My WordPress Blog

Dewi Astutik, Bandar Narkoba Internasional Ditangkap BNN di Kamboja

Penangkapan Gembong Narkoba Internasional Dewi Astutik

Pada Senin, (1/12/2025), AP alias Dewi Astutik, seorang gembong narkoba internasional asal Indonesia, berhasil ditangkap setelah berbulan-bulan menjadi buronan. Penangkapan ini merupakan hasil dari kolaborasi yang kuat antara BNN, BAIS, Kepolisian Kamboja, Interpol, KBRI Phnom Penh, serta Bea Cukai.

Dewi Astutik ditangkap saat sedang bersama seorang laki-laki. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam jaringan narkoba internasional yang dikenal sebagai Golden Triangle. Keberadaannya terdeteksi oleh BNN pada 17 November 2025 setelah menerima informasi intelijen. Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Kedeputian Berantas serta Kedeputian Hukum dan Kerja Sama.

Profil Dewi Astutik

Dewi Astutik, yang juga dikenal dengan nama Mami, berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Ia terlibat dalam kasus penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 2 ton yang melibatkan jaringan bernama Golden Triangle. Berdasarkan data dari BNN, ia lahir pada 8 April 1983 dan saat ditangkap berusia 42 tahun. Ia tinggal di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo.

Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, mengakui bahwa foto sosok perempuan yang menjadi buronan itu adalah warganya. Namun, identitas nama aslinya berinisial PA. Diduga ia memalsukan identitas dengan milik seorang anggota keluarganya. Gunawan menjelaskan bahwa Dewi Astutik sudah lama pamit kerja ke luar negeri dan pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir di Kamboja.

Awal Munculnya Nama Dewi Astutik

Menurut data dari bnn.go.id, kasus yang melibatkan Dewi Astutik terjadi pada Mei 2025 lalu. Tim gabungan dari BNN dan TNI-Polri menghentikan Kapal Motor Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau, pada Rabu (21/5/2025), pukul 00.05 WIB. Dalam penggeledahan, tim menemukan 67 kardus berisi 2.000 bungkus sabu dengan total berat 2 ton.

Enam orang tersangka diamankan dalam kasus ini, termasuk empat WNI dan dua WNA asal Thailand. Nama Dewi Astutik muncul karena diduga tiket dari tangan tersangka dipesan oleh orang yang berhubungan dengannya.

Peran Dewi Astutik dalam Jaringan Narkoba

Dewi Astutik diketahui bergabung dengan jaringan narkoba internasional, Golden Triangle. Dalam organisasi itu, ia memiliki peran signifikan dalam hal peredaran narkoba. Ia merupakan pemimpin sekaligus perekrut kurir-kurir yang kebanyakan berasal dari Indonesia.

Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom, menyatakan bahwa kurir-kurir ini tiketnya dipesan oleh orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Menurutnya, Dewi Astutik memainkan peran penting dalam proses rekrutmen ini. Ia juga mengungkap bahwa hingga saat ini, ada lebih dari 110 WNI ‘asuhan’ Dewi Astutik yang ditangkap di berbagai negara, seperti Brasil, Kamboja, hingga Korea Selatan.

Kronologi Penangkapan Dewi Astutik

Awal mula BNN mengetahui keberadaan Dewi Astutik setelah menerima informasi intelijen pada 17 November 2025. Informasi itu langsung ditindaklanjuti oleh Kedeputian Berantas serta Kedeputian Hukum dan Kerja Sama. Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa kerja cepat tim sangat menentukan arah operasi.

BNN kemudian mengeluarkan surat perintah pemberangkatan tim ke Kamboja pada 25 November 2025. Tim BNN tiba di Phnom Penh pada 30 November 2025 dan langsung melakukan koordinasi bersama Kepolisian Kamboja, BAIS perwakilan Kamboja, Interpol Polri, KBRI, serta otoritas terkait lainnya. Penindakan ini merujuk pada Red Notice Interpol nomor A-3536/3-2025 serta surat DPO BNN RI Nomor 31/INTER/D/X/2024.

Puncak operasi berlangsung pada Senin, 1 Desember 2025, sekitar pukul 13.39 waktu setempat. Target terdeteksi berada di lobi sebuah hotel di Sihanoukville, menaiki mobil Toyota Prius putih. Tim gabungan langsung melakukan penindakan dan mencegat kendaraan tersebut. Dewi Astutik ditangkap saat sedang bersama seorang laki-laki.

Peran Dewi Astutik dalam Golden Triangle

Dalam penyelidikan BNN, terungkap bahwa Dewi Astutik memiliki peranan penting dalam jaringan Golden Triangle. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, dengan sebagian besar kurir berasal dari Indonesia. Peran Dewi Astutik tersebut terkuak setelah aparat mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025.

Empat awak kapal berstatus WNI diketahui memiliki keterkaitan langsung dengannya. Tiket perjalanan para kurir dipesan oleh pihak yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Fakta itu menguatkan posisinya sebagai pengendali jaringan. BNN mengungkapkan, Dewi Astutik diduga telah mengendalikan ratusan kurir narkoba, mayoritas warga negara Indonesia.

Terhubung dengan Sindikat Afrika

Selain berperan di Golden Triangle, Dewi Astutik juga disebut terhubung dengan sindikat narkoba Afrika yang beroperasi di Thailand dan kawasan Semenanjung Malaya. Meski diyakini BNN bukan sebagai pimpinan tertinggi, Dewi Astutik dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi jaringan tersebut. Koneksi lintas benua itu membuat Dewi Astutik masuk radar otoritas internasional, termasuk sempat menjadi buronan Korea Selatan.

Mengenal Jaringan Golden Triangle

Golden Triangle atau Segitiga Emas mengacu pada negara Thailand, Laos, dan Myanmar. UNODC melaporkan bahwa produksi dan perdagangan gelap narkoba sintetis dari Segitiga Emas telah meningkat secara eksponensial beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan pesat ini telah menyebabkan rekor jumlah penyitaan metamfetamin di Asia Timur dan Tenggara, dengan total 236 ton, menandai peningkatan 24 persen dibandingkan tahun 2023.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *