My WordPress Blog
Hukum  

Tuntut Tanggung Jawab TNI AL, Godfried Timpua: Danlanal Harus Minta Maaf

Persoalan Penganiayaan di Melonguane, Tokoh Adat Minta Pertanggungjawaban

Tokoh adat Melonguane, Godfried Timpua (Amanga Banua) menuntut pihak Lanal Melonguane dan TNI AL bertanggung jawab atas dugaan penganiayaan terhadap warga Berkam Saweduling. Masyarakat adat berkomitmen untuk mengawal kasus ini hingga tuntas, baik secara hukum maupun adat. Mereka menuntut permintaan maaf terbuka serta pemulihan hubungan sosial sebagai bentuk penyelesaian masalah.

Desakan untuk Pertanggungjawaban

Godfried Timpua menyampaikan tuntutan tegas kepada pihak TNI AL, termasuk Danlanal Melonguane. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat akan terus mengawal proses hukum hingga kasus ini diselesaikan secara adil dan transparan. Pernyataan ini disampaikan melalui wawancara dengan wartawan Tribun Manado Gryfid Talumedun via telepon pada Sabtu (24/1/2026).

Ia juga mendesak agar Danlanal Melonguane dan pimpinan TNI AL dapat menemui tokoh adat dan keluarga korban untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara bertanggung jawab. Menurutnya, tuntutan ini bukan untuk memicu konflik, tetapi sebagai upaya mencari keadilan dan menjaga marwah hukum serta adat di tanah Talaud.

Massa aksi menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus hingga ada kejelasan dan penyelesaian yang berpihak pada kebenaran dan keadilan. Godfried menambahkan bahwa dalam adat mereka, penumpahan darah tidak bisa diselesaikan begitu saja. Pihak yang bersalah harus meminta maaf secara terbuka kepada adat dan masyarakat, serta menjalankan kewajiban adat sebagai bentuk ganti rugi dan pemulihan hubungan sosial.

Aksi Damai dan Penolakan Terhadap Main Hakim Sendiri

Sebelumnya, Aliansi Masyarakat Singkaramonane Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, menggelar aksi penyampaian aspirasi untuk menuntut keadilan atas dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan sejumlah oknum anggota TNI Angkatan Laut (AL) terhadap warga setempat, Berkam Saweduling. Dugaan penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis malam (22/1/2026). Aksi damai tersebut digelar pada Jumat (23/1/2026) siang.

Massa aksi bergerak dari Monumen Yesus Raja Memberkati menuju Markas Komando Pangkalan TNI AL (Makolanal) Melonguane yang berlokasi di Desa Mala Timur. Aksi dipimpin oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat Melonguane sebagai bentuk solidaritas serta penolakan terhadap tindakan main hakim sendiri.

Dalam orasinya, massa mengecam keras dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum anggota Lanal Melonguane. Mereka menegaskan bahwa tindakan tersebut mencederai rasa keadilan masyarakat, terlebih terjadi di wilayah perbatasan utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan massa meminta pihak TNI AL menindak tegas anggotanya yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan. Mereka juga menuntut proses hukum yang transparan dan adil, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat sipil.

Pernyataan Polisi dan Danlanal

Kapolres Kepulauan Talaud, AKBP Arie Sulistyo Nugroho, S.IK., M.H., membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dari masyarakat. “Masyarakat sudah melapor ke Polres dengan jumlah pelaku yang dilaporkan sebanyak enam orang,” ujar AKBP Arie Sulistyo Nugroho.

Sementara itu, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melongguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, memberikan keterangan resmi terkait dugaan tindak penganiayaan yang melibatkan sejumlah oknum anggota terhadap warga sipil. Letkol Laut (P) Yogie Kuswara menjelaskan bahwa pihak Lanal Melongguane telah melakukan mediasi dengan keluarga para korban dan permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik. “Sudah ada mediasi antara pihak Lanal dan keluarga korban, dan semuanya telah terselesaikan dengan baik,” ujar Yogie Kuswara.

Ia menegaskan, pihak Lanal Melongguane siap bertanggung jawab atas kondisi para korban yang terdampak dalam peristiwa tersebut. Selain itu, Danlanal memastikan bahwa oknum prajurit yang diduga terlibat dalam tindakan penganiayaan telah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan TNI. “Para pelaku yang diduga melakukan penganiayaan sudah diproses di pengadilan militer, sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *