Pandji Pragiwaksono Menghadapi Kritik, Somasi, Demo, dan Laporan Polisi
Pandji Pragiwaksono, komika ternama di Indonesia, kini tengah menghadapi berbagai masalah setelah pertunjukan stand-up comedy spesialnya yang bertajuk Mens Rea viral. Materi yang disajikan dalam acara tersebut menimbulkan pro dan kontra, termasuk kritik dari tokoh-tokoh publik, somasi etik dari kelompok tertentu, aksi demonstrasi, hingga laporan polisi terkait dugaan pelanggaran hukum.
Berikut ini adalah beberapa masalah utama yang dihadapi Pandji akibat konten Mens Rea:
Dikritik oleh Tompi
Tompi, seorang penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, memberikan kritik terhadap salah satu materi dalam Mens Rea yang menyentuh kondisi fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai bahwa menertawakan fisik seseorang bukanlah bentuk kritik cerdas, melainkan kemalasan berpikir. Tompi menjelaskan secara medis bahwa kondisi mata yang disebut “mengantuk” dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis, suatu kondisi yang bisa bersifat bawaan atau fungsional.
“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” tulis Tompi di akun Instagram pribadinya. Ia juga mengajak publik untuk lebih fokus pada gagasan dan kebijakan daripada menyerang fisik. Meski demikian, Tompi tetap memuji keseluruhan materi Mens Rea yang ia tonton di Netflix. “Banyak benarnya,” tambahnya.
Pandji Pragiwaksono merespons kritik Tompi dengan lapang dada. Ia menulis singkat, “Keren Tom. Terima kasih koreksinya.”
Disomasi oleh Pendukung Dharma Pongrekun
Juru bicara pendukung Dharma Pongrekun melayangkan somasi etik terbuka kepada Pandji Pragiwaksono terkait materi Mens Rea. Mereka menuntut klarifikasi publik dalam waktu 14 hari. Somasi ini dianggap sebagai bentuk keberatan moral atas konten komedi yang dinilai melampaui batas kritik politik.
Pihak pendukung menilai bahwa materi Pandji tidak hanya menguji gagasan dan rekam jejak Dharma Pongrekun, tetapi juga menyentuh ranah penghakiman terhadap pilihan politik masyarakat. Somasi ini dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap perbedaan pandangan politik dan tanggung jawab etis di ruang publik.
“Kritik seharusnya berhenti pada pengujian gagasan, visi, atau rekam jejak dalam Pilkada DKI 2024. Yang menjadi persoalan adalah ketika narasi humor itu bergerak lebih jauh, yakni mengarah pada penghakiman terhadap pilihan politik warga,” ujar Ikhsan, seperti dikutip dari KompasTV.
Didemo oleh AMNU dan AMM
Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM) menggelar aksi demonstrasi pada 7 Januari 2026 di depan kantor Komdigi dan KPI menanggapi komedi Pandji Pragiwaksono dalam Mens Rea. Mereka menilai materi Pandji mengandung penggiringan opini, rasisme, body shaming, ujaran kebencian, dan fitnah.
Demonstran menuntut Pandji meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan masyarakat, serta pemerintah dan aparat penegak hukum menindak dugaan pelanggaran hukum. Mereka menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus diiringi tanggung jawab moral, hukum, dan kebangsaan.
“Pandji telah menodai nilai-nilai komedi dengan melontarkan materi-materi yang rasis, menggiring opini tanpa bukti, serta merendahkan identitas dan kapasitas NU dan Muhammadiyah,” kata Rizki Abdul Rahman Wahid selaku koordinator aksi.
Dilaporkan ke Polisi
Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghasutan dan penistaan agama terkait pertunjukan komedi Mens Rea. Laporan yang masuk pada 8 Januari 2026 telah diproses polisi, termasuk klarifikasi dan analisis barang bukti, dengan nomor registrasi LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.
Pelapor, Rizki, koordinator AMNU dan AMM, merasa tersinggung atas tudingan Pandji terhadap organisasi mereka dan pernyataannya soal pemilihan pemimpin serta stereotip etnis Sunda. Pandji dilaporkan berdasarkan Pasal 300 dan 301 KUHP baru, dengan ancaman hukuman 3–4 tahun penjara.
“Dalam potongan video yang kami lihat, Pandji menyampaikan pernyataan yang menyebut NU dan Muhammadiyah seolah ikut serta dalam praktik politik balas budi sehingga memperoleh pengelolaan tambang,” kata Abdul Rahman Wahid.
Pertunjukan Mens Rea Pandji Pragiwaksono
Pertunjukan stand-up comedy spesial komika Pandji Pragiwaksono, Mens Rea, tayang di Netflix sejak 27 Desember dan menjadi viral. Mens Rea berhasil menduduki peringkat pertama kategori TV Shows di Netflix pada Senin (5/1/2026). Materi yang disajikan dalam acara tersebut dinilai kocak dan berani, dengan banyak isu sosial dan politik yang diangkat.
Dalam pertunjukan itu, Pandji banyak mengulas isu sosial dan politik yang sedang hangat. Ia menghadirkan sudut pandang observasional yang tajam, lugas, dan berani. Lewat materinya, Pandji mengkritik kekacauan dinamika politik setelah Pemilu 2024. Perilaku dan sikap pejabat publik menjadi salah satu sasaran utama pembahasannya.
Sebelumnya, Mens Rea telah dipentaskan dalam rangkaian tur ke 10 kota di Indonesia sepanjang tahun 2025. Puncak acara Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada 30 Agustus 2025. Acara itu memecahkan rekor sebagai pertunjukan komedi terbesar di Asia Tenggara dengan 10.000 penonton.
Acara ini telah tersedia di Netflix dan bahkan trending. Dalam konferensi pers pada April 2025, Pandji menegaskan bahwa pertunjukan ini dimaksudkan sebagai sarana edukasi politik melalui komedi.
“Ini bentuk edukasi politik lewat komedi. Penginnya membuat orang lebih mengerti bahwa kita sebagai pelaku demokrasi itu seharusnya lebih pintar dan mawas diri,” ungkap Pandji Pragiwaksono.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











