Menteri Kelautan dan Perikanan Jatuh Pingsan Saat Memimpin Upacara Penghormatan
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, mengalami pingsan saat memimpin upacara penghormatan dan pelepasan jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Auditorium Madidihang Akademi Usaha Perikanan (AUP) Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Minggu (25/1/2026).
Sakti menjabat sebagai Menteri KKP di Kabinet Merah Putih (Prabowo-Gibran) dan sebelumnya pada periode kedua Presiden Jokowi. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan.
Kini kondisinya membaik. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mendadak jatuh pingsan saat memimpin upacara penghormatan dan pelepasan jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Auditorium Madidihang Akademi Usaha Perikanan (AUP) Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026).
Sakti Wahyu Trenggono lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 3 November 1962.
Ia dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Merah Putih pada pemerintahan Prabowo-Gibran periode 2024–2029. Sebelum mengemban jabatan tersebut, Sakti Wahyu sempat menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019–2024 pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Riwayat Pendidikan
- S1 Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung
- S1 dari School of Information System Universitas Bina Nusantara (Binus University)
- Program S2 Magister Manajemen di Institut Teknologi Bandung
Riwayat Pekerjaan
- System analyst di Federal Motor (kini PT Astra Honda Motor) pada 1986–1988
- Manajer management information system (MIS) di Federal Motor periode 1988–1992
- General Manager MIS and Business Development Federal Motor Astra Group pada 1992–1995
- Direktur Perencanaan dan Pengembangan INKUD/Induk Koperasi Unit Desa pada 1995
- Direktur Utama PT Solusindo Kreasi Pratama-Indonesian Tower pada 2000–2009
- Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi pada 2005–2016
- Komisaris Utama PT Teknologi Riset Global Investama pada 2010–2016
- Komisaris di perusahaan tambang emas Grup Saratoga, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) pada 2018
- Anggota Dewan Sekolah MBA School Of Business Management ITB pada 2004
Sakti Wahyu Trenggono memulai karier politiknya saat bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN) di era kepemimpinan Hatta Rajasa pada periode 2009–2014. Namun sejak 2013, Wahyu tidak lagi aktif di PAN. Pada Pilpres 2019, Wahyu tercatat sebagai salah satu tokoh dalam tim kampanye pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.
Dirinya merupakan pendukung Jokowi sejak di Solo sampai maju Pilkada DKI Jakarta dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Sebelum menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan mendampingi Menteri Pertahanan Prabowo.
Kejadian Jatuh Pingsan
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono jatuh pingsan saat memimpin upacara penghormatan dan pelepasan jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Auditorium Madidihang Akademi Usaha Perikanan (AUP) Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026).
Dalam momen tersebut, awalnya Sakti Wahyu Trenggono mengenakan jas dan celana serta peci berwarna hitam datang dengan didampingi sejumlah orang menuju podium yang berada di depan tiga peti jenazah yang dibalut bendera merah putih.
Sakti Wahyu Trenggono memimpin langsung upacara tersebut. Ia maju ke podium sekira pukul 09.20 WIB. Protokoler langsung memulai serangkaian acara, dimulai dengan pembacaan portofolio ketiga jenazah. Di tahap ini, Sakti masih berdiri tegak di hadapan peserta upacara sambil mengikuti rangkai selanjutnya.
Adapun prosesi upacara terdiri dari sambutan pihak keluarga, penyerahan hak waris dan penyerahan jenazah kepada negara. Ketika hendak memasuki prosesi penyerahan jenazah kepada negara, Trenggono tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Tubuh Trenggono tergeletak di lantai. Para peserta upacara pun panik dan bergegas menghampiri. Trenggono langsung ditandu keluar auditorium. Upacara pun tetap berlanjut dengan dipimpin Wakil Menteri KKP, Laksamana TNI (purn) Didit Herdiawan Ashaf yang menggantikan.
Jenazah Korban Pesawat
Sebelumnya, 3 jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan disemayamkan di Auditorium Madidihang Akademi Usaha Perikanan (AUP) Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/1/2026). Ketiga jenazah itu yakni:
- Kapten Andy Dahananto (pilot pesawat)
- Ferry Irawan (pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan/KKP)
- Yoga Naufal (pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan/KKP)
Terlihat dalam hal ini, upacara penghormatan dan pelepasan ketiga jenazah itu dibalut suasana duka. Keluarga ketiga duduk di bagian tengah yang di bagian kanan dan kirinya pegawai KKP yang berdiri untuk melakukan upacara tersebut. Tatapan para keluarga terlihat kosong ketika melihat ke peti jenazah yang dibalut bendera merah putih di depan mereka. Mereka hanya bisa terdiam dan meratapi sambil menyambut sejumlah orang yang bersalaman sambil memeluk untuk mengucapkan bela sungkawa.
