My WordPress Blog

Pengakuan Viral Warga Sibolga: Terpaksa Merampok Keluarga yang Hanya Makan Nasi

Warga Sibolga Mengaku Menjarah Minimarket Akibat Kondisi Darurat

Warga kota Sibolga, Tapanuli Tengah (Tapteng), mengakui bahwa mereka melakukan tindakan menjarah terhadap minimarket karena keadaan darurat yang melumpuhkan wilayah tersebut. Kejadian ini terjadi setelah banjir bandang dan longsor melanda sejak 24–25 November 2025. Selama lima hari, warga terisolasi tanpa listrik, jaringan komunikasi, dan pasokan logistik. Hal ini memicu aksi penjarahan di beberapa titik di kota tersebut.

Aksi penjarahan terjadi di berbagai ritel modern di Sibolga dan Tapteng. Bencana ini menyebabkan ribuan warga kehilangan rumah, akses jalan terputus, dan pasokan pangan tidak bisa masuk selama berhari-hari. Meskipun bantuan dari pemerintah mulai dikirim pada Jumat (28/11/2025) menggunakan pesawat Hercules, bantuan tersebut belum sampai ke tangan masyarakat saat penjarahan terjadi.

Penjarahan adalah tindakan mengambil atau merampas barang milik orang lain secara paksa dan massal, biasanya terjadi dalam situasi darurat seperti bencana alam. Tindakan ini merupakan kejahatan karena merugikan pemilik dan melanggar hukum. Dalam situasi seperti ini, banyak warga terpaksa melakukan hal tersebut untuk bertahan hidup.

Video Pengakuan Warga yang Menjarah Minimarket

Seorang pria mengungkapkan pengakuan lewat video, mengaku mengambil mi instan, air mineral, dan snack dari minimarket demi keluarganya yang hampir tidak makan. Ia menjelaskan bahwa tindakan itu dilakukan karena keterbatasan makanan dan tidak ada bantuan sama sekali. Pria ini meminta maaf kepada pemilik toko Alfamart dan berjanji akan membayar barang-barang yang diambil ketika kondisinya pulih.

Dalam rekaman video yang viral di media sosial, pria tersebut mengatakan:

“Kepada pemilik Alfamart sebelumnya saya minta maaf, karena saya juga orang salah satu yang menjarah toko Alfamart tersebut. Saya sebenarnya tidak ada niat untuk berbuat itu, cuman karena keterbatasan makanan yang kami miliki, kami juga terjebak banjir, kami juga tidak ada uang untuk membeli, tidak ada bantuan sama sekali, akhirnya saya ikut mengambil juga.”

Ia menjelaskan bahwa barang yang diambil hanya untuk bertahan hidup keluarganya. Ia berjanji ketika kondisi tempat tinggalnya telah pulih, akan membayar barang-barang jarahannya. Dalam video tersebut, ia juga menyebutkan bahwa ia mengambil tiga bungkus mi Sedap, beberapa botol air mineral, dan snack. Ia meminta maaf atas kekhilafannya dan berjanji akan kembali ke toko tersebut untuk membayar semua barang yang diambil.

Permintaan Perubahan Status Bencana

Sementara itu, konten kreator Ferry Irwandi angkat bicara tentang bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Dalam pernyataannya, Ferry menegaskan bahwa suara masyarakat Sumatera semakin keras meminta agar pemerintah pusat menaikkan status bencana menjadi bencana nasional.

Menurut Ferry, bencana ini bukan hanya tentang kerusakan fisik atau korban jiwa, tetapi juga tentang rasa keadilan. Banyak orang Sumatera merasa adanya disparitas pembangunan antara daerah luar Jawa dan Jawa. Mereka merasa bahwa daerah mereka tidak mendapat perhatian yang sama.

Ferry menekankan pentingnya penetapan status bencana nasional karena akan mempercepat respons kebencanaan dan memastikan penanganan yang lebih masif dan terkoordinasi. Meskipun keputusan ini memiliki konsekuensi fiskal, ia menilai bahwa urgensi keselamatan masyarakat jauh lebih penting.

Tindakan Cepat dan Penanganan yang Lebih Baik

Ferry menjelaskan bahwa ketika bencana ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganannya akan sepenuhnya di tangani oleh pemerintah pusat. Hal ini memberikan fleksibilitas dan kewenangan yang lebih besar dalam mengambil tindakan cepat. Namun, ia juga mengakui bahwa penanganan bencana nasional memerlukan perubahan prioritas program dan potensi tekanan pada anggaran negara.

Meski begitu, Ferry menilai bahwa biaya tersebut tidak sebanding dengan pentingnya penyelamatan korban dan pemulihan wilayah yang terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat sangat mendesak dan harus diperhatikan dengan segera.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *