CARACAS,
Pemerintah Venezuela mengecam tindakan yang diduga dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap wilayah negara tersebut. Insiden ini terjadi pada dini hari Sabtu (3/1/2026), setelah sejumlah ledakan terdengar di Ibu Kota Caracas dan La Guaira, sebuah pelabuhan di utara kota tersebut. Ledakan terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat (13.00 WIB), disertai suara pesawat terbang rendah yang melintas di atas kota.
Venezuela menyebut peristiwa ini sebagai agresi militer yang sangat serius. Pernyataan resmi dari pemerintahan Presiden Nicolas Maduro mengatakan bahwa negara ini menolak, menyangkal, dan mengecam tindakan yang dituding dilakukan oleh Washington. Status keadaan darurat nasional juga ditetapkan oleh Maduro.
Sementara itu, Gedung Putih dan Pentagon belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan keterlibatan pasukan AS dalam serangan ini. Namun, laporan dari media seperti Fox News dan CBS News menyebutkan bahwa pasukan Amerika memang terlibat dalam operasi tersebut.
Kepanikan warga di tengah malam
Warga Caracas mulai panik saat ledakan terdengar. Banyak orang keluar rumah untuk mencari sumber suara ledakan dan dentuman. Emmanuel Parabavis, seorang karyawan humas berusia 29 tahun, mengatakan bahwa ia mendengar ledakan di dekat Benteng Tiuna. Ia juga menyebutkan bahwa suara senapan mesin terdengar, serta banyak ledakan dan tembakan.
Menurut beberapa warga, aliran listrik padam di beberapa bagian kota setelah serangan terjadi. Francis Pena (29) mengaku terbangun karena suara ledakan. Pacarnya membangunkannya dan berkata, “Mereka sedang mengebom.” Ia menambahkan bahwa ia tidak bisa melihat ledakannya, tetapi mendengar pesawat-pesawat yang terbang. Mereka mulai menyiapkan tas berisi barang-barang penting seperti paspor, kartu, uang tunai, lilin, pakaian ganti, dan makanan kaleng.
Carmen Hidalgo (21), seorang pegawai kantoran, mengungkapkan bahwa seluruh daratan bergetar. Ia mendengar ledakan dan pesawat di kejauhan. Asap terlihat membubung dari dua fasilitas militer utama di kota tersebut, yakni Pangkalan Udara La Carlota di pusat kota dan kompleks militer Fuerte Tiuna, salah satu tempat tinggal Maduro. Bandara Higuerote di bagian timur Caracas juga dilaporkan menjadi target.
Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang merupakan sekutu regional Venezuela, juga mengonfirmasi adanya serangan ke Caracas. Dalam pernyataan di platform X, Petro menulis, “Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka (AS) telah menyerang Venezuela.” Ia menyerukan agar Dewan Keamanan PBB segera menggelar sidang darurat guna membahas serangan tersebut.
Ketegangan AS-Venezuela memuncak
Sebelum insiden ini, Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan kapal induk dan kapal perang ke Karibia dalam rangkaian operasi yang disebut kampanye anti-penyelundupan narkoba. Pada Senin (29/12/2025), Trump mengatakan bahwa AS telah menyerang dan menghancurkan dermaga yang diduga digunakan kapal penyelundup narkoba asal Venezuela. Jika dikonfirmasi, serangan itu akan menjadi operasi darat pertama yang dilakukan AS terhadap wilayah Venezuela.
Maduro sendiri belum menyatakan secara langsung apakah serangan tersebut benar terjadi, tetapi pada Kamis (1/1/2026) ia mengaku terbuka untuk menjalin kerja sama dengan Washington. Adapun Trump dan pemerintahan AS menuding Maduro memimpin kartel narkoba internasional, tetapi tuduhan itu dibantah keras oleh pemimpin Venezuela tersebut.
Maduro menegaskan, tekanan dari AS merupakan bagian dari strategi menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, AS semakin meningkatkan tekanannya terhadap Venezuela, termasuk menutup wilayah udaranya secara informal dan memberlakukan lebih banyak sanksi ekonomi. Washington juga memerintahkan penyitaan sejumlah kapal tanker bermuatan minyak Venezuela.
Sejak September 2025, pasukan AS melakukan berbagai serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Laut Karibia dan Samudera Pasifik bagian timur, yang menurut AS bagian dari operasi penumpasan penyelundupan narkoba. Menurut laporan militer Amerika, sedikitnya 107 orang tewas dalam serangkaian operasi tersebut.











