My WordPress Blog

NU Abad ke-II, Memimpin Peradaban di Era VUCA dan Diplomasi Global

Sejarah dan Peran NU di Abad Kedua

NU, organisasi Islam terbesar di dunia, telah menyelesaikan abad pertamanya sejak didirikan pada 31 Januari 1926. Perjalanan panjang selama 100 tahun ini bukan sekadar pencapaian temporal, melainkan bukti ketahanan sebuah gerakan sosial keagamaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap mempertahankan nilai-nilai keindonesiaan sekaligus Islam Ahlussunnah wal Jamaah, Rahmatan lilalamin.

Kini, di penghujung abad pertamanya, NU menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks. Era VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous) menggambarkan kondisi dunia yang bergerak dengan kecepatan tinggi, penuh ketidakpastian, sarat kompleksitas, dan ambigu dalam berbagai aspeknya. Fenomena ini dipercepat oleh revolusi digital, perubahan iklim secara drastis, pergeseran aliansi kutub dan kekuatan geopolitik, serta krisis multidimensi yang juga silih berganti.

Bagi organisasi keagamaan seperti NU, era ini menuntut refleksi dengan kebutuhan untuk terus relevan di tengah dinamika lokal dan global yang berubah cepat dan gradual. Volatilitas terlihat dari perubahan cepat dalam lanskap politik Indonesia dan dunia. Ketidakpastian muncul dari berbagai krisis, pandemi, konflik geopolitik, hingga gejolak ekonomi. Sedangkan kompleksitas hadir dalam bentuk interconnected problems yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Ambiguitas menciptakan kondisi abu-abu dalam berbagai isu, hingga perang asimetris.

Zaman yang berada dalam gulungan turbulensi ini tentu membutuhkan cara pandang organisasi yang memahami lanskap VUCA. NU yang sebelumnya beroperasi dengan pola linear dan terstruktur, kini harus belajar menari dalam ketidakpastian. Model lama yang mengandalkan perencanaan jangka panjang harus dibarengi dengan kecepatan membaca perubahan tanpa kehilangan misi organisasi.

Ambiguitas dalam era VUCA dapat diminimalkan dengan pengambilan keputusan berbasis data. NU perlu meningkatkan kapasitas literasi data untuk menghasilkan insight yang actionable. Model kepemimpinan hierarkis yang top-down selama ini harus/telah bertransformasi menjadi kepemimpinan yang lebih distributif dan adaptif. Apalagi sebenarnya Warga NU sejauh ini mampu menciptakan eksperimentasi dan mengambil inisiatif dalam berbagai tantangan yang dihadapi. Jika ini dibarengi kepemimpinan yang mendengarkan suara dari garis terbawah akan menjadi semakin baik.

Keunggulan NU dalam Menghadapi Era VUCA

NU sendiri memiliki keunggulan unik dalam menghadapi era VUCA berkat tradisi intelektual dan sosialnya yang kaya. Prinsip tawassuth (moderasi), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan) yang menjadi karakter NU memberikan fondasi yang kokoh untuk navigasi di tengah ketidakpastian. Tradisi fiqh yang fleksibel dalam NU, dengan penghormatan terhadap khilafiyah (perbedaan pendapat) dan ijtihad, memungkinkan organisasi ini untuk merespons perubahan tanpa kehilangan identitas keislaman.

Metodologi istinbath hukum yang menggabungkan teks suci dengan pertimbangan konteks (maslahat) menjadikan NU adaptif terhadap tantangan zaman. Lebih jauh, pengalaman historis NU dalam menjaga harmoni sosial di Indonesia yang majemuk telah menempa kemampuan organisasi ini dalam memediasi konflik dan membangun konsensus. Ini adalah aset berharga dalam menghadapi dunia yang semakin terpolarisasi.

Menuju Masa Depan dan Visi Geopolitik Keagamaan

Era VUCA bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan realitas baru yang harus dinavigasi dengan kebijaksanaan. NU yang akan bertahan dan berkembang jika mampu mempertahankan inti nilai sambil terus berinovasi, selain mendorong peradaban dunia dan tentu berkontribusi dalam visi geopolitik negara.

Dalam perjalannya, kontribusi NU dalam situasi global, saat NU mengirim delegasi Komite Hijaz yang diketuai KH Wahab Chasbullah, kala itu, di Hijaz terjadi pergolakan. Ibnu Saud memasuki Mekkah, mengambil alih kekuasaan. Hal ini sangat berpengaruh dan berdampak bagi umat Islam termasuk yang berada di Indonesia. Komite Hijaz melakukan komunikasi agar cara padang beragama Islam yang diterapkan Ibnu Saud tidak dilaksanakan secara menyeluruh di dunia termasuk di Indonesia.

Setelah itu Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin pada 9 Juni 1936 bersamaan dengan PD II merupakan tonggok penting komitmen kebangsaan NU dengan merumuskan konsep Darussalam (wilayah damai). Keputusan ini menegaskan wilayah Nusantara wajib dipertahankan, menjadikan NU terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Begitupun kontribusi NU mempertahankan kedaulatan Indonesia. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari menjadi tonggak heroik yang memobilisasi kaum santri dan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Kontribusi ini tidak berhenti pada masa revolusi, tetapi berlanjut dalam berbagai bentuk. Tampilnya mantan Ketua umum PBNU, Gusdur menjadi presiden tahun 1999 mendeklarasikan poros Jakarta, Beijing dan New Delhi merupakan ajakan Gus Dur kepada para pemimpin Asia untuk keluar dari ketergantungan pada blok kekuatan dunia dan membangun sinergi Asia berbasis kesetaraan dan nilai. Gus Dur mengajarkan, diplomasi bukan hanya soal kepentingan negara, tetapi juga tentang nilai, keberanian moral, dan visi kemanusiaan lintas peradaban.

Visi Geopolitik di Abad Kedua NU

Ketika menggagas poros ini, Gusdur menempatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan dunia, tetapi menjadi pemain utama dengan nilai-nilai luhur yang dimiliki. Visi geopolitik di atas dapat dijadikan cermin, dijadikan peta di abad ke II NU ini, tentunya akan memastikan NU tetap relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Promosi nilai-nilai Pancasila sebagai model keberagaman, moderasi Islam ala Indonesia, dan seni budaya Nusantara dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif. Indonesia dapat memposisikan diri sebagai jembatan peradaban antara Timur dan Barat, Islam dan demokrasi, tradisi dan modernitas. Konsep wasathiyyah (moderasi) yang dipromosikan NU selama ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan internasional.

Di tengah polarisasi global antara Barat dan Timur, antara Islam dan non-Islam, NU menawarkan jalan tengah yang konstruktif. Hal ini menempatkan Indonesia, melalui NU, sebagai aktor penting dalam geopolitik keagamaan global. Warisan para pendiri dan kiai NU yang visioner harus dilanjutkan dengan semangat yang sama namun dengan strategi yang disesuaikan dengan tantangan zaman.

NU di abad ke-II harus menjadi mercusuar dalam percaturan global dan visi Islam rahmatan lil alamin. Apalagi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif memberikan fleksibilitas untuk tidak terjebak dalam blok-blok kekuatan. Di tengah rivalitas AS-China/Rusia, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai kekuatan tengah yang independen, membangun kerja sama dengan berbagai pihak berdasarkan kepentingan nasional.

Dengan akar tradisi yang kuat, massa yang besar, dan jaringan yang luas, NU memiliki semua modal untuk menjadi pemain global yang disegani. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bermimpi besar, kemauan untuk berubah dan berinovasi, serta komitmen kolektif untuk mewujudkan visi geopolitik yang akan membawa NU dan Indonesia ke panggung dunia dengan penuh kemuliaan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *