Warga Tallo Trauma dan Tak Berani Kembali ke Rumah
Warga di Kecamatan Tallo, Makassar, mengaku masih trauma dan tidak berani kembali ke rumah mereka setelah tawuran yang terjadi kembali memicu kebakaran belasan rumah serta menyebabkan satu orang meninggal dunia. Kejadian ini telah menimbulkan ketakutan yang mendalam di kalangan masyarakat setempat.
Pemerintah Kota Makassar kembali mengadakan pertemuan antara warga Kecamatan Tallo yang terlibat konflik. Pertemuan tersebut dilaksanakan di SMK 5 Makassar pada hari Kamis (20/11/2025). Salah satu warga, Bu Atik, mengungkapkan bahwa warga RW5 masih dalam kondisi traumatis dan belum ada yang masuk ke rumah mereka.
“Kami masih menerima informasi tentang dugaan rencana penyerangan ulang dari kelompok lain,” ujar Bu Atik kepada wartawan usai mengikuti pertemuan. Ia juga menjelaskan bahwa ada dugaan adanya bom molotov yang dibawa oleh seseorang dan diduga akan digunakan untuk membakar rumah warga.
“Saat kejadian malam itu, ada lagi yang lompat di pembatas lokasi bentrok. Untungnya ada TNI yang melihat. Yang satu itu didapat, sudah dia bawa bom molotov,” jelas Bu Atik. Selain bom molotov, aparat juga menemukan busur dan narkotika jenis sabu.
“Dari pagi dia suruh ambil, tolong diambil ini. Tapi sampai sekarang belum ada yang ambil. Yang didapatkan itu bom molotov, busur, ada juga sabunya,” tambahnya. Menurut Bu Atik, ia berbicara dengan fakta karena takut jika tidak demikian.
Warga Minta Tindakan Tegas, Bukan Sekadar Pertemuan
Pertemuan yang dilakukan pemerintah kota beberapa kali dinilai tidak efektif oleh warga. Mereka berharap agar pelaku tawuran dan pembakaran rumah segera diproses tanpa pandang bulu.
“Ini sudah dua kali (pertemuan). Tidak ada artinya kalau tidak ditindak lanjuti dengan tegas. Kalau kita begitu, buang-buang saja anggaran yang habis,” ujar Bu Atik. Ia menegaskan bahwa semua pelaku harus dihukum sesuai aturan hukum, tanpa ada yang di tebang pilih.
Seorang warga sebelumnya meninggal diduga akibat terkena tembakan senapan angin. Warga mempertanyakan asal senjata tersebut. “Kerja 30 hari, 4 juta setengah. Tapi kalau kerjanya cuma satu minggu dalam satu bulan, dua minggu dalam satu bulan, bisa tidak membeli itu senjata api. Kira-kira kalau tidak ada yang membekingi itu di belakangnya,” ujarnya.
Wali Kota Makassar Janji Bangun Rumah dan Pulihkan Kondisi Warga
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memastikan bahwa pemerintah akan membantu membangun kembali rumah warga yang terbakar serta memenuhi kebutuhan pokok. “Pemerintah Kota pasti turun tangan membantu memulihkan kehidupan warga, termasuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar di Kecamatan Tallo,” ujar Munafri saat pertemuan.
Kebakaran pascakonflik antarkelompok pemuda itu menghanguskan 18 rumah dan membuat 21 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal. Dampak paling besar terjadi di Kelurahan Suangga dengan 14 rumah dan 17 KK terdampak, disusul Kelurahan Lembo dengan 4 rumah dan 4 KK terdampak.
Munafri memastikan pemerintah juga akan memulihkan kondisi psikologis warga. “Kita tidak hanya membantu kebutuhan harian, tetapi juga memastikan rumah mereka bisa berdiri kembali. Kita ingin kehidupan mereka kembali aman dan damai,” tuturnya.
Menurutnya, konflik ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan material, tetapi juga merusak tatanan sosial yang telah dibangun masyarakat. “Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa satu orang dan kerugian material yang lumayan besar akibat pembakaran, tetapi juga merusak tatanan sosial serta kekeluargaan yang telah kita bangun selama ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum refleksi bagi semua pihak. “Pertemuan ini adalah bukti komitmen bersama untuk berintrospeksi, mari kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran. Kita harus memahami akar permasalahan dan mencegah agar tidak terulang kembali,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Munafri meminta masyarakat kembali mengaktifkan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) untuk meningkatkan keamanan di kawasan tersebut.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











