My WordPress Blog

Profil Noe Letto, Anak Cak Nun yang Jadi Anggota Dewan Pertahanan Nasional, Lulusan Universitas Luar Negeri!

Profil Noe Letto, Musisi Sekaligus Anak Cak Nun yang Dilantik Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional



Noe Letto, yang juga dikenal dengan nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh, baru saja dilantik sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional. Pelantikan ini dilakukan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin pada hari Kamis, 15 Januari 2026. Tugas utama Sabrang adalah mengisi kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi. Penunjukan ini menimbulkan banyak pertanyaan publik terkait latar belakang pendidikan dan karier sang musisi.

Sebagai putra dari budayawan ternama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Noe Letto dikenal tidak hanya sebagai vokalis sekaligus penulis lagu dari grup band Letto, tetapi juga memiliki latar belakang pendidikan yang sangat mentereng. Berikut adalah profil lengkapnya.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier

Noe lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979. Ia merupakan putra sulung dari Emha Ainun Nadjib dari pernikahan pertamanya dengan Neneng Suryaningsih. Selain itu, ia juga menjadi anak sambung dari penyanyi dan aktris Novia Kolopaking.

Pada tahun 1997, Noe memutuskan untuk melanjutkan studinya di Universitas Alberta, Kanada. Meski sempat menghadapi tantangan ekonomi akibat krisis moneter, ia berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 2003. Selama kuliah, ia bekerja paruh waktu untuk mendukung kebutuhan hidupnya. Tidak hanya itu, Noe berhasil meraih gelar Bachelor of Science (B.Sc) dengan mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu Matematika dan Fisika.

Setelah kembali ke Indonesia, Noe aktif dalam dunia musik. Pada tahun 2004, ia bersama rekan-rekan sekolahnya dari SMU 7 Yogyakarta membentuk grup band Letto. Album perdana mereka, Truth, Cry, and Lie, dirilis pada akhir tahun 2005 dan sukses besar di pasaran hingga meraih penghargaan double platinum. Lagu-lagu Letto dikenal dengan lirik yang puitis dan penuh makna filosofis.

Perluasan Karier di Dunia Seni Peran

Selain dunia musik, Noe juga melebarkan sayapnya di dunia seni peran. Pada tahun 2008, ia mendirikan rumah produksi bernama Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Melalui rumah produksi tersebut, Noe bertindak sebagai produser untuk beberapa film layar lebar yang sukses di ajang penghargaan, seperti Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya (2012), dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015).

Bahkan, berbagai karya filmnya berhasil masuk dalam jajaran nominasi Festival Film Indonesia dan memenangkan penghargaan di Festival Film Bandung.

Kehidupan Pribadi dan Penunjukan sebagai Tenaga Ahli

Meskipun sering menjaga privasi, Noe diketahui menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin dan telah dikaruniai dua orang anak. Selama ini, ia lebih dikenal sebagai musisi dan tokoh budaya, namun kini ia ditunjuk sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal (Setjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa penunjukan Sabrang tak lepas dari kebutuhan institusi tersebut. Sabrang, yang menjabat sebagai Tenaga Ahli Madya, akan memberikan kajian mendalam di bidang sosial dan kebudayaan.

“Benar, Sabrang Mowo Damar Panuluh merupakan salah satu dari 12 tenaga ahli yang dilantik dan menjabat sebagai Tenaga Ahli Madya di lingkungan Dewan Pertahanan Nasional,” kata Rico. “Dalam mekanismenya, tenaga ahli menyampaikan masukan dan rekomendasi melalui forum dan tata kerja Dewan Pertahanan Nasional sesuai struktur yang berlaku, untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan kolektif pimpinan Dewan, termasuk Menteri Pertahanan.”

“Dengan demikian, keputusan tetap berada dalam koridor kelembagaan dan kepentingan strategis pertahanan negara,” imbuhnya.

Kesimpulan

Profil Noe Letto menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang musisi, tetapi juga memiliki latar belakang pendidikan yang kuat dan kontribusi signifikan di berbagai bidang. Penunjukannya sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional menandai peran baru dalam kariernya, yang menunjukkan potensi dan dedikasinya terhadap bangsa dan negara.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *