My WordPress Blog

Dilema Iran-Israel: Mengapa Prabowo Lebih Berhati-hati Daripada Isu Palestina?

Gaya Diplomasi Presiden RI dalam Menghadapi Konflik Timur Tengah

Presiden RI, Prabowo Subianto, kini tengah menjadi sorotan tajam dalam menyikapi konflik antara Iran dan aliansi Israel-Amerika Serikat. Berbeda dengan sikapnya yang vokal dan tanpa kompromi dalam isu Palestina, Presiden dinilai jauh lebih tenang dan penuh kalkulasi dalam menghadapi krisis Teheran.

Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, menjelaskan bahwa kehati-hatian ini bukanlah bentuk keraguan, melainkan strategi matang untuk menjaga stabilitas domestik. Dalam wawancara khusus bersama Tribunnews, Jumat (10/4/2026), Anton menyebut bahwa politik luar negeri Indonesia saat ini adalah cermin dari kepentingan dalam negeri.

“Pak Presiden menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dalam merespons ini. Beliau sangat paham berhitung, karena politik luar negeri adalah kelanjutan politik domestik,” jelas Anton.

Anton menengarai adanya risiko “gorengan” politik di media sosial jika pemerintah salah langkah. Isu Iran dinilai sangat rentan dipelintir oleh pihak lawan untuk menyerang citra politik Prabowo Subianto, terutama mengingat ambisi politik jangka panjang menuju kontestasi Pilpres 2029.

Pendekatan Bottom-Up dan Kompleksitas Isu

Berbeda dengan isu Palestina yang mendapat dukungan bulat dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia, isu Iran dianggap jauh lebih kompleks. Konflik ini bersinggungan langsung dengan jaringan aliansi global yang rumit.

Presiden Prabowo pun menerapkan pendekatan bottom-up, yakni dengan melakukan konsolidasi bersama tokoh-tokoh elite dan pakar terlebih dahulu sebelum menetapkan posisi resmi negara di panggung internasional.

Taruhan wibawa internasional di New York juga menjadi fokus utama. Meskipun para menteri telah memberikan pernyataan sektoral, Anton menekankan pentingnya narasi langsung dari kepala negara melalui state address. Hal ini krusial untuk menjaga marwah Indonesia di hadapan Israel dan komunitas dunia lainnya.

“Wibawa kita di depan Israel dan dunia internasional dipertaruhkan. Kita butuh konsolidasi suara antara Jakarta dan New York agar pesan kita sampai dengan keras,” tegas Anton.

Negosiasi Deadlock

Negosiasi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, berjalan buntu (deadlock) tanpa kesepakatan. Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance yang memimpin delegasi AS mengatakan tim negosiasinya meninggalkan Pakistan setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Iran.

Vance menyebutkan kekurangan dalam perundingan tersebut dan mengatakan bahwa Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan Amerika, termasuk untuk tidak membangun senjata nuklir. “Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Vance dikutip dari Reuters, Minggu (12/4/2026) pagi.

Pembicaraan delegasi AS dengan Iran di Islamabad merupakan pertemuan langsung pertama AS-Iran dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979. Hasilnya dapat menentukan nasib gencatan senjata dua minggu AS dengan Iran. Termasuk pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, titik rawan bagi sekitar 20 persen pasokan energi global yang telah diblokir Iran sejak perang 28 Februari 2026 lalu.

Respons Terhadap Kematian Anggota TNI di UNIFIL

Dalam wawancara khusus dengan Tribunnews, Anton Aliabbas juga membahas respons terhadap kematian tiga anggota TNI yang bertugas sebagai pasukan pengamanan PBB UNIFIL. Menurutnya, penarikan pasukan TNI dari UNIFIL bukanlah satu-satunya opsi yang bisa ditawarkan.

“Ada dua hal yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah ketika kita bicara tentang misi UNIFIL, UNIFIL itu adalah penjaga perdamaian peacekeeper. Dia menjalankan mandat PBB untuk menjaga sebuah kawasan perdamaian di mana terjadi gencatan senjata,” ujar Anton.

Ia menyarankan agar Indonesia mengajak Dewan Keamanan PBB untuk meninjau ulang misi UNIFIL, karena kondisi saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan mandat awal. “Jadi perlu atau tidak perlu kita kemudian nunggu sampai selesai gitu kenapa ya ini kondisinya lagi berperang karena apa karena kita tidak lagi hanya bicara tentang keselamatan prajurit kita tapi keselamatan semua yang tergabung dalam UNIFIL.”

Selain itu, Anton berharap pemerintah Indonesia membuat statement yang sama dengan diplomat-diplomat di PBB. “Di sana buat statement di sini juga buat statement gitu statement apa ya statement-nya sama bahwa kami melakukan ini kami mengecam ini kami meminta ini secara resmi itu satu.”

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *