Luluk Diana Tri Wijayana, seorang atlet angkat besi asal Pacitan yang berhasil meraih medali emas SEA Games 2025 untuk Indonesia. Dengan semangat yang kuat, dia mampu mengubah trauma menjadi motivasi untuk meraih kesuksesan.
Luluk Diana Tri Wijayana menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan. Dengan fasilitas yang terbatas, atlet angkat besi dari Punung, Pacitan, Jawa Timur, berhasil membawa pulang medali emas bagi Indonesia dalam ajang SEA Games 2025 di Thailand. Bahkan, dia berhasil mengalahkan atlet andalan tuan rumah, Thailand, yang merupakan juara dunia.
Menurut laporan yang diterbitkan Online.com, Luluk Diana Tri Wijayana memberikan kontribusi medali emas pertama bagi kontingen angkat besi Indonesia pada SEA Games ke-33. Selain itu, ini juga menjadi medali emas ke-23 yang diraih oleh Indonesia dalam ajang dua tahunan tersebut.
Luluk bertanding di kelas women’s 48 kg di Chonburi Sport School, Chon Buri, Thailand, pada Sabtu, 13 Desember 2025. Dia mencatat total angkatan sebesar 184 kg, mengalahkan Hanyathon Sukcharoen dari Thailand yang meraih perak. Medali perunggu sendiri diraih oleh lifter Vietnam, Nguyen Thi Thu Trang.
Dalam wawancaranya, Luluk mengungkapkan rasa bahagia dan senang karena bisa meraih medali emas. “Saya sangat senang dan bahagia. Ada perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” katanya.
Namun, perjalanan Luluk tidak selalu mulus. Saat melakukan angkatan kedua, clean and jerk, dia mengalami kendala. “Tadi sempat ada kendala, ikat pinggang saya copot saat angkatan kedua clean and jerk,” ceritanya.
Medali emas ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang dilalui Luluk. Pada SEA Games Kamboja 2023, dia turun di kelas 49 kg dan berhasil meraih medali perunggu. Kali ini, dia harus menurunkan berat badan agar bisa bersaing di kelas 48 kg.

Cerita Luluk melawan ketidakmungkinan
Luluk tidak langsung tertarik pada olahraga angkat besi. Menurut ceritanya, dia membutuhkan waktu dan ajakan berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba. Salah satu alasan yang membuatnya tertarik adalah iming-iming bisa jalan-jalan keliling dunia jika menjadi atlet angkat besi. “Sebagai anak kecil, saya akhirnya mau coba,” katanya sambil tertawa.
Luluk mulai menjajal olahraga angkat besi saat usianya 12 tahun, di kelas IV Sekolah Dasar. Sejak saat itu, dia mulai menunjukkan bakat yang luar biasa.

Proses pencapaian Luluk
Apa yang dicapai Luluk di Thailand adalah hasil dari serangkaian proses, termasuk kegagalan. Kegagalan itu bahkan menyisakan trauma baginya. Pada Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior di Lima, Peru, April hingga Mei 2025, Luluk sukses meraih medali emas pada angkatan snatch dengan angkatan terbaik 81 kg. Namun, saat tiba giliran clean and jerk, dia gagal mengangkat barbel 100 kg dalam tiga kali kesempatan. Karena itu, dia gagal meraih medali tambahan atau menjadi juara dunia pada semua jenis angkatan.
Kegagalan ini meninggalkan trauma yang sangat dalam. Setelah itu, Luluk sempat down dan tidak melakukan apa-apa selama dua minggu. Bahkan, ia tidak menjawab telepon pelatihnya. “Saya hanya berpikir, kenapa persiapan yang sudah dilakukan tidak berbuah hasil?” ujarnya.
Namun, dengan bantuan pelatihnya, Samsuri, Luluk akhirnya bangkit. Pelatihnya memberinya dukungan dan mengingatkannya bahwa dia tetap pulang dengan status juara dunia snatch. Perlahan-lahan, Luluk mulai memperbaiki teknik dan mengoreksi kesalahan yang terjadi.
Hasilnya adalah medali emas SEA Games 2025 di Thailand. “Saya ingin balas dendam atas kegagalan di Peru. Ingin membuktikan bahwa saya bisa,” ujarnya.
Samsuri mengatakan bahwa kegagalan di Peru penting sebagai bahan evaluasi. Sejak saat itu, Luluk telah menjadi lifter yang lebih baik. Total angkatan yang diraihnya di SEA Games 2025 jauh melampaui capaian di Peru. Bahkan, jika semua percobaan berhasil, dia bisa mencapai rekor latihan yang mencapai lebih dari 190 kg.
Pelatihnya, Samsuri, mengakui bahwa dia adalah orang pertama yang menemukan bakat Luluk. Ia juga yang memperkenalkan angkat besi kepada Luluk dan membina talentanya sejak usia 12 tahun. Meskipun bukan bagian dari pelatnas, Samsuri ikut diberangkatkan ke Thailand untuk mengawasi anak asuhnya.
Prestasi Luluk tidak hanya membawa harum nama Indonesia, tetapi juga menghidupkan kembali harapan regenerasi di lifter putri kelas ringan. Sebelumnya, ada Windy Cantika Aisah yang meraih perunggu di Olimpiade Tokyo 2020.
Selamat untuk Luluk, semoga prestasinya terus meningkat dan menjadi contoh inspiratif bagi banyak atlet muda.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”










