My WordPress Blog

Tindakan Gus Elham Dianggap Tidak Pantas, Menteri Arifah Fauzi Ingatkan Bahaya Sentuhan Tanpa Izin

Peristiwa Viral Gus Elham dan Reaksi Publik

Video yang menunjukkan seorang pendakwah bernama Gus Elham mencium pipi dan bibir anak perempuan telah menjadi sorotan publik. Tindakan tersebut dinilai tidak pantas dan tidak dapat dibenarkan, terlepas dari status atau posisi pelaku. Masyarakat menganggap tindakan ini melanggar batas interaksi yang seharusnya diperhatikan dalam konteks keagamaan.

Penjelasan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi memberikan tanggapan atas viralnya video tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan Gus Elham merupakan perilaku yang tidak pantas dan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun. Menurutnya, tindakan seperti ini bisa berpotensi menjadi pelecehan terhadap anak.

“Kami sependapat dengan publik bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terlepas dari status atau posisi siapa pun yang melakukannya, termasuk mereka yang dianggap sebagai pemuka agama,” ujar Arifah melalui keterangan tertulis.

Ia juga menyampaikan bahwa kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memahami pentingnya menjaga batas interaksi dengan anak. Perbuatan Gus Elham, menurut Arifah, dapat berpotensi menjadi pelecehan kepada anak.

“Perilaku yang melibatkan sentuhan fisik tanpa persetujuan, apalagi dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak, berpotensi menjadi bentuk pelecehan yang dapat berdampak psikologis serius pada korban,” tambahnya.

Arifah menjelaskan bahwa relasi kuasa ini kerap dimanfaatkan melalui cara nonfisik seperti bujuk rayu, tekanan emosional, atau manipulasi psikologis yang dikenal sebagai child grooming. Ia menekankan bahwa anak bisa mengalami trauma berkepanjangan akibat perbuatan Elham.

“Pelaku biasanya berusaha menormalisasi perilaku menyimpang dengan alasan kasih sayang atau kedekatan. Akibatnya, anak bisa merasa bersalah, bingung, dan mengalami trauma jangka panjang,” katanya.

Untuk mencegah kasus serupa, Menteri PPPA menekankan pentingnya edukasi tentang otoritas tubuh sejak usia dini. Anak perlu memahami bahwa tubuh mereka sepenuhnya milik mereka sendiri, serta tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh atau melanggar batas pribadi mereka. Edukasi ini juga melatih anak untuk menolak sentuhan yang tidak nyaman dan berani melapor kepada orang dewasa tepercaya.

Tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur juga turut menanggapi terkait polemik sosok Muhammad Elham Yahya Luqman atau dikenal Gus Elham Yahya. KH Hasan Ubaidillah, Sekretaris MUI Jatim, menyebutkan bahwa apa yang dilakukan Gus Elham dianggap tidak patut dan tidak wajar. Pihaknya menyebut polemik yang ada usai viralnya Gus Elham cium pipi hingga bibir anak kecil perempuan, lantaran masyarakat memiliki standar kepantasan umum hingga standar etika yang secara umum dipegang.

“Tentu ketika ada reaksi dari tontonan dan video sebagaimana yang ditampilkan seorang pendakwah, seorang ustaz, seorang Gus mencium, atau istilah Jawanya itu ‘mengokop’ seorang anak kecil, walaupun itu atas pengawasan dari orang tuanya tentu masyarakat menilai itu tidak patut dan tidak wajar, serta tidak lazim dalam acara-acara yang berbalut dakwah keagamaan, tentu ini menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya mengutip tayangan YouTube TV One.

KH Hasan Ubaidillah mengatakan MUI Jatim pun telah menerima laporan, walaupun sifatnya tidak resmi terkait aksi yang dilakukan Gus Elham.

Permintaan Maaf dari Gus Elham

Gus Elham Yahya, disorot usai videonya sering mencium pipi hingga bibir anak kecil perempuan beredar di media sosial. Sontak video-video dirinya tersebut viral dan mendapat respon negatif dari warganet. Pengurus MT Ibadallah tersebut pun meminta maaf secara terbuka didampingi beberapa orang.

Dalam video permintaan maafnya, Gus Elham Yahya mengakui bahwa perbuatannya mencium pipi hingga bibir anak kecil perempuan merupakan kesalahan. Dirinya pun berkomitmen untuk memperbaiki dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pembelajaran.


Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *