Kasus Kematian Faizah Soraya: Keluarga Meragukan Motif dan Kekuatan Anak SD
Kasus kematian tragis Faizah Soraya (FS), seorang ibu rumah tangga di Medan, Sumatera Utara, yang tewas ditusuk putrinya sendiri masih menjadi perhatian publik. Saat ini, kasus tersebut sedang dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwajib.
Keluarga korban meragukan kebenaran bahwa A, putri korban yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), benar-benar membunuh ibunya. Dugaan awal menyebutkan bahwa A, seorang siswi SD kelas 6, menusuk ibunya sebanyak 20 kali karena dendam terhadap kakaknya yang dimarahi oleh korban. Namun, keluarga tidak sepenuhnya percaya dengan alasan tersebut.
Keraguan ini disampaikan oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota keluarga melalui akun media sosial @pakdebrewok2122 di kolom komentar Instagram @lambe_turah. Pernyataan tersebut langsung memantik perhatian publik dan menimbulkan pertanyaan besar tentang motif pembunuhan.
Keraguan Keluarga Terhadap Motif Pembunuhan
Dalam klarifikasinya, pihak keluarga menolak motif yang diduga memicu pembunuhan, yakni dendam A karena sang kakak dimarahi korban. Menurut keluarga, motif ini “gak masuk logika.” Faktor utama yang memicu kecurigaan adalah adanya konflik rumah tangga serius yang melibatkan suami korban (ayah A).
“Sebelum kejadian si jantan ini selingkuh dan sudah minta cerai tapi si istri gak mau dan udah pisah ranjang dan ntah kenapa bisa balik lagi ke rumah itu,” ungkap akun tersebut. Keluarga menduga bahwa cerita mengenai A yang membunuh ibunya adalah alibi yang diatur oleh suami korban.
“Semua adalah alibi si ayah nya bilang adeknya di kamar megang pisau bunuh mama nya dan dia katanya tidur di atas jadi gak dengar,” lanjutnya, seraya mendesak polisi untuk menyelidiki ayah A. Kejanggalan fisik dan logistik juga menjadi bahan pertanyaan dari keluarga.
Kejanggalan Fisik: 20 Tusukan dan Korban Tidak Berteriak
Selain konflik internal, keluarga menyoroti kejanggalan fisik dan logistik yang sulit dilakukan oleh anak seusia A, yang masih duduk di bangku SD:
- Jumlah Luka: Korban ditemukan tewas dengan 20 luka tusukan. Keluarga mempertanyakan kemampuan fisik anak SD untuk melancarkan serangan sebanyak itu.
- Ketiadaan Teriakan: Keluarga juga mempertanyakan mengapa korban tidak berteriak jika A adalah pelaku tunggal. “Logika aja gak teriak mamaknya klok gak di bekap,” tulisnya, mengisyaratkan dugaan keterlibatan pihak lain.
Klarifikasi ini secara terang-terangan meminta agar kepolisian serius menyelidiki suami korban, terutama karena ia kini bebas beraktivitas. Kasus yang awalnya diduga karena cekcok anak dan ibu, kini melebar menjadi dugaan adanya konspirasi di balik tragedi maut tersebut.
Siswi SD Bunuh Ibu Kandung
Sebelumnya diberitakan, cekcok antara anak dan ibu kandung hingga berujung maut di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Peristiwa insiden maut ini terjadi pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, di mana ibu rumah tangga bernama Faizah Soraya (42) bersimbah darah di sekujur tubuhnya di dalam kamar tidur. Sedangkan pelaku pembunuhan ialah seorang anak perempuan yakni anak kandungnya berinisial A (12) masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Praktisi hukum dan Ketua Peradi Kota Medan, Dwi Ngai Sinaga, menyampaikan pandangannya atas kasus tragis seorang anak berinisial SAS (12) yang membunuh ibu kandungnya, Faizah Soraya (42). Ia menekankan agar penyidikan kasus ini dilakukan dengan ekstrak kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi.
Pelaku Dikenal Beprestasi
Warga mengaku terkejut, sebab SAS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, ramah, dan juga berprestasi di sekolahnya. “Kami tidak menyangka anaknya bisa melakukan itu. Ia adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya,” ujar warga tersebut.
Warga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban termasuk tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Korban hampir tidak pernah bergaul dengan tetangga dan sangat jarang keluar rumah. “Mereka itu orangnya tertutup, jadi satu keluarga itu jarang keluar rumah. Hanya saja, ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar,” lanjutnya.
Jarangnya interaksi ini membuat warga tidak mengetahui masalah internal di dalam rumah tangga tersebut, hingga akhirnya warga dikejutkan dengan adanya pembunuhan di dalam rumah. “Kita tidak tahu permasalahan keluarganya. Yang kami tahu itu saat kejadian lah ada pembunuhan,” ucapnya. Namun, warga menduga kuat bahwa motif pembunuhan berawal dari masalah rumah tangga. “Mungkin karena emaknya itu cerewet, jadi mungkin sakit hati. Padahal, sudah mau tamat sekolah pelaku ini. Dalam agama, keluarga mereka kuat,” katanya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











