My WordPress Blog

Respons Pengacara Jokowi Soal Arsul Sani: Buktikan Ijazah ke Publik, Tak Setara!

Perbedaan Polemik Ijazah Jokowi dan Arsul Sani

Polemik mengenai ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Kuasa hukum Jokowi, Yakup Hasibuan, menegaskan bahwa membandingkan kasus ijazah Jokowi dengan Arsul Sani tidak dapat dilakukan secara langsung atau “apple-to-apple”. Hal ini disampaikan setelah Arsul Sani dengan cepat menunjukkan bukti kelulusannya saat diterpa isu serupa pada November 2025. Sementara itu, ijazah Jokowi baru diperlihatkan oleh penyidik Polda Metro Jaya dalam Gelar Perkara Khusus (GPK) pada 15 Desember 2025 lalu.

Serangan Personal dan Incaran terhadap Keluarga

Yakup menyebut bahwa perbedaan mendasar antara kedua kasus tersebut terletak pada eskalasi serangan yang diterima. Dalam program ROSI di kanal YouTube KompasTV (18/12/2025), Yakup membeberkan bahwa polemik ijazah Jokowi telah bergeser dari sekadar mencari kebenaran menjadi upaya pembunuhan karakter yang sistematis.

  • Intimidasi Fisik:

    Yakup menyebut tidak ada massa yang menggeruduk rumah Arsul Sani atau mengancam untuk memenjarakannya di Nusakambangan.

  • Target Keluarga:

    Serangan ijazah Jokowi kini telah merembet ke anak-anaknya, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

    “Pak Arsul Sani setelah menunjukkan [ijazah], selesai. Kalau Pak Jokowi, situasinya sangat berbeda. Sudah ada unsur-unsur lain yang kami pandang bukan mencari kebenaran lagi, tapi upaya mendiskreditkan,” tegas Yakup.

Bukti Gelar Perkara “Ditunjukkan Pun Tak Selesai”

Yakup Hasibuan memberikan bukti nyata dari jalannya gelar perkara khusus (GPK) awal pekan ini. Meski penyidik telah menunjukkan ijazah asli yang disita sejak Juli 2025, lengkap dengan bukti fisik berupa emboss dan watermark, pihak Roy Suryo cs tetap mencari celah keraguan. Beberapa pihak masih mempertanyakan aspek subjektif seperti kualitas foto yang dianggap “terlalu bersih”. Hal ini, menurut Yakup, membuktikan bahwa menunjukkan ijazah sejak awal pun tidak menjamin polemik akan berakhir.

Menanti Sikap “Gentleman” para Tersangka

Yakup Hasibuan menyayangkan sikap para tersangka yang hingga kini tidak menunjukkan itikad baik meski bukti fisik sudah berada di depan mata. Ia menilai tidak ada satu pun dari delapan tersangka yang bersedia mengakui kekeliruan mereka secara ilmiah.

“Kami menunggu, ada enggak salah satu tersangka yang akhirnya mengatakan secara gentleman, ‘Oke saya salah, saya baru lihat ini ternyata benar ada.’ Sampai sekarang juga tidak ada,” pungkas putra pengacara senior Otto Hasibuan tersebut.

Sekilas tentang Perbedaan Tudingan Ijazah Palsu antara Jokowi dan Arsul Sani

Sejak polemik ijazahnya mencuat pertama kali pada 2022 silam, Jokowi sama sekali belum pernah menunjukkan ijazah, termasuk ijazah S1 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipermasalahkan oleh Roy Suryo cs. Sementara, Arsul Sani tak menunggu waktu lama dalam menunjukkan ijazah asli, transkrip nilai, hingga foto wisuda pencapaian gelar doktoralnya.

Ketika itu, hakim kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 1964 ini hendak dilaporkan kepada Bareskrim Polri oleh Aliansi Masyarakat Pemerhati Konstitusi karena dugaan penggunaan ijazah doktor palsu pada Jumat (14/11/2025). Dalam konferensi pers di Gedung Mahkamah Konstitusi, Senin (17/11/2025) lalu, Arsul mengungkap, gelar doktor ia dapatkan dari Collegium Humanum (CH) atau Warsawa Management University, sebuah universitas swasta di Polandia pada 2020. Bahkan, Arsul juga mengaku perjalanan studi doktoralnya terbilang panjang, hingga 11 tahun, dan sempat pindah universitas sehingga ia sempat berkelakar panjangnya lama studi ini tidak boleh ditiru.

“Saya ini termasuk doktor yang cukup lama, jangan ditiru, lah. 2011 sampai selesai baru Juni, kalau dihitung total ini ya 2022, 11 tahun,” kata Arsul Sani di Gedung MK, Jakarta Pusat, Senin. Sementara, disertasi yang ia tulis berjudul “Re-examining the considerations of national security interests and human rights protection in counter-terrorism legal policy: a case study on Indonesia with focus on post Bali-bombings development”. Arsul menerima ijazahnya langsung saat prosesi wisuda doktoral pada Maret 2023 di Warsawa, yang dihadiri oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Anita Lidya Luhulima. Ia pun menunjukkan foto wisudanya.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *