My WordPress Blog

Permintaan Terakhir Evia Maria: Jangan Biarkan Orang Itu

Permintaan Terakhir Evia Maria Mangolo Usai Diduga Dilecehkan

Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswa yang dikenal baik dan rajin, meninggalkan surat terakhirnya yang mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dialaminya. Surat tersebut ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd. Dalam surat itu, ia menyebutkan bahwa peristiwa bermula dari sebuah pesan singkat yang diterimanya dari dosen berinisial DM.

“Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya. Beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab, ‘Maria tidak tau ba urut Mner’. Mner bilang, ‘Mener capek sekali’. Dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu,” tulis Evia Maria Mangolo.

Surat itu juga mencerminkan tekanan batin yang ia alami. “Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPP. Dampak yang saya rasakan adalah trauma dan ketakutan. Setiap bertemu DM, saya merasa malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan. Saya merasa tertekan dengan masalah ini,” tulis Maria.

Perjalanan yang Mengkhawatirkan

Peristiwa berlanjut ketika korban diminta oleh Mner Danny untuk naik ke mobilnya. Tanpa kecurigaan berlebih, korban menuruti permintaan tersebut. Namun sejak awal perjalanan, rasa tidak nyaman mulai muncul. Korban sempat menanyakan tujuan perjalanan, termasuk kaitannya dengan urusan akademik dan nilai. Namun jawaban yang diterimanya justru membuat kebingungan semakin dalam.

“Beliau hanya bilang capek sekali,” tulis korban. Rasa tidak aman kian meningkat. Korban mengirim pesan kepada temannya dan membagikan live location secara diam-diam. Baterai ponsel yang kian menipis membuatnya panik, takut komunikasi terputus sewaktu-waktu. Ia bahkan meminta temannya bersiaga, memantau pergerakannya, dan siap mengikuti jika mobil melaju lebih jauh.

Kejadian yang Mengubah Segalanya

Mobil sempat berhenti di samping gedung pascasarjana. Di lokasi itu, korban mengaku dipaksa pindah ke kursi depan. Ia menolak, namun tetap didesak dengan alasan “melangkah saja”. Dalam kondisi tertekan, korban akhirnya berpindah tempat duduk, meski perasaan tidak nyaman terus menghantuinya. Mobil kembali melaju hingga ke depan Program Studi Psikologi.

Setibanya di lokasi, situasi berubah semakin mencekam. Korban mengaku dosen tersebut merebahkan sandaran kursi dan kembali meminta diurut. Ia menolak, dengan alasan tidak tahu caranya. Namun penolakan itu tak menghentikan tindakan terduga pelaku. Ia justru memberi contoh langsung. Korban menyebut tangan dosen tersebut mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya, lalu berpindah ke paha korban tanpa izin. Ucapan bernuansa seksual pun dilontarkan, membuat korban merasa terhina dan ketakutan.

Kecurigaan dan Trauma yang Mendalam

Maria menegaskan bahwa tindakan tersebut telah melewati batas, tetapi respons yang diterima justru semakin menekan kondisi mentalnya. Ketika korban meminta pulang dengan alasan temannya sudah menunggu, dosen tersebut sempat meminta maaf dan menyebut dirinya “keenakan”. Namun situasi kembali memburuk. Pelaku meminta izin untuk mencium korban. Maria menolak keras sambil menangis. Meski demikian, ia mengaku pipinya tetap ditarik dan dicium secara paksa. Korban menutupi mulut dengan satu tangan dan mendorong pelaku dengan tangan lainnya.

Di tengah kejadian itu, mobil sempat melintas di depan dua petugas keamanan kampus. Pelaku hanya menurunkan kaca sedikit dan menyapa satpam, seolah tak ada apa pun yang terjadi. Korban akhirnya diturunkan di depan prodi sekitar pukul 15.03 WITA. Ia mengaku merasa jijik, marah, dan kecewa karena perilaku dosen tersebut jauh dari nilai seorang pendidik.

Otopsi dan Penyebab Kematian

Setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di jasad Evia, pihak keluarga pun akhirnya memutuskan untuk melakukan otopsi. Menurut Ketsia, tante dari Evia bercerita, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya.

Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas. “Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi,” katanya. Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari. Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi. Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis. Namun batal karena ada otopsi.

Kehidupan Sebelum Tragedi

Sebelum ditemukan tewas tragis, Evia dikenal sebagai pribadi yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam. “Ia memang pendiam, tapi rajin,” katanya. Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok. Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas. “Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya,” katanya.

Evia juga pintar. Selain itu baik hati. Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar. Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu. Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos. “Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia),” katanya.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *