My WordPress Blog

Pesan Terakhir di Selat Hormuz, Nelayan Sulawesi Selatan Hilang

Kapten Miswar Hilang Kontak di Selat Hormuz

Di rumah sederhana di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, suasana tidak lagi seperti biasanya. Telepon genggam terus diperiksa, seolah menunggu kabar yang tak kunjung datang. Kapten Miswar, pelaut asal Sulawesi Selatan yang menakhodai kapal tugboat Mussafah 2, dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Hormuz, Iran, satu di antara jalur pelayaran paling sibuk di dunia.

Selat Hormuz dengan lebar sekitar 33 kilometer, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Perairan tersebut dikenal sebagai jalur pelayaran internasional yang dilewati oleh kapal pengangkut minyak. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melalui selat ini setiap hari.

Kabar tentang hilangnya Kapten Miswar sampai ke keluarga pada Jumat (6/3/2026). Sejak saat itu, kecemasan menyelimuti rumahnya. Informasi awal diperoleh dari rekan kerjanya, Capten Ismail. Katanya, kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut.

Beberapa hari sebelumnya, Miswar masih sempat menghubungi istrinya. Percakapan terakhir terjadi pada Rabu (4/3/2026). Dalam panggilan tersebut, ia mengatakan sedang menjalankan misi membantu kapal lain yang disebut-sebut lebih dulu terkena ranjau di perairan Selat Hormuz. Namun, dalam percakapan itu juga terselip kegelisahan. Miswar sempat mengeluhkan gangguan pada sistem navigasi kapal.

“Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan,” kata Sumarlin Ahmad (41), kerabat keluarga, saat ditemui Tribun-Timur.com, Sabtu (7/3/2026) di kediaman Kapten Miswar, Kelurahan Pattedong, sekitar 25 kilometer dari Ibukota Luwu, Kota Belopa.

Setelah itu, komunikasi mulai terputus-putus. Anaknya masih sempat mencoba mengirim pesan singkat pada Kamis (5/3/2026) siang. Namun pesan itu tidak pernah mendapat balasan. Sejak saat itu, kabar dari sang kapten tak lagi terdengar.

Di rumahnya di Pattedong, kerabat dan kolega mulai berdatangan. Mobil silih berganti berhenti di depan rumah yang berada di pinggir jalan poros Makassar–Palopo. Semua datang dengan pertanyaan yang sama: apakah sudah ada kabar?

Seorang warga, Jasri, mengingat perjalanan terakhirnya bersama Miswar sebelum berangkat bekerja ke luar negeri. “Waktu itu kami satu mobil charter ke Makassar. Saya sama Capten Miswar dan satu kemenakan istrinya,” ujarnya. Menurut Jasri, Miswar dikenal sebagai pelaut berpengalaman. Ia merupakan alumnus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar angkatan ke-15.

Kapal tugboat Mussafah 2 yang ia nahkodai biasanya hanya bertugas memandu kapal besar keluar masuk pelabuhan Abu Dhabi. Namun kali ini misinya berbeda. Perjalanan menuju lokasi kejadian di Selat Hormuz disebut sebagai rute terjauh yang pernah ditempuh kapal tersebut. “Dari pelabuhan Abu Dhabi sekitar satu hari perjalanan baru sampai ke lokasi,” kata Sumarlin.

Kini keluarga hanya bisa menunggu. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disebut telah menghubungi keluarga untuk meminta data lengkap Kapten Miswar sebagai bagian dari koordinasi pencarian. “KBRI sudah menelepon. Katanya setiap perkembangan informasi akan disampaikan ke kami,” ujar Sumarlin.

Di ruang tamu rumah itu, percakapan para kerabat sering terhenti oleh bunyi notifikasi telepon. Semua berharap satu hal, kabar baik dari Selat Hormuz, bahwa sang kapten masih bisa kembali pulang.

Dilaporkan kru kapal Musafa 2 yang ditumpangi Kapten Miswar berisi tujuh orang crew. Di antaranya: Capt Miswar, Capt Yan rano djama, Chief Engineer Sirajuddin, Able-Bodied Abdul Salam. Ditambah Able-Bodied asal India dua orang, dan Oiler asal Filipina satu orang.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *