Keterikatan Mualem dengan Rakyat
Sebagai sosok yang berpengalaman memimpin perang gerilya, Mualem tentu pernah bepergian ke banyak tempat, bertemu banyak orang, dan menyerap harapan-harapan orang banyak. Dalam hidup Mualem, “orang banyak” (rakyat) adalah kata kunci utama. Segala pikiran yang terpatri dalam kecerdasannya, mungkin juga kepribadiannya, mengandung angan-angan orang banyak.
Mualem besar di tengah orang banyak dan dimunculkan dari sana. Ada lusinan cerita yang menggambarkan keterikatan tak tergoyahkan antara Mualem dengan orang banyak. Maka waktu orang banyak itu tercekik penderitaan, tangisan Mualem di depan kamera Najwa dapat dipahami.
Waktu pertama kali menonton rekaman tangisan Mualem, saya segera punya pemahaman baru. Mualem yang selama ini dibayangkan banyak orang (termasuk saya) sebagai sosok yang kaku, dingin, atau susah tersentuh rupanya amat terbuka dalam mengutarakan kesedihannya. Mungkin, keterbukaan atas perasaan ini tercipta karena dia tumbuh dalam tradisi perlawanan atau perjuangan rakyat.
Perlawanan adalah tempat setiap orang terbiasa mengungkapkan rasa sakit hati, marah, sedih, senang, puas, dendam, dan kecewanya secara terbuka dan jujur. Orang dengan pengalaman memimpin perlawanan biasanya tidak main-main dengan emosi. Waktu marah, dia marah. Waktu kecewa, dia ekspresif. Waktu terenyuh, dia menangis. Bermain-main dengan emosi bukan keahlian orang yang ekspresinya selalu mewakili perasaannya.
Tangisan Tokoh di Depan Kamera
Tangisan tokoh di depan kamera memang mudah dicurigai. Tafsir beragam tak bisa dibendung. Lain halnya dengan tangisan pedagang kecil yang pasti ditafsir sebagai ekspresi autentik atas penderitaan, tangisan pemimpin di depan orang banyak akan menghasilkan tafsir-tafsir yang saling bertentangan.
Tangisan pemimpin bisa dimaknai sebagai permainan emosi (tangisan yang dibuat-buat) atau tanda kelemahan (apalagi jika pemimpin itu laki-laki). Sebaliknya, hadir pula tafsir yang menyatakan tangisan seorang pemimpin di tengah krisis merupakan sikap yang manusiawi, lumrah, dan autentik.
Namun, tangisan orang-orang yang mencintai rakyat dapat mudah dimengerti. Biarpun dilakukan di depan kamera, tangisan mereka jelas autentik, tulus, atau tidak dibuat-buat. Seseorang yang selalu memedulikan orang banyak pasti bersedih waktu melihat orang banyak itu terluka karena hal apa pun. Dan mereka tidak membatasi dirinya hanya dengan satu tangisan di depan kamera.
Gubernur, mamak yang kehilangan anak, anak yang menemukan jasad ayahnya terapung di banjir, guru yang kehilangan murid, Irene Wardhani reporter CNN Indonesia, dan petani Gayo yang menjual cabai hasil panennya dengan harga rendah mungkin sudah menangis berkali-kali di balik dinding yang tak terjangkau kamera dan mata banyak orang.
Manfaat Menangis dalam Kepemimpinan
Seperti kata para ahli kesehatan mental, menangis baik untuk kesehatan mental. Namun, tangisan yang autentik juga penting bagi politik. Ketika seseorang menangis, itu pertanda dia masih bisa terhubung dengan perasaannya, dengan kemanusiaannya. Bayangkan pemimpin politik yang tak lagi menautkan tindakannya dengan kemanusiaan.
Bayangkan pemimpin politik yang bahkan tak bisa bersikap manusiawi hanya untuk dirinya sendiri, lalu didesak agar bersikap manusiawi terhadap orang lain. Sepanjang lintasan sejarah politik dunia, ada banyak contoh pemimpin populer jahat yang antitangisan dengan dalih kejantanan dan sering bertindak tanpa melibatkan perasaan manusiawi.
