My WordPress Blog

Anggota Gerindra: Reformasi Polri Harus Menyentuh Akar Masalah, Bukan Hanya Penindakan Individu

Reformasi Kepolisian: Langkah Penting untuk Membangun Negara yang Lebih Adil

Presiden Prabowo Subianto telah mengambil langkah signifikan dalam membenahi institusi kepolisian dengan membentuk Tim Reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Tim ini terdiri dari tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari Menteri, Wakil Menteri, mantan Kapolri, hingga para pakar hukum. Pembentukan tim ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 122/P Tahun 2025 tentang Pengangkatan Keanggotaan Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian Republik Indonesia.

Langkah ini dapat dilihat sebagai pernyataan politik yang jelas bahwa negara tidak boleh ragu dalam membenahi institusi penegak hukumnya sendiri. Di tengah ekspektasi publik yang semakin tinggi terhadap keadilan dan kepastian hukum, tindakan ini menjadi titik awal penting untuk memastikan bahwa kewenangan besar kepolisian dijalankan secara profesional, terukur, dan berpihak pada rasa keadilan masyarakat.

Reformasi Bukan Sekadar Perubahan Administratif

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menyatakan bahwa reformasi Polri tidak bisa dipahami sebagai isu internal institusi semata, melainkan sebagai agenda publik yang dampaknya langsung dirasakan oleh kehidupan sehari-hari rakyat. Ia menekankan bahwa setiap kali muncul kasus yang mencoreng institusi kepolisian, respons yang dominan sering berhenti pada penindakan individu. Namun, ia menilai bahwa reformasi sejati harus menyentuh akar persoalan, bagaimana kewenangan dikelola, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana mekanisme koreksi bekerja ketika terjadi penyimpangan.

Kepolisian memang membutuhkan diskresi agar mampu bertindak cepat di lapangan. Namun, diskresi tanpa batas yang jelas justru berpotensi melahirkan ketidakpastian hukum. Publik kerap mempertanyakan mengapa kasus tertentu ditangani sangat cepat, sementara kasus lain berjalan lambat atau bahkan mengendap tanpa kejelasan. Situasi semacam ini bukan sekadar persoalan persepsi, melainkan indikasi bahwa standar dan prosedur belum sepenuhnya transparan dan konsisten.

Peran Tim Reformasi Polri yang Krusial

Di sinilah peran Tim Reformasi Polri menjadi krusial. Reformasi harus diarahkan pada pembenahan sistem penanganan perkara yang lebih terbuka, mulai dari kejelasan alur proses hukum, batas waktu penanganan, hingga akses informasi bagi pelapor dan korban. Politisi Partai Gerindra ini menambahkan bahwa mekanisme pengaduan masyarakat juga harus diperkuat, bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar dipercaya karena mampu menindaklanjuti laporan secara objektif dan adil.

Penguatan pengawasan tidak boleh dipahami sebagai upaya melemahkan institusi. Justru sebaliknya, pengawasan yang kuat dan kredibel akan melindungi mayoritas anggota Polri yang bekerja dengan integritas. Penanganan pelanggaran secara transparan dan konsisten akan mempertegas bahwa profesionalisme adalah norma, sementara penyimpangan adalah pengecualian yang ditindak tegas.

Reformasi Harus Menyentuh Aspek Manajemen Sumber Daya Manusia

Selain itu, Azis menegaskan bahwa reformasi juga harus menyentuh aspek manajemen sumber daya manusia, termasuk sistem promosi, mutasi, dan penilaian kinerja. Inilah fondasi penting untuk membangun budaya organisasi yang sehat dan dipercaya publik. Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembentukan Tim Reformasi Polri merupakan ujian awal komitmen membangun negara yang kuat sekaligus berkeadilan.

Negara yang kuat bukanlah negara yang kebal dari kritik, melainkan negara yang memiliki keberanian untuk menata ulang institusinya ketika kepercayaan publik tergerus. Azis berkeyakinan bahwa reformasi kepolisian yang berhasil akan memberikan efek berantai, mulai dari meningkatnya kepastian hukum, membaiknya iklim usaha, serta menguatnya kualitas demokrasi.

Kesimpulan: Reformasi Bukan Sekadar Agenda Internal

Sebaliknya, jika reformasi berhenti pada perubahan administratif atau sekadar pergantian struktur tanpa pembenahan substansi, maka harapan publik akan kembali berujung pada kekecewaan. Kerja Tim Reformasi Polri harus dilakukan secara terbuka, melibatkan masukan publik, dan memiliki indikator keberhasilan yang jelas serta dapat dievaluasi. Reformasi Polri bukan sekadar agenda internal institusi, melainkan bagian dari kontrak sosial antara negara dan warganya. Ketika hukum ditegakkan secara adil dan dapat dipercaya, di situlah negara benar-benar hadir untuk rakyatnya.


Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *