My WordPress Blog

Daftar Korban Pemerasan Kombes Julihan, Modus Cari Kesalahan Polisi

Penyelidikan Terhadap Dugaan Pemerasan di Internal Kepolisian Sumut

Beberapa waktu lalu, isu dugaan pemerasan terhadap anggota kepolisian oleh seorang perwira menengah mencuri perhatian publik. Kombes Julihan Muntaha, mantan Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) Polda Sumut, diduga memanfaatkan jabatannya untuk menekan bawahan demi mendapatkan keuntungan besar. Modus utama yang digunakan adalah mencari-cari kesalahan atau dugaan pelanggaran disiplin dari personel polisi di berbagai level, mulai dari Kapolsek hingga perwira tinggi setingkat Kapolres.

Berdasarkan informasi yang beredar, Kombes Julihan bersama kaki tangannya, Kompol Agustinus Chandra Pietama, diduga melakukan pemerasan dengan ancaman sanksi berat jika tidak memenuhi permintaan uang. Angka yang dipatok untuk uang damai bahkan mencapai miliaran rupiah. Beberapa kasus yang dilaporkan melibatkan:

  • Ipda Welman Simangunsong, anggota Ditresnarkoba Polda Sumut, yang dimintai uang sebesar Rp 1 miliar.
  • Kapolsek Medan Barat dan Kanit Reskrim, yang juga dimintai uang sekitar Rp 1 miliar karena disebut melepaskan tersangka narkoba.
  • Aipda Fachri, personel Polrestabes Medan, yang dituntut Rp 1 miliar terkait dugaan perselingkuhan.
  • Kompol Hendrik Aritonang, Kapolsek Medan Baru, yang dimintai uang sebesar Rp 200 juta setelah dicari-cari kesalahannya.
  • AKBP Jhon Sitepu, Kapolres Serdang Bedagai, yang diperas Rp 100 juta karena beberapa tahanan kabur.
  • 3 Kasat di Polresta Deli Serdang, Kanit, dan Kapolsek, yang juga menjadi korban pemerasan.

Selain itu, ada dugaan pungutan liar (Pungli) sebesar Rp 10 juta kepada setiap perwira yang ingin mendaftar sekolah staf dan pimpinan menengah (Sespimen). Hal ini dilakukan karena setiap perwira harus memiliki surat keterangan hasil penelitian dan pengujian (SKHP) yang ditandatangani oleh Kabid Propam, Kombes Julihan Muntaha.

Tidak hanya itu, Kombes Julihan dan Kompol Agustinus Chandra juga dikabarkan sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dalam keadaan mabuk-mabukan, yang semakin memperkuat dugaan adanya pelanggaran etika.

Tindakan Tegas Kapolda Sumut

Menanggapi isu tersebut, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto segera mengambil langkah-langkah tegas. Ia membentuk tim khusus untuk mengaudit dan mendalami seluruh informasi serta kebenaran dugaan praktik pemerasan yang dilakukan oleh jajaran Propam.

Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Sumut Kombes Nanang Masbudi menyatakan bahwa pihaknya merespon cepat dengan membentuk tim guna memverifikasi informasi yang diposting oleh akun anonim. Audit ini merupakan bagian dari transparansi dan akuntabilitas publik dalam melaksanakan audit kinerja terkait berita viral tersebut.

Meski akan memverifikasi, Kombes Nanang belum mengungkap siapa saja yang diduga menjadi korban dugaan pemerasan Kombes Julihan dan Kompol Agustinus Chandra yang sudah diperiksa. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan transparan dalam memeriksa kebenaran dugaan pungutan liar dan pemerasan modus mencari-cari kesalahan personel untuk dimintai uangnya.

Mengenai sanksi jika terbukti ada pemerasan, Nanang masih belum dapat memberikan pernyataan pasti karena proses masih berlangsung. Ia hanya menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan klarifikasi terhadap yang bersangkutan.

Kesimpulan

Dugaan pemerasan yang dilakukan oleh Kombes Julihan Muntaha dan Kompol Agustinus Chandra Pietama menimbulkan kekhawatiran besar terhadap citra kepolisian. Selain itu, tindakan yang dilakukan oleh Kapolda Sumut menunjukkan komitmen untuk menegakkan aturan dan menjaga integritas institusi. Proses audit yang sedang berlangsung akan menjadi langkah penting dalam menentukan apakah dugaan tersebut benar-benar terjadi atau tidak.




Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *