Kontras Antara Pernyataan Pemerintah dan Realitas di Lapangan
Sebuah perbedaan yang jelas terlihat antara pernyataan pemerintah pusat dan situasi yang dialami oleh masyarakat di Aceh pasca-bencana. Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kondisi bencana di Aceh sudah terkendali, laporan jurnalis CNN Indonesia, Irine Wardhanie menunjukkan keadaan yang berbeda.
Video laporan Irine menjadi viral setelah ia tidak bisa menahan air mata saat melaporkan kondisi warga yang terisolir. Selama satu minggu berada di Aceh Tamiang, Irine mengungkapkan bahwa tidak ada perubahan signifikan. Banyak anak-anak mulai mengalami kelaparan karena bantuan belum sampai ke wilayah terdampak.
Laporan Irine menarik perhatian warganet setelah video potongannya beredar di media sosial. Salah satu momen emosional terjadi ketika Irine menangis sambil melaporkan kondisi lokasi bencana banjir dan tanah longsor di Aceh Tamiang.
Irine menjelaskan bahwa selama seminggu ia berada di lokasi bencana, tetapi tidak ada perubahan nyata. Ia menilai bahwa warga Aceh memang layak mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah dengan keadaan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Aceh telah mengirim surat ke dua lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta bantuan. Irine juga menyampaikan pesan dari para korban yang meminta agar kondisi sebenarnya di titik-titik bencana diberitakan secara akurat.
“Irinya kami dititipkan pesan sebagai jurnalis agar bisa memberitakan yang sebenar-benarnya soal Aceh,” ujar Irine. “Ini berat buat kami. Seberat relawan menembus wilayah-wilayah terdampak.”
Klaim Presiden tentang Kondisi Bencana di Sumatra
Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya dua kali menegaskan bahwa penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra sudah terkendali. Pertama, saat kunjungan kerja ke wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara. Saat itu, Prabowo memastikan bahwa penanganan dan pemulihan bencana berada dalam kondisi terkendali.
“Ya, saya lihat keadaan terkendali. Saya cek terus,” ujar Prabowo kepada awak media di Pangkalan TNI AU Soewondo, Kota Medan. Menurut Prabowo, pemerintah tetap memantau langsung kondisi di lapangan, khususnya di lokasi pengungsian.
Meski ada sedikit keterlambatan, kata Prabowo, pelayanan terhadap para pengungsi berjalan dengan baik dan kebutuhan dasar masyarakat masih terjaga. “Di sana sini memang keadaan alam, keadaan fisik, ada keterlambatan sedikit. Tapi saya cek semua ke tempat pengungsi kondisi mereka baik, pelayanan pada mereka baik, suplai pangan cukup,” tutur Prabowo.
Kedua, saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta. Prabowo menyebut situasi pasca-bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh masih terkendali saat menanggapi desakan tentang penetapan status bencana nasional.

Menurut Prabowo, pemerintah sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengatasi bencana. “Ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan bencana nasional. Kita sudah kerahkan, ini tiga provinsi dari 38 provinsi. Jadi, situasi terkendali. Saya monitor terus, ya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prabowo menyebut akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kritik dari Pakar terhadap Penanganan Bencana
Sementara itu, pakar hukum tata negara Feri Amsari mengkritik kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana. Feri menyoroti bahwa kunjungan tersebut tidak akan sepenuhnya menyembuhkan luka psikologis para korban.
“Kedatangan presiden itu kan menyembuhkan luka psikologi di tempat yang dikunjungi Presiden, tetapi tidak akan pernah secara utuh menyembuhkan luka itu, apalagi yang tidak didatangi,” tegas Feri dalam program Kompas Petang di YouTube KompasTV Merauke.
Feri juga mengkritisi Prabowo sebagai RI1 yang dianggap minim peran strategisnya dalam upaya penanganan pasca-bencana di Sumatra. Pasalnya, kata Feri, Prabowo belum menjelaskan lebih rinci mengenai strategi pemerintah dalam penanggulangan bencana dan bagaimana pembagian tugas terhadap instansi atau pejabat terkait.
“Nah, saya tidak melihat ya peran presiden yang sangat strategis terkait penanggulangan ini,” ujar Feri. “Sampai hari ini Presiden tidak menjelaskan apa strateginya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dalam penanggulangan bencana.”
Feri juga menyebut bahwa Prabowo belum bisa menjelaskan statistik yang relevan dengan penanganan pasca-bencana, seperti upaya perbaikan rumah warga dan infrastruktur yang rusak maupun pemulihan psikologis para penyintas. Bahkan, Feri menyentil Prabowo sebagai presiden, tidak hanya sekadar meninjau pengungsi, tetapi juga memastikan distribusi bantuan makanan maupun logistik merata dan menjangkau para korban.
“Presiden sama sekali tidak mampu menjelaskan angka-angka yang relevan,” ucap Feri. “Misalnya, dia tidak pernah menjelaskan dari jumlah rumah yang rusak parah, kira-kira negara akan melakukan peran apa? Dari banyaknya jalan yang putus, negara akan melakukan apa? Kira-kira dari jumlah orang-orang yang kemudian terkena dampak mentalitasnya, apa peran negara?”
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











