumah duka, keranda jenazah ditandu oleh beberapa orang, termasuk Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras.

Anak mendiang, Aditya Soetanto Hoegeng, menjelaskan bahwa ibunya meninggal dunia sekira pukul 13.20 WIB. Menurut Aditya, jenazah mendiang ibunya akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tonjong, Kabupaten Bogor pada Rabu (4/2/2026) besok.




Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *