Hubungan Erat Antara Evia Maria dan Sahabatnya, Nadia
Evia Maria, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Unima, ditemukan meninggal secara tidak wajar di kosnya di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Kepergiannya mengejutkan banyak orang, termasuk sahabat dekatnya, Nadia, yang mengungkapkan bahwa Evia pernah curhat tentang dugaan pelecehan seksual yang dialaminya.
Evia dan Nadia telah bersahabat sejak 2019 saat keduanya bersekolah di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan OTKP. Mereka memiliki hubungan seperti saudara kandung meskipun tinggal di daerah yang berbeda. Evia tinggal di kos di Tomohon, sedangkan Nadia tinggal di Manado. Meski demikian, komunikasi mereka tetap intens.
Nadia menceritakan bahwa Evia sering curhat tentang kasus dugaan pelecehan seksual yang ia alami. Dalam percakapan terakhir mereka, Evia menyampaikan kegelisahan dan kesedihan karena merasa tertekan oleh oknum dosen di Unima. Ia bahkan sempat mengirimkan pesan suara kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan tersebut kepada Wakil Dekan III (WD III).
Perkembangan Laporan Terhadap Oknum Dosen
Pada 15 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Nadia, Evia kembali mencurahkan ketakutannya. Ia meminta pendapat Nadia karena merasa tertekan dan takut dengan sikap dosen tersebut. Nadia menyarankan agar Evia melaporkan hal tersebut lebih lanjut. Esok harinya, Evia mengabarkan bahwa ia telah resmi melaporkan dugaan pelecehan seksual tersebut secara lisan kepada WD III.
Menurut cerita Evia, pihak WD III menyarankan agar laporan tersebut dituangkan dalam bentuk surat pernyataan tertulis dan dilanjutkan ke pihak pusat atau pimpinan kampus. Hal ini menjadi salah satu isu penting dalam kasus kematian Evia.
Mengenang Sosok Evia Maria
Selain itu, Nadia juga mengenang Evia sebagai sosok yang ceria dan memiliki mimpi besar. Salah satu cita-cita Evia yang sering ia ceritakan adalah keinginannya untuk menjadi pramugari. Ia sering menyampaikan keinginan tersebut dengan antusias.
Kabar kematian Evia membuat warga Sulut heboh. Terlebih ditemukannya surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima terkait adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen Unima inisial DM.
Kronologi Penemuan Jasad Evia Maria
Dari informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR menerima panggilan dari salah satu penghuni kost. Dalam panggilan tersebut, YR diberitahu bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal. Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian, YR melihat Evia Maria berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal.
Penyemayaman Jenazah dan Otopsi
Jenazah Evia Maria disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut. Jenazah kini disemayamkan di kediaman Kel. Pdt Roos Merry Kabuhung. Pendeta Roos merupakan tante Evi Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. Keluarga berencana membawa pulang jenazah Evi Maria ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Sulut Rabu (31/12/2025) pagi ini. Namun rencana ini batal menyusul keputusan jenazah Evi akan diotopsi.
Surat dan Proses Otopsi
Jenazah Evia Maria Mangolo, mahasiswi Unima yang meninggal di tempat kos di Tomohon, akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025). Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah. Ketsia, tante dari Evia, bercerita bahwa pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya.
Peran Universitas Negeri Manado (Unima)
Unima angkat bicara terkait kasus kematian mahasiswi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Evia Maria. Kasus ini menjadi sorotan setelah ditemukan surat pernyataan yang ditulis dan ditandatangani korban terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. Rektor Unima Dr Joseph Philip Kambey, S.E., Ak., MBA melalui Kepala Humas Unima, Titof Tulaka, buka suara. Ia menyatakan bahwa pihak universitas telah mengambil langkah tegas terhadap terlapor.












