My WordPress Blog

Pratu Farkhan Marpaung Meninggal Diduga Dianiaya Senior, Ayah: Jangan Pernah Mengenal Kopral Itu

Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung di Tangan Senior

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung meninggal dunia saat bertugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini, Rabu (31/12/025). Kecelakaan yang menimpa putra bungsu keluarga ini diduga terjadi akibat tindakan kekerasan dari seniornya yang berpangkat Kopral. Kabar kematian Farkhan membuat keluarganya histeris dan mengalami duka yang sangat dalam.

Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, pecah saat menceritakan tentang sang anak. Ia tampak tidak kuasa menahan rasa sedihnya. Tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan. Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.

Dengan kedua tangan, ia mendekap erat bingkai foto Pratu Farkhan, potret sang anak mengenakan seragam loreng TNI seolah tak ingin melepaskan kenangan terakhir. Pelukan pada foto itu menjadi simbol ikatan batin yang terputus secara tragis, sekaligus penyangga di tengah ambruknya perasaan.

Setiap tarikan napasnya tampak berat, menggambarkan amarah, pilu, dan ketidakpercayaan atas kepergian sang anak. “Dia menelpon saya sebelum meninggal itu, dibilangnya Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja disini Mak,” ujar Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, Jumat (2/1/2026).

“Tapi anakku tetap aja di pukul dianiaya sama kopral itu. Tak percaya orang itu, anakku sakit,” katanya sambil tubuh terkulai tak berdaya. Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga ditangan seniornya sendiri.

Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung, mengaku mendapatkan kabar dari keponakannya yang juga bertugas di satuan TNI. Kabar tersebut membuat jantung Zakaria nyaris terhenti karena mendengar nyawa anaknya meninggal bukan diujung senjata kelompok sparatis, melainkan di bawah tangan seniornya sendiri.

“Aku bicara hari ini, bukan hanya untuk anakku Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, tapi untuk anak-anak semua yang berada di level terendah di TNI atau tamtama,” ujar ayah Korban, Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2025). Katanya, tantama hingga saat ini masih menjadi bahan Bullyan bagi para seniornya sehingga tidak menutup kemungkinan hingga menjerumus ke kekerasan.

“Aku bukan soal sebagai ayah Pratu Farkhan, tapi aku mewakilkan mamak-mamak, ayah-ayah yang anaknya saat ini mengabdi di TNI. Dimana tanggung jawab seorang pemimpin,” katanya. Ia mengaku, bangga anaknya dapat menjadi TNI, sebab keluarga besarnya berasal dari satuan loreng hijau dan satuan coklat polri.

Namun, dia mengaku trauma dengan pakaian dinas TNI setelah anaknya diduga mengalami penganiayaan oleh seniornya. “Seragam TNI itu adalah seragam kebangganku, seragam kebanggan anakku. Tapi aku berharap, jangan ada yang pakai baju dinas TNI untuk ke rumah duka kami ini. Aku trauma,” katanya. Katanya, apabila melihat pria berpakaian dinas, ia mengira bahwa yang datang adalah terduga pelaku berpangkat kopral.

“Kalau tidak, jumpakan aku dengan Kopral kurang ajar itu. Biar beradu nyawa aku juga sanggup dengan dia itu,” pungkasnya.

Kronologi Kematian Pratu Farkhan

Bagaimana kronologi kematian Pratu Farkhan? Zakaria Marpaung, ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung mengungkap bagaimana putra kesayangannya itu tewas diduga dianiaya senior ketika ditemui di kediamannya yang ada di Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Jumat (2/12/2026).

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung tidak enak badan, menghangatkan tubuh di dekat perapian. Datang senior berpangkat Sersan. Kemudian Sersan itu membantu memijat Farkhan. Datang senior lain berpangkat kopral. Selanjutnya, Kopral ini memanggil Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Kopral tadi kemudian menanyai Farkhan. Ia mengatakan, putranya itu dipaksa mengambil sikap tobat.

“Aku bangga sama anak ku. Yang ku kecewakan, anak ku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anak ku mati di bawah tangan dan kaki seorang TNI,” kata Zakaria, kemudian terisak mengenang putranya.


Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *