Houthi Yaman Sambut Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Kelompok bersenjata Houthi di Yaman menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, yang dianggap sebagai kemenangan bagi Revolusi Islam. Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ulama (Assembly of Experts) setelah wafatnya Ali Khamenei, ayah dari Mojtaba, dalam serangan militer di Teheran pada 1 Maret 2026.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui Telegram, Houthi menyebut pengangkatan Mojtaba sebagai momen penting bagi Republik Islam Iran dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Mereka menilai bahwa penunjukan tersebut adalah “kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam”, yang mereka anggap sebagai negara-negara yang berkonflik dengan Iran, termasuk Amerika Serikat dan Israel.
Pengangkatan Mojtaba menjadi pertama kalinya kepemimpinan Iran berpindah dari ayah ke anak sejak revolusi 1979, sehingga memicu perdebatan tentang kemungkinan terbentuknya sistem dinasti di Iran. Sebelumnya, kepemimpinan Iran tidak pernah diwariskan secara langsung dalam lingkaran keluarga. Setelah revolusi, posisi pemimpin tertinggi dipegang oleh Ruhollah Khomeini, lalu dilanjutkan oleh Ali Khamenei setelah wafatnya Khomeini pada 1989.
Reaksi Masyarakat Iran terhadap Pemimpin Baru
Di dalam negeri Iran, pengumuman penunjukan Mojtaba Khamenei memicu berbagai reaksi masyarakat. Sejumlah warga terlihat berkumpul dan bersorak ketika kabar tersebut diumumkan. Pengangkatan ini menandai babak baru dalam politik Iran setelah terbunuhnya Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, yang menjadi titik awal eskalasi konflik besar antara Iran dan kedua negara tersebut.
Mojtaba Khamenei dipilih oleh Assembly of Experts, lembaga ulama yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Iran. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, majelis tersebut mengatakan bahwa Mojtaba dipilih melalui “pemungutan suara yang menentukan”. Mereka juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk menjaga persatuan nasional di tengah situasi politik dan keamanan yang sensitif.
Majelis tersebut secara khusus meminta dukungan dari kalangan elit, ulama, serta akademisi dari seminari dan universitas agar membantu menjaga stabilitas negara. Setelah pengumuman tersebut, berbagai lembaga negara Iran langsung menyatakan dukungan kepada pemimpin baru. Pimpinan angkatan bersenjata Iran dilaporkan telah menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei. Dukungan juga datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran yang menyatakan siap mengikuti kepemimpinannya.
Ketua parlemen Iran bahkan menyebut mengikuti kepemimpinan Mojtaba sebagai “kewajiban agama dan nasional”, menandakan konsolidasi cepat di dalam struktur kekuasaan negara. Kepala keamanan nasional Iran juga menyatakan bahwa pemimpin baru tersebut memiliki kemampuan untuk memandu negara melewati masa yang penuh tekanan, terutama di tengah konflik militer dan tekanan internasional.
Potensi Dinasti Politik Pertama di Iran Pasca Revolusi
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran memunculkan perdebatan luas di kalangan analis politik dan pengamat Timur Tengah. Langkah ini dinilai sebagai momen yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Iranian Revolution, ketika sistem monarki di Iran digulingkan dan digantikan dengan Republik Islam.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah republik tersebut, posisi pemimpin tertinggi berpindah langsung dari ayah kepada anak. Sebelumnya, kepemimpinan Iran tidak pernah diwariskan secara langsung dalam lingkaran keluarga. Setelah revolusi 1979, posisi pemimpin tertinggi pertama dipegang oleh Ruhollah Khomeini, kemudian dilanjutkan oleh Ali Khamenei setelah wafatnya Khomeini pada 1989.
Karena itu, munculnya Mojtaba sebagai penerus langsung dari ayahnya memicu kekhawatiran tentang kemungkinan terbentuknya pola kepemimpinan dinasti di Iran. Negara tersebut pada dasarnya didirikan untuk mengakhiri sistem pemerintahan turun-temurun setelah menggulingkan kekuasaan Shah pada 1979.
Sejumlah pengamat menilai situasi ini berpotensi menimbulkan konsentrasi kekuasaan di dalam lingkaran keluarga dan elite politik tertentu. Sementara para kritikus mengklaim bahwa jika kekuasaan tertinggi mulai diwariskan secara tidak langsung di dalam keluarga, hal itu bisa bertentangan dengan semangat awal revolusi yang menolak monarki.
Di sisi lain, para pendukung Mojtaba Khamenei berpendapat bahwa kehadirannya justru dapat menjaga kesinambungan ideologi Republik Islam. Mereka menilai Mojtaba memahami secara mendalam garis politik yang dirintas oleh Ruhollah Khomeini dan dilanjutkan oleh Ali Khamenei selama lebih dari tiga dekade.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba juga dikenal sebagai figur berpengaruh di balik layar dalam lingkaran kekuasaan Iran. Ia disebut memiliki peran penting dalam mengelola akses politik ke kantor pemimpin tertinggi ketika ayahnya masih berkuasa. Selain itu, sejumlah analis menilai kekuatan politik Mojtaba turut didukung oleh hubungan dekatnya dengan kalangan ulama konservatif serta Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran.











