My WordPress Blog

Proses DVI 13 jam ungkap identitas korban ATR 42-500

Tim DVI Polda Sulsel Berhasil Mengidentifikasi Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel berhasil mengungkap identitas korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Proses identifikasi yang berlangsung selama sekitar 13 jam akhirnya membuahkan hasil. Korban dikenali sebagai Deden Maulana, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Jenazah Deden Maulana tiba di Post Mortem Dokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Makassar, pada Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 08.54 WITA. Sebelumnya, jenazah dievakuasi dari dasar jurang yang dalamnya sekitar 200 meter. Lokasi penemuan berada di kawasan perbukitan Kabupaten Pangkep, dengan koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.

Area tersebut merupakan wilayah pegunungan dengan kontur lereng curam, vegetasi rumput dan semak, serta sering diselimuti kabut tebal. Secara geografis, lokasi kejadian berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar. Sementara itu, jaraknya diperkirakan sekitar 26 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, dengan arah utara dan timur laut dari bandara.

Setiba di Kantor Dokkes, tim DVI langsung melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan identitas korban. Setelah proses identifikasi selesai, jenazah diserahkan ke pihak keluarga pada pukul 22.05 WITA. Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, AKBP Elvis J, menyerahkan langsung dokumen hasil identifikasi DVI kepada pihak keluarga. Penyerahan tersebut diterima oleh istri korban, Vera.

Dokumen identifikasi yang dibungkus map kuning bertuliskan “DVI” juga diterima Vera. Berkas tersebut dipeluk erat sambil menahan tangis. Di hadapan peti jenazah suaminya, Vera tampak terisak. Beberapa kali ia menunduk dan memandangi peti yang berisi jasad orang tercinta.

Kabid Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, menjelaskan bahwa kendala utama identifikasi terletak pada kondisi jenazah. Penentuan identitas sangat bergantung pada apakah sidik jari masih dapat diperiksa. “Kalau kendala, memang sangat tergantung kondisi jenazah. Kalau sidik jarinya masih bisa diperiksa, itu bisa cepat. Tapi kalau sidik jari sudah sulit diperiksa, maka kita lakukan pemeriksaan pembanding yang lain,” ujar Haris.

Ia menegaskan, meski sidik jari menjadi metode utama, tim DVI tidak serta-merta langsung beralih ke pemeriksaan DNA. Seluruh tahapan tetap dilakukan secara bertahap sesuai standar identifikasi. “Saat ini masih dalam proses. Kami bekerja sejak pagi setelah menerima jenazah, dan tim bekerja maksimal,” katanya.

Haris berharap, mudah-mudahan identitas korban laki-laki itu segera terungkap. “Tentu dengan tetap mengutamakan ketepatan,” kata Haris. Terkait kemungkinan usia korban menjadi kendala dalam pengungkapan identitas, Muhammad Haris menyebut hal tersebut masih dapat ditelusuri melalui sejumlah indikator medis. “Umur bisa ditentukan dari gigi, kemudian juga dari beberapa profil lainnya,” katanya.

Ia juga meluruskan meski pemeriksaan pembanding dilakukan, proses identifikasi tetap mengacu pada metode primer sesuai standar DVI. “Metode primer tetap kami gunakan. Kami tidak meninggalkan prosedur utama dalam identifikasi,” tegasnya. Ia menegaskan tim DVI tidak menetapkan target waktu tertentu dalam proses identifikasi. Menurutnya, kecepatan bukanlah prioritas utama. “Kami tidak terburu-buru untuk menetapkan identitas. Yang kami perlukan adalah ketelitian dan ketepatan. Identitas korban harus benar-benar pasti,” ujarnya.

Ia mengakui, proses identifikasi antara satu jenazah dengan jenazah lainnya dapat sangat berbeda. Meskipun korban ditemukan dalam waktu yang relatif bersamaan. “Ya, berbeda. Walaupun ditemukan hampir bersamaan, ada korban yang jatuh di kedalaman sekitar 400 meter, sementara korban lainnya di kedalaman sekitar 200 meter. Kondisi ini tentu memengaruhi kondisi jenazah,” jelas Muhammad Haris.

Saat ini Tim Gabungan masih berjibaku mencari korban lainnya di tengah cuaca buruk melanda hampir semua wilayah di Sulsel, termasuk Kabupaten Pangkep.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *