My WordPress Blog

Siswa SMA di Ambon Dianiaya Dua Kali, Ibu Korban Minta Polisi Tindak Tegas

Kasus Penganiayaan Berulang terhadap Siswa SMA di Ambon

Seorang siswa SMA berinisial GM (16), di Ambon, diduga menjadi korban penganiayaan berulang dalam dua peristiwa berbeda sepanjang Januari 2026. Ironisnya, hingga kini laporan keluarga korban belum menunjukkan perkembangan berarti di kepolisian.

Ibu korban, Patricia Souhoka (33) yang akrab disapa Tessa, mengungkapkan bahwa anaknya yang masih duduk di bangku kelas II SMA pertama kali dianiaya pada Kamis (8/1/2026) siang. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.50 WIT. Saat itu, Tessa menerima pesan darurat dari anaknya yang sedang berada di rumah temannya di kawasan Kadewatan, lorong depan KFC Kakialy, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

“Anak saya chat bilang, Mama tolong beta dolo. Dia bilang dia mau diserang,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (21/1/2026). Mendapat kabar tersebut, Tessa langsung bergegas dari rumahnya di Passo menuju lokasi. Namun setibanya di tempat kejadian, ia hanya mendapati kerumunan warga. Teman-teman GM mengatakan bahwa korban sudah pulang lebih dulu.

“Mereka bilang GM sempat dipukul satu orang, tapi tidak tahu siapa pelakunya karena tidak pakai seragam sekolah,” jelasnya. Sesampainya di rumah, Patricia mendapati kondisi anaknya memprihatinkan. GM mengalami luka robek di bibir atas dan bawah, mimisan, serta memar di bagian dada. Keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Mapolresta Ambon dengan Nomor Laporan Polisi: LP/B/25//2026/SPKT/POLRESTA AMBON/POLDA MALUKU. Korban juga telah menjalani visum di RS Bhayangkara Ambon. Namun hingga beberapa hari berlalu, Patricia mengaku belum ada perkembangan dari laporan tersebut. Bahkan, GM belum pernah dipanggil untuk memberikan keterangan.

Belum tuntas kasus pertama, GM kembali menjadi korban penganiayaan massal. Insiden kedua terjadi pada Senin (12/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIT, tepat di depan SMA Negeri 1 Ambon, seusai jam pulang sekolah. Menurut Tessa, saat itu GM sedang menuju area parkiran motor ketika didatangi seorang pemuda berinisial V yang sempat merangkulnya dan mengajak berjalan ke arah Kontempo.

“Tiba-tiba datang G dan langsung pukul anak saya. Disusul ER yang juga memukul. Juga EZ yang memukul sampai anak saya sampai terjatuh, hingga akhirnya dikeroyok sekitar 20 orang,” tuturnya. Dari puluhan pelaku, GM mengenali empat orang, masing-masing dua alumni SMA Negeri 2 Ambon dan dua alumni SMA Negeri 1 Ambon. Bahkan, V yang sempat merangkul GM juga ikut memukul korban. Aksi pengeroyokan itu baru terhenti setelah Satpol PP datang ke lokasi dan membawa GM kembali ke sekolah. Para pelaku kemudian melarikan diri.

Mendapat kabar tersebut, Patricia dan suaminya langsung menuju sekolah dan membawa GM ke Mapolresta Ambon untuk membuat laporan kedua. Laporan tersebut teregister dengan Nomor: LP/B/45/I/2026/Polresta Ambon/Polda Maluku tertanggal 12 Januari 2026. Korban kembali menjalani visum dan telah diambil keterangan awal. Meski demikian, Patricia menyebut hingga kini belum satu pun saksi diperiksa dan para terduga pelaku belum juga dipanggil oleh penyidik.

“Anak saya trauma berat. Dia bahkan bilang takut ditikam. Pelaku masih bebas, belum ditahan,” katanya dengan nada cemas. Patricia berharap kepolisian segera bertindak tegas dan profesional. Ia menegaskan keselamatan dan nyawa anaknya kini terancam.

“Saya mohon polisi segera bertindak. Ini bukan sekali, tapi sudah dua kali. Nyawa anak saya dalam bahaya,” tegasnya.

Terpisah dari itu, Kasat Reskrim Polresta Ambon, Kompol Androyuan Elim saat dikonfirmasi mengaku kasus tersebut sementara ditangani oleh penyidik PPA lantaran korban anak di bawah umur. “Sementara proses penyelidikan untuk pemanggilan saksi-saksi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/1/2026). Kompol Elim memastikan setiap kasus ditangani tanpa pandang bulu dan setiap pelaku kejahatan akan diproses sesuai perbuatannya. “Setiap kasus pasti ditangani secara profesional dengan tetap memperhatikan prosedur dan aturan yang berlaku,” pungkasnya.


Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *