Perdebatan Mengenai Ijazah Palsu Jokowi yang Terus Berlanjut
Pernyataan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), mengenai adanya “orang besar” yang memainkan isu ijazah palsu miliknya terus menjadi topik perbincangan dan menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Isu ini telah bergulir selama empat tahun dan kini semakin memanas.
Beberapa tokoh dan pengamat politik memberikan tanggapan terhadap pernyataan Jokowi tersebut. Salah satunya adalah Pakar Telematika, Roy Suryo, yang secara terbuka menantang Jokowi untuk segera menyebutkan nama sosok besar yang dimaksud agar tidak terjadi kegaduhan politik yang berlarut-larut.
Roy Suryo menilai bahwa jika Jokowi benar-benar mengetahui siapa orang besar di balik isu ini, maka ia harus segera mengungkapkan identitasnya. Menurutnya, hal ini akan mencegah masyarakat terbelah dan menghindari tindakan saling menuduh.
“Saya harap kalau memang tahu, jangan membuat masyarakat terbelah,” ujar Roy Suryo dalam sebuah acara YouTube Garuda TV. “Karena apa? Karena sudah bisa ditebak, sebutin aja. Ini kata-kata yang sangat sederhana.”
Selain itu, Pengamat Politik Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pernyataan Jokowi seperti menabuh terompet perang. Ia menegaskan bahwa dengan cara menuding tanpa bukti, Jokowi telah memicu situasi yang lebih rumit.
“Sudah ditabuh terompet perang oleh mantan Presiden Jokowi sendiri,” ujar Selamat Ginting dalam tayangan KompasTV. “Dengan cara menuding, dan ini spekulatif. Sehingga menurut saya memang lonceng perang sudah dibunyikan.”
Eks Kabareskrim Polri, Susno Duadji, juga memberikan pesan kepada Jokowi soal kecurigaan adanya “sosok besar” tersebut. Ia berharap Jokowi segera mengakhiri isu ini agar tidak dikatakan bahwa ia menciptakan ketidakstabilan.
“Semoga Pak Jokowi mendengar bahwa isu politik yang dilemparkan tentang orang gede itu tolong untuk segera diakhiri,” ujar Susno Duadji.
Rektor UGM Disebut Tidak Terang-terangan
Terpisah, kuasa hukum Roy Suryo, Abdul Gafur Sangadji, menyebut Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ova Emilia tidak pernah menyatakan status ijazah Jokowi secara eksplisit atau terang-terangan. Hal ini disampaikan Gafur ketika menanggapi kemunculan Ova Emilia belum lama ini untuk mengklarifikasi ijazah Jokowi.
Menurut Gafur, kejelasan soal status ijazah Jokowi sebenarnya adalah hal yang paling ditunggu-tunggu dari pernyataan Ova Emilia. Status yang dimaksud adalah apakah ijazah yang dipegang Jokowi adalah ijazah asli yang benar-benar dikeluarkan oleh UGM.
“Dari semua pernyataan-pernyataan Bu Rektor itu, sebenarnya ada satu keterangan yang ditunggu-tunggu rakyat, termasuk saya juga menunggu, yaitu pernyataan terhadap status ijazah,” jelas Gafur di YouTube Abraham Samad Speak Up.
Gafur menilai bahwa seharusnya Rektor UGM memberikan kepastian soal keaslian ijazah Jokowi sembari menampilkan dokumen tersebut ke hadapan publik. Ia menyarankan agar Rektor UGM menjawab polemik ijazah dengan menunjukkan dokumen resmi.
Jokowi Heran Kenapa Dipermasalahkan
Dalam wawancara dengan KompasTV, Jokowi sendiri heran mengapa keaslian ijazahnya masih dipermasalahkan. Padahal, kata Jokowi, pihak UGM sudah menyatakan ijazahnya asli.
“Saya lihat ini memang ada agenda besar politik, ada operasi politik,” ungkapnya. “Kenapa sih kita harus mengolok-olok, menjelek-jelekan, merendahkan, menghina, menuduh, semua dilakukan untuk apa kalau hanya untuk main-main, kan mesti ada kepentingan politiknya di situ.”
Jokowi meminta semua pihak untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang besar di masa-masa ekstrem saat ini, salah satunya menghadapi masa-masa perubahan karena artificial intelligence hingga humanoid robotic.
“Jangan malah energi besar kita dipakai untuk urusan-urusan yang sebetulnya menurut saya urusan ringan,” tuturnya.
Jokowi mengaku siap menunjukkan ijazah asli kelulusannya dari sekolah dasar hingga sarjana kepada pengadilan. Menurutnya, pengadilan adalah forum yang paling tepat untuk membuktikan keaslian ijazahnya.
“Ya, itu (pengadilan) forum yang paling baik untuk menunjukkan ijazah asli saya dari SD, SMP, SMA, universitas, semuanya dan saya bawa,” katanya.
Jokowi membawa persoalan ini ke ranah hukum agar jadi pembelajaran untuk tidak mudah menuduh seseorang.
“Untuk pembelajaran kita semuanya bahwa jangan sampai gampang menuduh orang, jangan sampai gampang menghina orang, memfitnah orang, mencemarkan nama baik seseorang,” pesannya.
Menurut Jokowi, kasus serupa bisa terjadi ke orang lain jika ia tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Bisa terjadi tidak hanya kepada saya, bisa ke yang lain, ke menteri, ke presiden yang lain, ke gubernur, bupati, wali kota, semuanya dengan tuduhan asal-asalan,” pungkas Jokowi.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