Dalam konteks kepemimpinan di tengah krisis, tangisan juga bisa membantu pemimpin untuk mengatur ulang perasaan atau pikirannya agar bisa bersikap tenang. Ketenangan adalah faktor terpenting dalam membuat tindakan-tindakan baru yang rasional serta efektif.
Biasanya, orang yang taktis akan merenung setelah menangis untuk mengisi ulang stamina mental serta menghimpun pemahaman yang lebih baik. Hasilnya, dia akan bertindak lebih cerdas dan bersungguh-sungguh.
Tangisan Pemimpin dan Persepsi Masyarakat
Jadi, ketika para pemimpin di Aceh menangis saat menangani dampak bencana, baik itu pemimpin keluarga maupun pemimpinan daerah, tangisan mereka tak harus ditafsir sebagai tanda mentalitas yang rapuh atau sikap cengeng, apalagi dikatai sebagai tangisan ecek-ecek.
Lumpur di sepatu pemimpin yang siang-malam berjuang menyelamatkan orang banyak di tempat-tempat yang diremukkan bencana bisa menjadi petunjuk untuk menyatakan bahwa bahwa perasaan mereka asli. Ketika mereka menangis, itu bukan tangisan ecek-ecek untuk membuat orang lain terpana.
Air mata pemimpin pengecoh tumpah setelah mengoles bawang di matanya. Sementara air mata Mualem dan para ayah di Dataran Tinggi Gayo yang takut anak-istrinya mati kelaparan tumpah setelah sepatu mereka terbenam dalam lumpur. Mereka telah melihat hal-hal yang memang seharusnya ditangisi.
Mereka menangis karena mencemaskan terjadinya sesuatu yang cukup pada keluarga, tetangga, dan orang-orang lain. Mereka tidak mengoles bawang supaya air matanya tumpah di depan kamera.
Menangis untuk Menampar
Barack Obama, yang sering dianggap kaku dan dingin, pernah berkali-kali menangis di depan umum saat memimpin Amerika. Salah satu tangisannya pecah dalam pidato untuk mengenang anak-anak korban penembakan massal di sebuah sekolah dasar pada Desember 2012.
Ada yang mengatakan tangisan Obama ekspresi kesedihan sekaligus keheranannya atas sikap Partai Republik. Orang-orang di partai itu menentang upaya Obama untuk melahirkan kebijakan pengendalian senjata yang bertujuan melindungi rakyat dari penyalahgunaan senjata api.
Boleh jadi, tangisan Mualem juga suatu ungkapan keheranannya. Dia heran pada sikap pejabat-pejabat negara yang berkeras hati menolak pemberlakuan status “bencana nasional” serta masuknya bantuan internasional, padahal ada banyak penduduk Aceh terancam mati karena kelaparan dan penyakit. Gubernur mungkin heran bahwa di tengah kegentingan yang telah tersiar ke seluruh negeri, masih ada pejabat negara yang berpikir situasi masih terkendali, tidak butuh bantuan asing, “Indonesia mampu”, dan argumentasi-argumentasi omong kosong lainnya.
Gubernur paham bahwa dia menghadapi situasi yang tak bisa diremehkan. Dan dia pun paham betul bahwa tak tersedia cukup daya lokal untuk mengatasi keseluruhan area krisis. Mualem ingin menyelamatkan rakyat secara lebih cepat dengan bantuan negara-negara lain, tetapi dihalangi kekuasaan yang malah “menghemat” dayanya untuk aksi penyelamatan rakyat.
Selain itu, boleh jadi pula Mualem baru saja memperkenalkan sesuatu yang baru dalam politik Aceh: tangisan sebagai alat serang. Sepanjang sejarah, politik perjuangan Aceh identik dengan cara main keras, nyaringnya bentakan, dan teriakan. Sepertinya Mualem menyadari bahwa air mata bisa mendengungkan kata-kata yang tak bisa diutarakan dengan makian atau bentakan.
Sebagai bagian dari birokrasi negara, dia tak bisa memprotes pejabat-pejabat pemerintah yang berkantor di Jawa dengan bentakan di depan umum. Lalu, dia “membentak” dengan air matanya.
Mualem ibarat ayah yang mau berenang untuk menyelamatkan anak yang terseret arus laut, tetapi dicegat orang-orang yang cuma bisa berenang satu meter dan merasa dirinya sanggup mengeringkan air laut.