Kondisi Menteri
Wakil Menteri KKP Laksamana TNI (purn) Didit Herdiawan Ashaf mengatakan saat ini kondisi Sakti sudah terkendali dan sudah sadar. Ia menyebut jika insiden yang menimpa Sakti karena yang bersangkutan kelelahan.
“Sudah sadar, ndak apa-apa, kecapean beliau, kecapean,” kata Didit kepada wartawan, Minggu.
Meski begitu, Didit tak menyebut lokasi perawatan Sakti usai jatuh pingsan tersebut.
Penemuan 10 Jenazah
Sebelumnya, total sudah 10 jenazah korban pesawat ATR ditemukan. Anggota tim SAR kini bernapas lega bahkan menangis haru setelah berhasil menemukan korban. Ia bernama Andi Sultan yang merupakan Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar.
Dalam video yang diterima dari Humas Kantor SAR Makassar pada Jumat (23/1/2026) pukul 09.20 WIB, terdengar tepuk tangan di Posko Operasi. Tampak juga Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Andi Sultan berpelukan dengan sejumlah perwira Kodam XIV/Hasanuddin Makassar. Saat menyampaikan laporannya di depan kamera, Andi Sultan tampak menahan tangis haru. Kedua matanya berkaca-kaca dan kalimatnya sempat terputus sebelum dibantu prajurit TNI yang mendampinginya.
“Alhamdulillah, paket (kantong jenazah) 9 pukul 08.55 Wita ditemukan. Dan (evakuasi) tetap dilakukan sesuai dengan rencana operasi tadi malam, yakni kembali kita mengupayakan untuk evakuasi, kami juga tetap melaksanakan misi utama dalam operasi yaitu, mencari (korban),” ujar Andi, dikutip Tribunnews.com.
“Dan pada pukul 09.16 Wita, alhamdulillah korban (paket 10) ditemukan,” ucap Andi yang menahan haru dan tak mampu melanjutkan kalimatnya untuk sesaat. Andi melanjutkan, paket yang ditemukan saat ini sedang dalam proses penanganan dan evakuasi tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan. Selain itu, kata dia, Tim SAR juga diperkuat dengan penambahan personel dari Basarnas Mamuju, Basarnas Kendari dan Basarnas Palu yang akan melakukan proses evakuasi terhadap korban.
“Saat ini sedang proses evakuasi,” ujarnya. Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan memastikan operasi SAR akan terus dilaksanakan secara maksimal dan terkoordinasi hingga seluruh temuan berhasil dievakuasi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Detik-Detik Pesawat Jatuh
Sebelumnya, pada Sabtu (17/1/2026), pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilaporkan jatuh di kawasan Pegunungan Sulawesi Selatan (Sulsel). Menunjukkan berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, posisi terakhir pesawat dari data AirNav Indonesia. Berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung, kawasan hilangnya pesawat yang dipiloti kapten senior, Andy Dahananto (53) tahun ini.
Dua pendaki yang saat itu berada di puncak gunung menjadi saksi mata insiden yang diperkirakan terjadi pukul 13.00 WITA. Reski (20), salah satu pendaki menyaksikan ada pesawat yang terbang rendang sebelum akhirnya menghantam lereng gunung dan mengalami ledakan. “Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski, dikutip dari Tribun-Timur.com. Ia pun segera mengambil ponselnya untuk merekam kejadian tersebut sebagai bukti awal. “Cepat sekali (kejadiannya),” tuturnya. Reski dan rekannya pun langsung memutuskan untuk turun gunung sambil membawa kabar duka.
Pesawat Sempat Ada Masalah
Sehari sebelum dilaporkan jatuh, Pesawat ATR 42-500 yang membawa 11 orang itu, mengalami permasalahan di bagian mesin. Petinggi IAT yang menjabat sebagai Direktur Operasional, Capt Edwin membenarkan hal itu. Pihak IAT mengklaim permasalahan sudah berhasil diperbaiki di hari pertama penemuan. Akan tetapi, Capt Edwin tidak membeberkan secara gamblang soal masalah mesin tersebut.
“Memang ada problem di enginering kami, tapi kami sudah tes.” “Problem kecil, tapi kami sudah perbaiki hari Jumat,” kata Edwin, dikutip dari Tribun-Timur.com.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











