My WordPress Blog

Kesaksian menyentuh ayah korban kecelakaan Barelang: Dia meminta ciuman sebelum pergi

Peristiwa Meninggalnya Safaraz Akma, Seorang Siswa SMP yang Tenggelam dalam Kehilangan

Pada hari Minggu pagi, 5 April, keluarga Alwani mengalami kehilangan mendalam. Kejadian yang tiba-tiba seperti petir di siang hari membuat mereka menerima kabar duka tentang anak bungsinya, Safaraz Akma, seorang siswa kelas 9B SMPIT Insan Harapan Tembesi Sagulung.

Safaraz bersama dua sahabatnya, Rino Arif Bakhtiar (kelas 8B) dan Ruhalzan Syakir (kelas 9B), terlibat dalam kecelakaan lalu lintas saat sedang pergi memancing di Jalan Trans Barelang. Kecelakaan tersebut merenggut nyawa ketiga remaja tersebut sekaligus.

Tribun Batam bertemu dengan Alwani, ayah dari Safaraz, untuk mendengarkan kesaksian duka di rumahnya pada Senin (6/4) siang. Saat itu, rumah almarhum tampak hening. Warga, kerabat, hingga keluarga jauh masih terus berdatangan, menyampaikan ucapan duka atas kepergian almarhum.

Di depan rumah, tiang terpal hijau masih berdiri tegak, kursi berjejer memenuhi teras rumah. Deretan papan bunga ucapan dukacita terpampang di komplek. Kepergian Safaraz masih meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Berikut wawancara Tribun dengan ayah korban:

Tribun: Safaraz dikenal sebagai anak yang gemar memancing. Apakah Anda tahu betul soal hobinya itu?

Alwani: Iya, betul. Safaraz memang betul-betul mancing. Hampir setiap hari dia ribut minta pergi mancing, maksudnya antusias, bukan ribut yang negatif. Jujur saya katakan, saya membolehkan karena saya pikir itu masih jauh lebih baik dibanding anak-anak lain yang mungkin sudah bergeser ke hal yang negatif.

Saya dapat dukungan dari kawan-kawan senior juga. Mereka bilang, hobi itu positif. Jadi saya tidak mempersempit ruangnya. Cuma saya selalu pesan, mancing jangan jauh-jauh, jangan sampai ngumpul di tempat yang tidak jelas.

Tribun: Hasil pancingannya diapakan?

Alwani: Ikan yang didapat kadang dijual, kadang dibawa pulang. Tapi lucu juga di rumah kami sendiri yang makan ikan justru saya. Istri saya orang Melayu Galang, tapi tidak makan ikan. Anak saya yang hobi mancing pun tidak mau makan ikannya (tertawa kecil). Anak-anak zaman sekarang, maunya sosis.

Jadi ikan hasil pancingannya, kalau tidak habis dimakan, ya saya yang urus. Kadang saya jual sedikit ke tetangga. Tapi buat anak saya, itu bukan soal uang dia memang suka prosesnya. Mancing itu hiburan dia.

Tribun: Bagaimana kejadian hari itu bermula?

Alwani: Malam Minggunya, dia masih main sama kawan di sebelah rumah. Jam 11 malam balik, buka baju, main HP sebentar, terus bilang “Besok saya mancing.” Ya sudah, saya jawab iya saja.

Habis subuh, dia pamit. Biasanya yang ngurusin anak itu ibunya. Mamaknya waktu itu sedang sibuk mencuci — kebetulan air di rumah kami sedang mati, jadi nyuci di tempat kawan. Rupanya Safaraz sudah ditelpon kawannya, sudah janjian memang.

Sebelum pergi, dia tinggalkan HP-nya di rumah. Lalu dia pamit sama mamaknya “mintak cium”. Itu yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.

Tribun: Soal motor yang dipakai, bagaimana ceritanya?

Alwani: Kami punya tiga motor di rumah. Yang biasa dipakai Safaraz itu motor Beat 2019. Tapi pagi itu, motor itu sedang dipakai abangnya yang kerja di PT. Safaraz menghubungi abangnya, nanya libur atau tidak. Abangnya bilang tidak libur. Safaraz minta sebentar saja. Abangnya mengizinkan, pesan jangan lama-lama.

Saya sendiri waktu itu tidak ada di rumah. Jadi saya tidak tahu persis. Itu yang sampai sekarang masih berat di hati saya.

Tribun: Bagaimana Anda pertama kali mendengar kabar kecelakaan itu?

Alwani: Hari Minggu itu saya sedang belanja mingguan. Tiba-tiba ada telepon masuk yang tidak terjawab. Tidak lama, ada telepon lagi. Saya angkat dari Polsek Galang.

“Selamat siang, Pak. Saya dari Polsek Galang. Motor BM dengan nomor sekian atas nama Bapak apakah itu kendaraan Bapak?”

Saya jawab, iya. Polisi bilang bahwa pengendara motor itu mengalami kecelakaan, dan korban sudah dibawa ke RSUD Embung Fatimah.

Saya langsung bergerak. Saya siapkan semua dokumen BPJS anak, STNK, BPKB dan saya bawa semua ke rumah sakit.

Tribun: Apa yang terjadi saat Anda tiba di RSUD?

Alwani: Saya tanya ke bagian informasi, tidak ada data korban tiga orang dari Galang. Saya bingung. Saya coba hubungi polisi lagi, tapi petugas rumah sakit bilang tidak ada. Saya dengar sendiri.

Akhirnya, setelah beberapa kali komunikasi, petugas rumah sakit mengarahkan saya ke belakang ke kamar jenazah.

Suara Alwani terhenti sejenak.

Begitu masuk kamar jenazah… saya buka. Saya lihat. Tidak ada perasaan apa-apa lagi. Seperti tidak ada nyawa dalam diri saya. Saya tidak bisa berkata-kata.

Tribun: Bagaimana proses identifikasi berjalan?

Alwani: Awalnya tidak ada data apapun dari ketiga jenazah itu. Tidak ada identitas yang terbawa. Yang membantu proses identifikasi justru kawan-kawan sekolah Safaraz — sekitar delapan orang datang ke rumah sakit.

Guru dari SMPIT mengarahkan mereka masuk ke kamar jenazah, satu per satu diminta mengenali. Di situlah data mulai terkumpul, satu per satu nama ketiga korban berhasil dikenali.

Tribun: Proses selanjutnya berjalan lancar?

Alwani: Tidak langsung. Karena kejadian hari Minggu, dokter forensiknya tidak langsung ada. Kami menunggu cukup lama. Baru sekitar pukul 14.00 lebih, setelah semua ahli waris lengkap hadir, proses forensik selesai dan jenazah bisa diserahkan.

Tribun: Bagaimana proses pemakaman berlangsung?

Alwani: Saya sempat meminta agar Safaraz dimakamkan di area perumahan, di lahan keluarga. Tapi setelah dicek, lahan tersebut sudah penuh. Akhirnya kami mendapat lokasi pemakaman yang bagus, Alhamdulillah.

Yang membuat hati saya sedikit tenang, makam ketiga anak itu berdekatan. Seperti mereka yang selalu bersama semasa hidup, perginya pun bersama. Dimakamkan di tempat yang berdekatan.

Tadi saya sudah kembali ke sana untuk memastikan semuanya baik.

Tribun: Apa yang paling berat bagi Anda setelah kehilangan ini?

Alwani: Saya ini perantau. 13 tahun saya di sini, berjuang. Saya guru SD 016 Galang. Istri saya juga mengajar di sini. Semua yang kami lakukan, semua yang kami rencanakan rumah, sekolah, masa depan semuanya kami bayangkan bersama anak-anak.

Safaraz sudah besar. Saya sudah mulai bayangkan dia melanjutkan ke sekolah yang lebih baik. Alhamdulillah rezeki ada. Tapi sekarang. Yang saya pegang hanya ini: Safaraz anak yang baik. Dia pergi dengan cara yang baik. Dan dia pergi bersama sahabat-sahabat terbaiknya.

Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *