Kunjungan Kerja Menteri Pertahanan RI ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia tiba bersama Panglima TNI, Agus Subiyanto, dan rombongan di Terminal VIP Bandara Depati Amir pada dini hari, Selasa (18/11/2025). Rombongan disambut langsung oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Hidayat Arsani.
Setelah tiba, rombongan kemudian beristirahat sejenak di ruang VVIP Utama Bandara Depati Amir. Tampak Gubernur Hidayat juga berbincang hangat bersama rombongan sambil menikmati berbagai penganan khas Bangka Belitung. Dalam sambutannya, Gubernur Hidayat menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan Menhan dan Panglima TNI serta berharap kunjungan ini dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun pertahanan dan keamanan negara.
Agenda Kunker Menhan
Kunjungan kerja Menhan RI dan Panglima TNI ke Kepulauan Bangka Belitung memiliki beberapa agenda penting, antara lain:
- Peninjauan Penerjunan: Menhan RI dan Panglima TNI akan meninjau penerjunan Kelompok Depan Operasi Lintas Udara (KDOL) Denmatra-Korpasgat dan Brigif 18/2/K.
- Kegiatan Penerjunan: Mereka juga akan meninjau kegiatan penerjunan SUL Wing Udara 3.1 dan penerjunan taktis Yonif 501/18/2/K.
- Peninjauan Penyergapan dan Penindakan: Peninjauan penyergapan dan penindakan KRI juga menjadi salah satu agenda penting dalam kunjungan ini.
- Peninjauan Kegiatan Perebutan Cepat Sasaran: Agenda terakhir adalah peninjauan kegiatan perebutan cepat sasaran Koopssus TNI.
Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung pembangunan pertahanan serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Dengan demikian, kehadiran Menhan RI dan Panglima TNI dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pertahanan negara.
Rekam Jejak Sjafrie Sjamsoeddin
Sjafrie Sjamsoeddin merupakan lulusan Akabri 1974, yang merupakan teman satu angkatan Prabowo. Ia lahir di Ujungpandang, Sulawesi Selatan, pada 30 Oktober 1952. Setelah lulus Akabri, ia melanjutkan pendidikannya di bidang bisnis dan meraih gelar MBA tahun 1993.
Karier militernya dimulai di lingkungan Baret Merah dengan jabatan sebagai Danton Grup I, Danki II Grup I, Pa Intel Grup I, Dan Satlak Pengawal Pribadi Presiden RI, Wadan Yon Grup I, Danyon I Grup I, Waasops Dan Kopassus (1975-1991).
Selain itu, ia pernah bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden ke-2 Soeharto dalam setiap kunjungan ke luar negeri. Sjafrie antara lain pernah menjadi pengawal pribadi Presiden Soeharto ketika melakukan kunjungan kerja ke Malaysia, Singapura, Filipina, Srilanka (1979), Amerika Serikat, Jepang (1980), AS, Jepang, Korea, Spanyol (1982), Malaysia, Singapura (1984), AS, Timur Tengah, Tunisia (1993), India (1994), Denmark, Bosnia, Kroasia, Jerman, CIS (1995).
Karier diawali sebagai Komandan Peleton (Danton) Grup I Kopassus (1975-77), Komandan Kompi (Danki) II Grup I (1977-80), Perwira Intel Grup I (1980-81), Dan Satlak Walpri Pres (1978-84), Wadan Denpur 13 Grup I (1982-85), Wadan Denpur 12 Grup I (1986-89), Wadanyon I Grup I (1986-89), Danyon I Grup I (1989-91).
Setelah itu, sejak 1 September 1991, Sjafrie menjabat Wakil Asisten Operasi Komandan Kopassus sejak 2 Juni 1993 dan Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden. Awal Maret 1995, Sjafrie menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 061 Suryakencana Bogor. Kurang dari satu tahun kemudian, 1 Februari 1996, Sjafrie menjadi Kepala Staf Garnisun (Kasgar) I Ibu Kota dengan pangkat brigadir jenderal.
Pada Agustus 1996, Sjafrie menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya. Saat itu, ia menggantikan posisi Mayjen Susilo Bambang Yudoyono. Satu tahun kemudian, Sjafrie diangkat menjadi Panglima Kodam Jaya pada tahun 1997. Ia menggantikan posisi Mayjen TNI Sutiyoso setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Sjafrie juga pernah menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli (Korsahli) TNI pada tahun 2001. Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Pusat Penerangan (Puspen) TNI, menggantikan Marsekal Muda Graito Usodo pada tahun 2002.
Pada 2005, Sjafrie diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan. Namun, unjuk rasa puluhan korban pelanggaran hak asasi manusia mewarnai pelantikan Sjaffrie. Mereka mempersoalkan diangkatnya Sjafrie yang diduga terkait dalam kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, seperti diberitakan Harian Kompas, 16 April 2005.
Pada 2010, Sjafrie dipercaya menduduki jabatan Wakil Menteri Pertahanan, mendampingi Purnomo Yusgiantoro yang menjadi Menhan saat itu. Lalu, ia menjadi wakil ketua Indonesian Asian Games Organizing Committee/Inasgoc pada 2018.
Pada 2019, Sjafrie ditunjuk Prabowo, yang saat itu menjabat Menhan, menjadi penasihat khususnya. Penunjukan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) ad interim menambah daftar panjang tugas strategis yang kini diembannya di pemerintahan.
Keputusan Presiden Prabowo Subianto itu secara langsung membuat Sjafrie memegang empat jabatan sekaligus, sebuah kondisi yang menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi, namun juga menyiratkan beban kerja yang tidak kecil.











