My WordPress Blog

Mojtaba Ali Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Perlawanan Amerika-Israel Berkembang

Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Akhirnya, Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara Israel beberapa hari lalu, kini terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Laporan ini disampaikan oleh Iran International pada 3 Maret, dan menunjukkan bahwa keputusan tersebut dibuat di bawah tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Informasi ini dikutip oleh media pada Rabu, 4 Maret 2026.

Majelis Pakar yang terdiri dari 88 anggota telah berkumpul secara daring untuk memilih pengganti, sebuah pertemuan yang juga dilaporkan oleh CNN. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel menyerang sebuah gedung di Qom tempat sidang parlemen akan diadakan. Seorang juru bicara militer Israel menyatakan bahwa dampak serangan tersebut masih sedang dinilai, meskipun Fars mengklaim tidak ada pertemuan di gedung tersebut pada saat serangan terjadi.

Reuters menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai seorang konservatif garis keras seperti ayahnya, yang secara terbuka mendukung kebijakan keras terhadap lawan rezim dan musuh eksternal. Ia dikenal sebagai ulama tingkat menengah yang belum pernah memegang jabatan pemerintahan formal, tetapi diyakini memiliki pengaruh di balik layar dalam aparatur politik dan keamanan Iran serta memiliki hubungan dekat dengan Pasukan Quds IRGC. AS menjatuhkan sanksi kepadanya pada tahun 2019.

Dalam laporannya, CNN mencatat bahwa pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak tidak diterima secara luas di kalangan ulama Syiah, khususnya di Iran pasca-revolusi. Majelis Ahli dilaporan Iran International, Rabu (4/3/2026), telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Mojtaba adalah putra dari Ayatollah Ali Khamanei.

Laporan Iran International mengutip sumber menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba atas tekanan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memastikan bahwa Majelis Ahli akan berkumpul pada Ahad (1/3/2026) dan memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang syahid.

Menurut pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya. “Majelis Ahli akan bersidang hari ini dan prosesnya akan dimulai,” ucap Larijani, menambahkan.

Khamenei telah menjadi pemimpin Republik Islam sejak tahun 1989, satu dekade setelah ia meraih ketenaran selama revolusi teokratis yang berhasil menggulingkan monarki di sana dan mengguncang Timur Tengah. Sekarang, jika klaim tentang kematiannya benar, Iran akan mendapatkan Pemimpin Tertinggi yang baru.

Mojtaba Khamenei adalah seorang ulama yang dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam. Berikut alasan mengapa ia kemungkinan besar bukan penerus Ali Khamenei.

Biaya Perang Melawan Iran: Rp 109 Miliar per Hari

Perang besar yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menyebabkan pemborosan dana dalam jumlah yang sangat besar. Pada 28 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi melalui video di platform Truth Social bahwa AS telah terlibat dalam “operasi tempur besar” di Iran, yang dinamakan Operasi Epic Fury.

Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, serta untuk menghancurkan infrastruktur rudal mereka. Sejak dimulai pada hari Sabtu, lebih dari 1.250 target di Iran telah dihancurkan, termasuk fasilitas nuklir dan fasilitas militer utama.

Serangan ini melibatkan berbagai sistem senjata canggih dari AS dan Israel, mulai dari pesawat pembom B-1 dan B-2, jet tempur F-35 dan F-22, hingga pesawat perang elektronik EA-18G Growler. Selain itu, sistem pertahanan rudal seperti Patriot dan THAAD juga dikerahkan untuk menghadang serangan balik dari Iran.

Buntut serangan yang dilakukan AS dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan terhadap kediamannya. Hingga Senin, jumlah korban tewas di Iran telah mencapai 555 orang, menurut Bulan Sabit Merah Iran.

Estimasi Biaya Perang: Rp 109 Miliar per Hari

Akan tetapi serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan pemborosan dana yang sangat besar. Biaya operasional dari kampanye militer ini diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Pengeluaran tersebut mencakup biaya senjata, peralatan militer, dan juga pengeluaran untuk mendukung pasukan yang terlibat dalam konflik.

Selain itu, penggunaan persenjataan canggih yang intensif turut meningkatkan potensi pemborosan sumber daya negara. Biaya yang dikeluarkan AS untuk mendukung perang ini sangat tinggi. Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, total pengeluaran AS terkait operasi ini diperkirakan mencapai antara 31,35 miliar dolar AS hingga 33,77 miliar dolar AS sejak dimulai pada Oktober 2023.

Untuk Operasi Epic Fury, diperkirakan AS menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama, dengan biaya tambahan sebesar 630 juta dolar AS untuk logistik dan mobilisasi pasukan. Sementara biaya operasional harian sebuah kapal induk seperti USS Gerald R. Ford diperkirakan sekitar 6,5 juta dolar AS, sedangkan serangan menggunakan rudal Tomahawk bisa menelan biaya hingga 1-2 juta dolar AS per unit.

Jika operasi ini berlanjut dengan intensitas tinggi, AS bisa menghabiskan sekitar Rp 109 miliar per hari untuk mendanai operasi militer di kawasan Timur Tengah.

Masalah Persediaan Senjata: Risiko Bagi AS

Meskipun AS memiliki anggaran pertahanan yang besar, para analis memperingatkan bahwa persediaan senjata canggih terutama rudal pencegat seperti Patriot dan THAAD adalah titik lemah yang berpotensi mengancam keberlanjutan operasi. Christopher Preble, analis dari Stimson Center, menjelaskan bahwa senjata-senjata ini tidak dapat diproduksi dengan cepat. Rudal pencegat seperti Patriot dan SM-6, yang digunakan untuk menghadang serangan rudal balistik, membutuhkan waktu produksi yang lama dan sangat mahal.

Selain itu, Iran dapat memproduksi hingga 100 rudal per bulan, sedangkan AS hanya mampu memproduksi sekitar 6 hingga 7 pencegat dalam periode yang sama. Ketidakseimbangan ini dapat melemahkan efektivitas pertahanan AS dalam perang jangka panjang, terutama jika serangan datang dalam jumlah besar dan terkoordinasi.

Para ahli juga mengkhawatirkan bahwa senjata-senjata ini dialokasikan untuk medan pertempuran lain, seperti di Ukraina dan Indo-Pasifik, yang semakin membatasi ketersediaan persediaan bagi AS di Timur Tengah. Preble memperingatkan, tanpa solusi logistik yang memadai, kehilangan persediaan senjata bisa menjadi masalah besar bagi AS jika perang berlangsung lebih lama.

Jika situasi ini tidak diatasi dengan peningkatan kapasitas produksi atau solusi logistik lainnya, AS berisiko terjebak dalam perang yang tidak hanya mahal secara ekonomi, tetapi juga bisa melemahkan posisi militernya secara global.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *