Tragedi Mengerikan: Anak SD Tega Bunuh Ibu Kandungnya
Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Medan, yang dikenal dengan inisial SAS (12 tahun), terlihat duduk termenung di atas sofa setelah melakukan tindakan mengerikan. Tatapan kosong dan diam membisu menjadi gambaran dari kejadian tragis yang kini menggemparkan publik.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa peristiwa ini berawal dari masalah sepele. SAS diduga nekat menusuk ibu kandungnya, Faizah Soraya (42 tahun), sebanyak 20 kali. Korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di rumah mereka yang berlokasi di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.
Kasus ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena pelaku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Tak sedikit warga yang tak menyangka bahwa seorang anak berusia 12 tahun bisa tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri.
Penemuan Korban dan Peristiwa Awal
Korban ditemukan oleh anak pertamanya di dalam kamar tidur pada sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, korban sudah tergeletak di atas kasur. Anak pertama tersebut langsung berteriak meminta pertolongan. Mendengar suara tersebut, suami korban segera turun dari kamar tidur di lantai dua.
Setelah melihat istrinya sudah terkapar di tempat tidur, suami korban langsung menelepon pihak rumah sakit Colombia. Dokter yang datang langsung mengecek kondisi korban, namun nyawa korban tidak tertolong. Korban ditemukan dengan kondisi tubuh terluka akibat beberapa tusukan dan darah berceceran di lantai.
Setelah itu, suami korban menelepon petugas Polsek Medan Sunggal. Petugas Tim INAFIS Polrestabes Medan tiba di lokasi dan membawa jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan otopsi lebih lanjut.
Kondisi Pelaku dan Keluarga
SAS terlihat tidak menunjukkan reaksi emosional selama berada di lokasi kejadian. Ia hanya terdiam dan tidak menangis sama sekali. Berbeda dengan sang ayah yang tak kuasa menahan kesedihan setelah melihat istrinya meninggal dunia.
Menurut informasi dari Kepala Lingkungan V Kelurahan Tanjung Rejo, Tono, anak pertama Faizah Soraya yang masih berstatus siswa SMA mengalami luka pada bagian tangan. Sementara itu, SAS tampak duduk diam di sofa ruang tamu.
“Kalau kondisi kakaknya waktu itu jari-jarinya terluka. Jadi, diobati dokter yang datang. Terus adiknya terduduk saja di sofa ruang tamu,” ujar Tono.
Pendampingan Psikologis dan Penyelidikan
Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah melakukan pendampingan psikologis kepada SAS sejak tiga hari lalu. Pendampingan ini dilakukan bersama Dinas Kesehatan, Unit PPA Provinsi, dan Dinas Sosial.
Selain itu, petugas masih menunggu hasil dari dokter RS Bhayangkara Medan yang melakukan proses otopsi. “Untuk luka, kami masih tunggu dari dokter dulu,” ucap Bayu.
Penyidik juga masih mendalami kasus ini dengan memeriksa sejumlah saksi. Pengembangan kasus pun masih dilakukan untuk mendalami apakah ada pelaku lain atau tidak.
Keterisolasian Keluarga
Tono juga mengungkapkan bahwa keluarga korban tidak terlalu sering berinteraksi dengan tetangga. Kedua anak korban bahkan tertutup dengan warga setempat.
“Kalau kata warga, anak-anaknya ini setiap pulang sekolah langsung di rumah saja terus. Jadi, jarang berinteraksi sama tetangga,” ujar Tono.
Kasus ini terus menjadi sorotan publik. Bagaimana seorang anak usia 12 tahun bisa sampai melakukan tindakan yang begitu ekstrem? Pertanyaan ini masih menjadi teka-teki yang harus dijawab oleh penyidik.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











