Kondisi Sopir Bajaj di Pasar Tanah Abang
Pagi di kawasan Pasar Tanah Abang biasanya dimulai dengan deru mesin bajaj yang hilir-mudik mengangkut penumpang. Namun bagi sebagian sopir, hari kerja tak hanya soal mencari penumpang, tetapi juga menghadapi pungutan yang datang hampir setiap hari. Seorang sopir bajaj mengaku harus menyisihkan sebagian penghasilannya sebelum pulang ke rumah. Bukan untuk kebutuhan keluarga, melainkan untuk memenuhi permintaan sejumlah oknum yang kerap mendatangi mereka di lokasi mangkal.
Jika dihitung, uang yang harus diberikan tidak sedikit. Dalam sehari, pungutan yang diminta bisa mencapai Rp100 ribu—jumlah yang bagi sopir bajaj berarti sebagian besar dari pendapatan harian mereka. Para sopir sebenarnya menyadari praktik tersebut tidak benar. Namun ketergantungan pada kawasan Tanah Abang sebagai tempat mencari nafkah membuat mereka memilih diam.
“Bukannya saya enggak berani ngelawan, tapi cari makannya di situ,” kata seorang sopir kepada penumpang yang merekam kejadian itu.
Video Viral dan Praktik Pungli
Praktik premanisme di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali menjadi sorotan setelah sebuah video viral mengungkap beban pungutan liar (pungli) yang dialami para sopir bajaj. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah pria menghampiri bajaj yang tengah terparkir untuk meminta uang kepada para sopir. Aksi itu tidak hanya terjadi sekali. Dalam video yang beredar, setelah kelompok pertama pergi, pria lain kembali datang dan melakukan pungutan serupa kepada sopir yang sama.
Seorang penumpang yang merekam kejadian tersebut sempat menanyakan besaran uang yang diminta kepada sopir bajaj tersebut. Dengan nada lirih, pengemudi roda tiga itu mengungkapkan bahwa total pungutan yang harus ia keluarkan bisa mencapai Rp100 ribu setiap hari.
Ancaman yang Mengintai
Tekanan yang dialami para sopir tidak berhenti pada permintaan uang. Para pelaku juga kerap melontarkan ancaman jika sopir menolak memberikan uang. Ancaman tersebut mulai dari perusakan kendaraan hingga intimidasi psikologis. Salah satu modus yang disebutkan adalah ancaman akan diteriaki maling di tengah keramaian pasar jika sopir tidak menuruti permintaan mereka.
Ancaman itu membuat para sopir memilih pasrah karena khawatir memicu amuk massa yang dapat membahayakan diri mereka. Hal ini semakin memperkuat rasa takut dan ketidakamanan yang dialami oleh para sopir bajaj di kawasan tersebut.
Respons Cepat dan Penyelidikan Kepolisian
Menanggapi keresahan publik, Polsek Metro Tanah Abang segera melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku yang terekam dalam video tersebut. Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan penelusuran di lapangan. “Saat ini anggota masih melakukan lidik untuk menemukan pelaku yang diduga melakukan pemalakan,” kata Dhimas saat dihubungi, Minggu (12/4/2026).
Patroli Gabungan dan Peran Lingkungan
Sebagai langkah pencegahan, kepolisian juga akan memperkuat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait di wilayah Jakarta Pusat. Langkah tersebut dilakukan melalui patroli bersama dengan pihak kecamatan, Satpol PP, serta Dinas Perhubungan di titik-titik yang rawan pungutan liar. “Koordinasi dengan pihak terkait misal kecamatan dan Satpol PP serta Dinas Perhubungan untuk melaksanakan patroli bersama-sama di wilayah rawan pungli,” ujar Dhimas.
Selain itu, kepolisian juga meminta pejabat lingkungan mulai dari tingkat RT, RW hingga lurah untuk meningkatkan kepedulian terhadap keamanan wilayah. Langkah ini diharapkan dapat membantu mendeteksi lebih awal potensi aksi kriminalitas di kawasan tersebut.
Analisis Taktis: Menjamin Keamanan Ekonomi Mikro
Fenomena pungutan liar ini menunjukkan bahwa praktik premanisme masih menjadi tantangan di pusat-pusat ekonomi rakyat seperti Pasar Tanah Abang. Bagi para sopir bajaj, pungutan Rp100 ribu per hari bukan sekadar gangguan, tetapi dapat menggerus pendapatan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Karena itu, upaya penertiban diharapkan tidak bersifat sementara. Penanganan yang berkelanjutan dinilai penting untuk memutus rantai premanisme dan menjaga ekosistem ekonomi di kawasan pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut tetap aman bagi para pekerja sektor informal.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











