Perang di Afrika Timur dan Kepentingan AS
Di tengah konflik antara Iran dan upaya memperkuat hubungan dengan Venezuela setelah penahanan presidennya, pemeraitan Donald Trump juga menjatuhkan sanksi terhadap militer negara kecil di Afrika Timur, yaitu Rwanda. Langkah ini menjadi bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menciptakan stabilitas di Republik Demokratik Kongo (DRC), khususnya di wilayah timur yang saat ini dikuasai oleh pemberontak yang didukung oleh Rwanda.
Keputusan ini juga mencerminkan kepentingan AS dalam mengamankan pasokan mineral kritis. Selain itu, langkah ini menandai perubahan besar dari beberapa dekade sebelumnya ketika AS relatif kurang memberi perhatian pada Afrika, terutama jika dibandingkan dengan China, rival geopolitik utamanya.
“Upaya membangun rantai pasok antara ekonomi terbesar dunia dan negara-negara yang memiliki cadangan mineral besar masih terbatas. Namun sejak Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu, dorongan untuk meningkatkan akses AS terhadap logam penting seperti tembuka meningkat pesat,” kata Antony Sguazzin and William Clowes dalam analisisnya di Bloomberg, Minggu (8/3).
Strategi Baru AS dalam Investasi Mineral
Strategi baru ini lebih menekankan kesepakatan tingkat negara dibandingkan perjanjian skala kecil. Contohnya, pada 2023, pemerintahan Joe Biden mengalokasikan USD 50 juta untuk proyek rare earth di Afrika Selatan. Meski demikian, realisasi rencana tersebut tetap membutuhkan tindak lanjut dan eksekusi yang kuat. Dalam jangka panjang, persaingan antara AS dan China berpotensi memicu gelombang investasi besar ke benua Afrika.
Kongo merupakan produsen tembaga terbesar kedua di dunia sekaligus sumber kobalt terbesar secara global. Negara ini juga sangat membutuhkan jaminan keamanan saat berupaya merebut kembali wilayah luas di bagian timur yang saat ini dikuasai pemberontak yang didukung Rwanda. Masih menjadi tanda tanya apakah Trump akan mengirim pasukan untuk terlibat dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga dekade tersebut. Namun ia telah memberi sinyal kuat dengan menjatuhkan sanksi terhadap militer Rwanda dan sejumlah pejabat tingginya atas dukungan terhadap kelompok pemberontak.
Perusahaan AS Berlomba-lomba Masuk
Sanksi dari Trump juga diiringi langkah perusahaan AS. Bulan lalu, konsorsium yang mencakup Orion Resource Partners yang berbasis di New York serta Development Finance Corporation milik pemerintah AS menandatangani kesepakatan bernilai miliaran dolar untuk membeli 40 persen saham mayoritas Glencore di dua tambang tembaga-kobalt di Kongo. Pada waktu yang hampir bersamaan, Virtus Minerals, yang dipimpin oleh para veteran militer dan intelijen AS, juga mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi produsen tembaga dan kobalt lain di Kongo.
AS juga tetap mendukung inisiatif era Biden untuk mendanai Koridor Lobito, jalur kereta yang sedang direvitalisasi untuk mengangkut mineral dari tambang di Kongo dan Zambia menuju pantai Atlantik Angola, yang lebih dekat ke AS dibandingkan pelabuhan di Afrika Timur dan Selatan yang selama ini digunakan oleh perusahaan tambang.

Perluasan Kepentingan AS di Afrika
Perhatian baru AS ini juga tidak hanya berfokus pada Kongo. Pemerintahan Trump juga membahas kesepakatan mineral dengan sejumlah negara Afrika lain, termasuk Zimbabwe. Sementara itu, Koridor Liberty merupakan proyek jalur kereta dan pelabuhan yang memungkinkan perusahaan AS yang didukung miliarder tambang Robert Friedland mengekspor bijih besi dari pegunungan Guinea ke Amerika Serikat melalui Liberia.
Ketertarikan AS terhadap Koridor Lobito dan Liberty sebenarnya sudah dimulai pada masa pemerintahan Joe Biden. Namun di bawah Trump, tampaknya ada dorongan lebih kuat untuk mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut. Meski begitu, pemerintahannya kemungkinan masih akan menghadapi tantangan besar.

Dominasi China di Afrika
China saat ini memiliki cengkeraman kuat atas banyak sumber daya Afrika, menguasai sebagian besar produksi tembaga dan kobalt di Kongo serta industri lithium di Zimbabwe. Pada 2024, nilai perdagangan Kongo dengan China mencapai USD 28 miliar, jauh melampaui perdagangan dengan AS yang hanya sekitar USD 1,6 miliar. Perusahaan China juga menyumbang sekitar 80 persen dari total produksi tembaga Kongo tahun lalu.
Di seluruh Afrika Sub-Sahara, nilai perdagangan tahunan China mencapai sekitar USD 200 miliar, empat kali lipat dari AS. Rantai pasok yang menghubungkan tambang di Afrika dengan kilang dan pabrik di China memberikan Beijing keunggulan besar. Baik itu lithium di Zimbabwe, bauksit di Guinea, maupun tembaga dan kobalt di Kongo, perusahaan-perusahaan China mendominasi sektor tersebut.

Tantangan untuk AS
Kesepakatan besar dan perjanjian kerja sama memang penting. Namun untuk benar-benar mengubah keseimbangan setelah bertahun-tahun investasi dan pembangunan hubungan oleh China, AS perlu meningkatkan upayanya secara signifikan selama bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun, ke depan.

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











