Motif Siswi SD Bunuh Ibu Kandung di Medan Terungkap
Polrestabes Medan telah menetapkan AL (12) sebagai tersangka pembunuhan terhadap ibu kandungnya. Peristiwa ini terjadi di Medan, Sumatera Utara, dan AL membunuh korban dengan menggunakan pisau dapur hingga 20 tusukan. Dalam konferensi pers yang digelar oleh Polrestabes Medan pada Senin (29/12/2025), Kapolrestabes Medan, Kombes Calvijn Simanjuntak, mengungkap tiga motif utama dari aksi AL.
Motif pertama adalah rasa sakit hati karena kakak AL dipukul oleh korban. Kedua, AL merasa marah karena ayahnya diancam dengan pisau. Ketiga, AL kesal karena game online yang ia mainkan dihapus. Selain itu, AL sering memainkan game yang menggunakan pisau serta menonton serial anime yang memiliki adegan menggunakan pisau.
AL juga memiliki obsesi terhadap game Murder Mystery yang memperlihatkan adegan pembunuhan. Selain itu, AL sering menonton episode 271 dari serial anime DC yang memiliki adegan pembunuhan menggunakan pisau. Hal ini mungkin berpengaruh besar terhadap pikiran AL.
Kronologi Awal Pembunuhan
Korban, seorang ibu rumah tangga, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di dalam kamar tidurnya. Penemuan dilakukan oleh anak pertama korban sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, anak tersebut berteriak meminta bantuan. Suami korban langsung turun dari lantai dua dan melihat istrinya sudah tergeletak di atas kasur.
Suami korban segera menelepon rumah sakit Colombia untuk meminta pertolongan. Setibanya di lokasi, dokter langsung mengecek kondisi korban, namun nyawa korban tidak tertolong. Korban ditemukan dengan luka tusukan di seluruh tubuh dan darah berceceran di lantai.
Petugas Polsek Medan Sunggal dan Tim INAFIS Polrestabes Medan segera tiba di lokasi kejadian. Jasad korban kemudian dibawa ke rumah sakit Bhayangkara untuk dilakukan otopsi lebih lanjut. Menurut informasi yang diperoleh, diduga AL menjadi pelaku pembunuhan terhadap ibunya sendiri. Hingga saat ini, AL masih didampingi ayah kandungnya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil Tes DNA Mengungkap Fakta Baru
Hasil tes DNA akhirnya mengungkap fakta baru dalam kasus ini. Sebelumnya, ada kecurigaan bahwa suami korban terlibat dalam kejadian tersebut. Namun, hasil tes DNA menunjukkan bahwa DNA suami korban tidak ditemukan di lokasi kejadian.
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara melakukan pemeriksaan DNA di lokasi kejadian. AKBP Hendri Ginting, Kasubbid Kimia Biologi Bid Labfor Polda Sumut, menyatakan bahwa tidak ada DNA sang bapak yang ditemukan. Hasil tes DNA hanya menemukan DNA kakak AL dan korban pada pisau. DNA ibu ditemukan karena pisau tersebut sering digunakan di dapur.
Sementara itu, DNA kakak AL ditemukan karena tangannya sempat tersayat saat mencoba merebut pisau dari genggaman AL. Darah yang ditemukan di lantai 1 menuju lantai 2 juga merupakan DNA kakak AL. Di dalam kamar lantai dua, tidak ditemukan DNA selain milik kakak AL.
Kenapa Anak Bisa Nekat?
Menurut sumber dari aladokter.com, anak bisa nekat membunuh orangtuanya karena kombinasi tekanan psikologis, pola asuh yang salah, kekerasan, gangguan mental, dan hilangnya ikatan emosional. Tindakan tersebut bukan sekadar “nakal” atau “jahat”, tetapi hasil dari kondisi yang gagal ditangani sejak awal.
Beberapa faktor yang bisa memicu perilaku ekstrem seperti ini antara lain:
- Kekerasan dalam rumah tangga: Anak yang terus-menerus mengalami kekerasan fisik, verbal, atau emosional bisa menyimpan dendam dan akhirnya meledak dalam bentuk ekstrem.
- Gangguan mental: Kondisi seperti depresi berat, psikosis, atau gangguan kepribadian bisa membuat anak kehilangan kontrol dan melakukan tindakan fatal.
- Pola asuh otoriter atau salah: Orangtua yang terlalu menekan, tidak memberi ruang dialog, atau mendidik dengan ancaman bisa menimbulkan kebencian mendalam.
- Pengaruh lingkungan: Pergaulan buruk, paparan kekerasan dari media, atau dorongan teman sebaya bisa memperkuat perilaku agresif.
- Konflik ekonomi: Ada kasus di mana anak merasa tertekan karena masalah uang, atau kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi.
- Kurangnya komunikasi dan kasih sayang: Anak yang merasa tidak dicintai atau tidak dihargai bisa kehilangan ikatan emosional dengan orangtuanya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











