Dua Anggota Polda Riau Hilang Akibat Banjir Bandang di Sumbar
Dua anggota kepolisian dari Polda Riau terkena dampak banjir bandang saat melintasi jembatan di Padang Panjang, Sumatera Barat. Ipda Angga Mufajar hilang terseret arus, sedangkan Brigadir Tri Irwansyah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat sudah mencapai 90 orang, dengan 85 lainnya masih dalam pencarian. Tim SAR masih terus melakukan pencarian terhadap Ipda Angga Mufajar yang terseret arus besar saat banjir bandang menerjang Jembatan Kembar, Silaiang, Padang Panjang.
Kedua personel tersebut merupakan anggota Polda Riau yang bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum). Belum diketahui pasti kronologis kejadian yang menimpa dua anggota Korps Bhayangkara Polda Riau tersebut. Namun menurut informasi, kedua personel tersebut terjebak banjir bandang saat melintas menggunakan mobil Toyota Innova hitam berpelat BM 1370 AAJ, di kawasan Jembatan Kembar, Silaiang, Padang Panjang.
Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto mengungkap bahwa satu orang di antaranya, yakni Brigadir Tri Irwansyah, sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. “Yang sudah terkonfirmasi ditemukan jenazahnya Brigadir Tri Irwansyah. Jenazah dibawa ke Pekanbaru hari ini,” kata Kombes Anom, Sabtu (29/11/2025). “Yang Ipda Angga belum ditemukan, masih dilakukan pencarian,” tambahnya.
Anom mengatakan, kedua anggota tersebut sedang melaksanakan tugas kedinasan di wilayah Sumbar. “Mereka berdua melaksanakan tugas atau dinas penyelidikan dan penyidikan tindak pidana ke Padang, melakukan pemeriksaan saksi di Lapas Padang,” ujarnya.
Penghargaan Kenaikan Pangkat untuk Korban
Jenazah Brigpol Tri Irwansyah dikebumikan di pemakaman umum Jalan Delima, yang berlokasi tidak jauh dari rumah duka di perumahan Widya Graha 3 Blok G13 Pekanbaru, Riau, Sabtu (29/11/2025). Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memastikan bahwa almarhum akan mendapatkan penghargaan. “Saya sudah laporkan ke pimpinan, ke Bapak Kapolri. Insyaallah akan diberikan penghargaan, pemberian pangkat setingkat lebih tinggi,” kata Irjen Herry Heryawan usai melepas tim bantuan ke Agam, Sumbar, Sabtu (29/11/2025).
Kenaikan pangkat ini diberikan karena anggota yang bersangkutan meninggal dunia saat melaksanakan tugas kedinasan, yakni saat melakukan pemeriksaan terhadap salah satu tersangka di Lapas Padang.
Bantuan Logistik dan Personel Polda Riau
Menanggapi bencana alam yang melanda Sumbar, Polda Riau segera mengirimkan ratusan personel dan bantuan logistik. Kapolda Riau bersama Wakapolda Brigjen Pol Jossy Kusumo, dan para pejabat utama memimpin pelepasan tim di Mapolda Riau. Sebanyak 290 personel yang terdiri dari Brimob, Samapta, Polairud, dan satuan lainnya diberangkatkan untuk membantu proses evakuasi dan pertolongan di lokasi bencana, dengan fokus utama di Kabupaten Agam.
“Kita kirim personel Brimob, Samapta, Polairud, dan lain-lain. Pasukan ini sudah ada yang mendahului berangkat tadi malam untuk bantuan dapur lapangan berikut bahan makanannya,” terang Irjen Herry.
Data Korban Bencana di Sumbar
Sebanyak 88 orang ditemukan meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat. Data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, sebanyak 85 orang masih dilaporkan hilang. Data ini berdasarkan hasil update Sabtu (29/11/2025) pukul 12.00 WIB. Bencana Hidrometeorologi ini berdampak di 16 kabupaten kota di Sumatera Barat.
Korban jiwa tertinggi ditemukan di Kabupaten Agam sebanyak 74 orang meninggal dunia. Sementara 78 orang masih dilaporkan hilang. Di daerah yang dipimpin Bupati Benni Warlis ini, ada 16 kecamatan yang terdampak dengan total 54 nagari. Sebanyak 484 jiwa terpaksa mengungsi, dan 694 jiwa terdampak akibat bencana. Selain 9 unit rumah rusak, dilaporkan ada 63 unit rumah terendam.
Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab, menyampaikan bahwa pencarian korban masih terus dilakukan terutama di wilayah Agam dan Padang Panjang, yang masih melaporkan adanya orang hilang. Kondisi cuaca di Sumatera Barat mulai membaik dengan hujan yang sudah reda, sehingga diharapkan bencana tidak berlanjut.
Korban di Agam Bertambah
Jumlah korban banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat terus bertambah. Hingga Sabtu (29/11/2025) pukul 14:00 WIB, sudah 76 jasad yang berhasil dievakuasi tim gabungan bersama masyarakat setempat. Kadis Kominfo Agam, Roza Syafdefianti, merinci beberapa daerah yang terdampak bencana alam di Kabupaten Agam. Mulai dari Malalak, Matur, Tanjung Raya, Palupuh, dan Palembayan. Di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, banyak jorong yang terdampak.
Di Jorong Koto Alam, Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan menjadi daerah dengan korban jiwa terbanyak. Total korban meninggal dunia di Jorong Koto Alam, mencapai 27 orang. Di Jorong Subarang Aia, terdapat 17 orang meninggal dunia akibat banjir bandang. Sementara itu, di Jorong Kampuang Tangah Timur 9 orang, dan Kampuang Tangah Barat 7 orang.
Korban Meninggal di Sumut
Selain Sumbar, dua wilayah berdekatan yakni Sumatera Utara dan Aceh juga dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Polda Sumatera Utara meng-update korban banjir dan longsor di wilayahnya. Berdasarkan data pada Sabtu (29/11/2025) pukul 09.00, jumlah korban meninggal mencapai 147 orang dan 174 orang masih dalam pencarian. Update data terbaru, bencana ini menimbulkan dampak signifikan, tercatat 1.076 korban, 147 meninggal dunia, 32 luka berat, 722 luka ringan, dan 174 masih dalam pencarian, serta ada 28.427 mengungsi.
Di Aceh 35 Orang Tewas dan 25 Orang Masih Hilang
Di Aceh, banjir bandang dan longsor menelan korban jiwa dan menyebabkan ribuan warga mengungsi. Hingga Sabtu (29/11/2025), BNPB mencatat, terdapat 35 orang meninggal dunia, 25 hilang, dan 8 luka-luka akibat bencana ini. Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban terbanyak berasal dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.
Pendataan korban masih terus dilakukan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau seperti Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara. Lebih dari 4.800 kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di 20 kabupaten/kota. Kota Lhokseumawe menjadi salah satu pusat pengungsian dengan 96 titik pengungsian yang sangat membutuhkan suplai logistik dan layanan dasar.
Akses transportasi darat lumpuh akibat longsor dan kerusakan jembatan, terutama di jalur nasional perbatasan Sumatera Utara–Aceh dan jalur Banda Aceh–Lhokseumawe–Aceh Timur–Langsa–Aceh Tamiang. Beberapa kabupaten seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah kini hanya bisa diakses melalui jalur udara.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa penanganan darurat bencana ini menjadi prioritas utama. Ia memimpin langsung operasi di lapangan untuk memastikan percepatan pembukaan akses dan distribusi bantuan kepada korban.
Untuk mengatasi gangguan jaringan telekomunikasi yang memperlambat proses penanganan, BNPB mengerahkan perangkat internet Starlink di beberapa wilayah terdampak. Bantuan logistik terus mengalir, termasuk beras, mie instan, minyak goreng, telur, gula, diaper, dan obat-obatan.
Pemerintah pusat juga mengerahkan 26 personel BNPB serta tiga pesawat Hercules yang membawa bantuan Presiden berupa tenda, genset, LCR, kompresor, dan bahan pangan pokok. Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele di Bener Meriah menjadi pusat evakuasi dan distribusi bantuan, menjadi titik vital dalam upaya penanggulangan bencana ini.











