Pendakian yang Berujung Tragedi
Pendakian Syafiq Ridhan Ali Razhan ke Gunung Slamet ternyata bukan rencana awal. Menurut pengakuan ayahnya, Dani Rusman, Syafiq awalnya pamit hendak mendaki Gunung Sumbing. Namun, di tengah perjalanan, langkah Syafiq justru berbelok menuju Gunung Slamet. Pesan singkat kepada ibunya, “Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,” menjadi penanda terakhir perjalanan yang berujung duka.
Kronologi pendakian tersebut menunjukkan bahwa Syafiq dan rekannya, Himawan, melanggar aturan keselamatan. Mereka memulai pendakian pada pukul 00.00 WIB dari Basecamp Dipajaya. Pukul 04.00 WIB, mereka tiba di Pos 2 dan sempat shalat Subuh. Tepat pukul 09.00 WIB, mereka tiba di Pos 5, lalu melanjutkan perjalanan ke puncak hingga mencapai puncak pada pukul 14.00 WIB. Padahal, sesuai aturan, pendaki sebaiknya turun sebelum pukul 10 pagi.
Aturan ini diberlakukan untuk memastikan keselamatan pendaki, mengingat cuaca di puncak Gunung Slamet bisa berubah sangat cepat. Saat tiba di puncak, mereka hanya menemukan lima pendaki lainnya. Mereka mulai turun pukul 15.00 WIB dengan mengikuti seorang bapak pendaki, namun akhirnya tersesat karena langkah bapak tersebut terlalu cepat.
Proses Pencarian dan Penemuan Jenazah
Setelah Syafiq hilang selama 17 hari, pencarian dilakukan oleh ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki. Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian. Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan. Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.
Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil. Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.
Jenazah Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet. Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Setelah tiba di basecamp, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan. Selanjutnya, jenazah dibawa pulang dan tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, 15 Januari 2026.
Proses Penguburan dan Tanggapan Keluarga
Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB. Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti. Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo.
Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum. Proses pemakaman dilakukan dengan penuh rasa duka dan kehilangan, sebagai bentuk penghormatan terhadap korban yang meninggal dalam kejadian tragis ini.
Pelajaran dari Tragedi
Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi para pendaki untuk selalu mematuhi aturan keselamatan dan memperhatikan kondisi cuaca serta waktu. Kesalahan dalam perencanaan dan keputusan yang tidak tepat dapat berakibat fatal, seperti yang terjadi pada Syafiq Ali. Dengan adanya insiden ini, diharapkan masyarakat lebih waspada dan bijak dalam melakukan aktivitas di alam bebas.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”










