My WordPress Blog

Kasus Pelecehan Siswa SD oleh Guru di Balikpapan, Ayah Bocorkan Pengakuan Anak

Kasus Pencabulan oleh Oknum Guru di Balikpapan: Trauma yang Menyisakan Luka Mendalam

Kasus dugaan pencabulan oleh oknum guru di Balikpapan telah menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Orang tua salah satu korban mengungkapkan rasa terpukul dan kekecewaannya atas peristiwa yang menimpa anaknya, serta berharap proses hukum dapat berjalan tegas demi keadilan.

Ayah korban mengatakan bahwa perilaku oknum tersebut sangat disayangkan, karena seharusnya ia bertugas menjaga dan mendidik siswa di lingkungan sekolah. Ia merasa tidak menyangka bahwa kejadian seperti ini bisa terjadi pada anaknya. “Saya selaku orang tua korban betul-betul sangat shock. Terpukul dengan adanya kejadian seperti ini, terutama untuk keluarga saya, pribadi saya, dan anak-anak saya. Saya tidak menerima dan sangat kecewa sekali,” ujarnya.

Saat ini, kondisi anak korban masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Anak yang sebelumnya aktif dan ceria kini lebih banyak mengurung diri di rumah. “Untuk sekarang ini dia tidak mau beraktivitas seperti biasanya. Dia lebih banyak murung di rumah,” jelasnya. Perubahan sikap anaknya sangat terasa setelah kejadian itu terungkap. “Biasanya anaknya sangat ceria. Sekarang jadi tertutup, tidak mau keluar,” tambahnya.

Korban diketahui merupakan siswi kelas VI sekolah dasar yang saat ini berusia menuju 13 tahun. Orang tua korban mengatakan bahwa keluarga terus memberikan dukungan dan penguatan kepada anaknya. Namun, mereka belum mengetahui sejauh mana dampak trauma yang dialami anaknya. “Kami sebagai orang tua selalu menguatkan. Tapi dampak dan risikonya ke anak kami, kami tidak bisa menjamin sampai di mana tingkat traumanya,” katanya.

Korban Tidak Mau Masuk Sekolah

Ia menambahkan bahwa saat ini anaknya sudah sekitar satu minggu tidak mau masuk sekolah sejak kasus tersebut mencuat. “Sudah semingguan anak kami tidak mau masuk sekolah,” ungkapnya. Padahal, saat ini para siswa kelas VI sedang menjalani rangkaian persiapan ujian. Anaknya sempat mengikuti simulasi ujian, namun keluarga meminta agar kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di sekolah.

Hal itu dilakukan untuk menghindari tekanan psikologis yang mungkin muncul jika anak harus kembali ke lokasi kejadian. “Kami minta simulasi ujian tidak di sekolah. Itu berdasarkan kemauan anak kami, karena TKP-nya di sekolah dan kami tidak ingin dia mengingat kembali kejadian itu,” jelasnya. Ke depan, pihak keluarga berharap pelaksanaan ujian anaknya juga dapat dilakukan di luar sekolah demi menjaga kondisi psikologis korban. “Kami mengupayakan supaya ujiannya bisa di luar sekolah,” ujarnya.

Keluarga Harap Pelaku Dihukum Berat

Meski demikian, ayah korban mengaku sedikit lega karena pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. “Untuk sekarang ini kami mungkin sedikit lega karena pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tapi kami belum tahu dampaknya ke anak kami ke depannya seperti apa,” katanya. Ia mengatakan kemungkinan besar anaknya juga akan mendapatkan pendampingan psikologis. “Kemungkinan kami harus membawa anak kami ke pendampingan psikolog. Itu harus kami tempuh demi anak kami,” ujarnya.

Ayah korban juga mengungkapkan hingga saat ini belum ada permintaan maaf dari pihak keluarga pelaku. “Sampai sekarang belum ada permintaan maaf,” katanya. Menurutnya, pelaku layak mendapatkan hukuman seberat-beratnya karena korban dalam kasus ini tidak hanya satu orang. “Kalau menurut saya harus dihukum seberat-beratnya, karena korbannya bukan cuma satu,” tegasnya. Ia bahkan menyebut oknum tersebut diduga pernah dilaporkan sebelumnya pada tahun 2023, namun kasusnya tidak berlanjut ke kepolisian. “Historinya oknum ini sudah pernah dilaporkan pada 2023, tapi tidak sampai ke kepolisian dan hanya sampai di dinas,” ujarnya.

Pengakuan Korban kepada Orang Tua

Di lingkungan keluarga sendiri, ayah korban mengaku masih merahasiakan kasus tersebut dari anak-anak lainnya maupun keluarga besar. Hal itu dilakukan untuk menjaga kondisi psikologis keluarga. “Yang tahu hanya saya dan istri. Anak-anak yang lain tidak tahu. Kami sangat menjaga itu,” katanya. Ia juga menceritakan bagaimana anaknya pertama kali mengungkap kejadian tersebut kepada ibunya. Awalnya korban hanya bercerita sebagian karena takut kepada ayahnya. Namun setelah hasil visum keluar, barulah ayah korban menanyakan langsung kepada anaknya mengenai kejadian tersebut.

“Saat saya tanya, dia menjawab sambil menangis,” ujarnya. Mendengar pengakuan tersebut, ia mengaku sangat terpukul dan merasa hatinya hancur. “Perasaan saya sangat hancur. Teriris hati kami. Anak yang selama ini kami jaga dan sayangi dihancurkan oleh satu orang oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya. Berdasarkan pengakuan korban, perbuatan tidak pantas tersebut diduga terjadi berulang kali. “Pengakuan anak saya sudah lima kali,” ungkapnya. Saat ini keluarga juga memberikan pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas anaknya. “Kemanapun dia beraktivitas sekarang selalu saya dampingi. Pengawasannya sangat ekstra,” pungkasnya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *