My WordPress Blog

Kronologi Santri Wonogiri Tewas Dibully, 3 Pelaku Ditetapkan, Termasuk Anak 10 Tahun

Kasus Santri di Wonogiri yang Tewas Akibat Bullying

Pada akhir Desember 2025, sebuah kasus duka mendalam terjadi di Pondok Pesantren Santri Manjung, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri Kota, Wonogiri. Seorang santri laki-laki berinisial MMA (12), asal Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, meninggal dunia setelah mengalami kekerasan oleh sesama santri. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan yang luas dan memicu investigasi oleh pihak berwajib.

Penetapan Pelaku Penganiayaan

Polres Wonogiri telah menetapkan tiga orang pelaku penganiayaan terhadap korban MMA. Ketiganya adalah santri dari Ponpes Santri Manjung, dengan usia di bawah umur. Mereka memiliki inisial AG (14 tahun), AL (14 tahun), dan NS (10 tahun). Seluruhnya masih berstatus sebagai anak di bawah umur, sehingga proses hukum mereka akan ditangani sesuai aturan perlindungan anak.

Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasatreskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sedewo, menjelaskan bahwa hingga Jumat malam (19/12/2025), sebanyak 10 orang telah dimintai keterangan terkait kasus ini. Dari jumlah tersebut, tiga orang ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan terhadap korban MMA.

Peran Pelaku dalam Kejadian

Menurut keterangan para pelaku, aksi kekerasan dilakukan karena korban MMA menolak untuk mandi dan mencuci pakaiannya sendiri. Ketiganya diduga melakukan pemukulan dan tendangan terhadap korban, sehingga menyebabkan luka-luka di bagian dada, kepala, perut, kaki, serta tangan. Para pelaku mengaku hanya menggunakan tangan kosong dalam kekerasan tersebut.

Selain itu, saat proses ekshumasi pada Jumat siang (19/12/2025), petugas menemukan bekas coretan bolpoin dan cairan tipe-x pada wajah korban. Hal ini menunjukkan adanya indikasi kekerasan yang tidak biasa.

Kronologi Kejadian

Berikut adalah rangkaian kejadian yang terjadi sebelum korban meninggal:

  • Sabtu, 13 Desember 2025: MMA (12) dilaporkan dalam kondisi kurang sehat. Meski demikian, ia masih mengikuti kegiatan mengaji. Wajahnya tampak pucat, dan ia menyampaikan bahwa dirinya hanya mengalami masuk angin dan demam, serta telah mengonsumsi obat.

  • Sabtu, 13 Desember 2025 (hari yang sama): Menurut keterangan terduga pelaku, pada hari itu MMA diduga mengalami tindakan kekerasan atau perundungan dari santri lain karena dianggap sulit saat diminta mandi.

  • Senin pagi, 15 Desember 2025: Orang tua MMA melakukan panggilan video dengan pemilik pondok pesantren, Eko Julianto. Dalam komunikasi tersebut, MMA terlihat sudah terbaring dan menjalani perawatan di ruang ICU rumah sakit.

  • Senin, 15 Desember 2025: MMA kemudian dinyatakan meninggal dunia. Pada saat itu, pihak pondok pesantren belum menaruh kecurigaan bahwa kematian korban disebabkan oleh adanya tindak kekerasan.

  • Senin malam (waktu Maghrib), 15 Desember 2025: Kecurigaan mulai muncul setelah ustaz yang memandikan jenazah menyampaikan adanya sejumlah lebam pada tubuh korban.

  • Saat takziah: Pemilik pondok pesantren mengecek langsung informasi tersebut dan menyadari adanya kejanggalan pada kondisi fisik MMA. Dari hasil pendalaman, terungkap bahwa MMA diduga meninggal dunia akibat penganiayaan atau perundungan yang dilakukan oleh santri lain.

Proses Investigasi dan Penyelidikan

Hingga kini, penyelidikan kasus tersebut masih terus dilakukan. Sejumlah pihak dari pondok pesantren, termasuk pemilik, bendahara, dan pengawas, juga telah dimintai keterangan. Kasatreskrim menjelaskan bahwa pihaknya masih mendalami apakah penganiayaan sudah direncanakan atau tidak, serta apakah ada indikasi senioritas atau budaya yang menjadi dasar kejadian ini.

Tindakan Hukum yang Dilakukan

Pihak kepolisian selanjutnya mengamankan sejumlah pihak yang diduga terlibat untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Ketiga pelaku penganiayaan, yang semuanya masih berusia di bawah umur, disangkakan dengan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang menyebabkan kematian. Mereka juga bisa dikenai pasal-pasal terkait penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *